
Kalau bukan Suiren yang menemukan Naois sedang memilih-milih buku dari rak usang di toko buku tempatnya pertama kali bertemu dengan Tia, ia mungkin akan menganggap Naois sebagai penguntit. Ia tidak menyangka bahwa ia akan sesering itu bertemu dengan laki-laki ini.
"Sir Naois!" panggil Suiren. "Sepertinya kita sering bertemu akhir-akhir ini."
Naois terlihat kaget dengan sapaan Suiren kemudian menyunggingkan senyum ceria di bibirnya. "Kurasa kita berjodoh."
"Kalau Lasy Narcissus mendengar anda berkata seperti itu, kurasa ia akan membatalkan pesta pernikahannya." Suiren mencoba menepis ujaran Naois tadi.
Naois hanya tertawa kecil. "Apakah Duke Wisteria menyukai rekomendasi yang saya berikan waktu itu?"
"Sangat dan sesuai dengan apa yang anda katakan waktu itu, Duke Wisteria tidak begitu menyukai pai apelnya. Jadi, saya ingin berterimakasih atas saran anda." balas Suiren.
Naois menganggukkan kepalanya, ia kemudian kembali memindai rak buku di hadapannya dan menyusuri buku demi buku dengan jemarinya.
Suiren berjalan melewati Naois dan menuju rak buku yang berisi buku fiksi. Ia menelusuri judul satu persatu dan sesekali mengeluarkan buku dari raknya untuk melihat apabila sampul buku tersebut cukup menarik bagi Suiren untuk ia beli.
Ia kemudian meandaskan pilihannya pada sebuah buku bersampul biru tua dari beludru dan membawanya ke kasir untuk melakukan pembayaran.
"Totalnya empat puluh lima crest." ujar penjaga toko.
Suiren merogoh kepingan emas dari dompet kecilnya dan membayarkan sejumlah uang sesuai dengan harga buku tersebut.
Disampingnya, Naois meletakkan buku bersampul cokelat. Sepertinya bukan buku fiksi.
Suiren tidak bisa tidak melihat bekas memar dan cakaran berbentuk bulan sabit yang melingkari bergelangan tangannya. Matanya membelalak melihat bekas memar itu.
"Sir Naois... apakah memar itu disebabkan oleh pengawal saya beberapa hari yang lalu?" tanya Suiren dengan wajah bersalah.
Naois cepat-cepat menutupi bekas memar itu dengan menarik bagian lengan kemejanya untuk menutupi pergelangan tangannya. "Ini bukan apa-apa, Lady Themisree." ia tersenyum canggung kepada Suiren.
Naois tidak menyangkal perkataan Suiren, itu artinya apa yang ada dipikirannya benar.
"Tolong, izinkan saya untuk setidaknya memberikan permintaan maaf kepada anda!" Suiren menatap mata emas Naois dengan harapan.
Naois menggaruk kepalanya sembari tertawa canggung. "Sungguh, saya tidak apa-apa, Lady Themisree."
"Bagaimana kalau kita bertemu di pusat kota esok hari? Saya ingin melakukan sesuatu untuk membuat anda merasa lebih baik."
Naois melambaikan kedua tangannya dihadapan Suiren, mengisyaratkan bahwa Suiren tidak perlu berlaku sejauh itu. "Ti-tidak, saya benar-benar tidak apa-apa, Lady Themisree."
"Saya akan menunggu anda di cafe tempat kita bertemu kedua kalinya. Semoga anda akan mau menemui saya dan menerima permintaan maaf saya di hari itu." Suiren kemudian mengambil buku yang telah ia bayar dan membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Setelah itu ia berjalan melewati Naois untuk keluar toko buku.
Ia tidak bisa mengajak Naois untuk makan hari ini karena ia memiliki janji dengan Madame Rosalind untuk masalah pengukuran tubuh terkait untuk gaun yang akan ia pakai ke acara pernikahan putri Marquess Narcissus. Sehingga ia harus kembali ke kediaman Wisteria secepat kilat.
__ADS_1
Ia benar-benar berharap agar Naois akan muncul esok hari, agar ia tidak perlu merasa berhutang budi lagi kepadanya.
*****
Entah bagaimana, sosok Madame Rosalind bisa tepat sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh Suiren dikepalanya.
Tubuh tinggi dan langsing, bibir penuh semerah darah dan tahi lalat di bawah mata kanannya. Bola mata biru gelapnya seakan-akan menelan Suiren ketika ia menatapnya, dan rambut hitamnya yang memiliki semburat abu di akarnya menambah penampilan elegannya. Benar-benar terlihat seperti seorang desainer papan atas.
Gayanya berjalan menandakan kepercayaan diri yang tinggi, seakan-akan lantai yang dipijaknya bersyukur telah dipijak olehnya.
"Tunangan Duke Wisteria terlihat seperti kelinci kecil yang sangat manis!" Pekiknya ketika melihat Suiren. Ia memindai tubuh Suiren dari atas kebawah dengan mata biru gelapnya.
"Senang bertemu dengan anda, Madame Rosalind." Ucap Suiren.
Madame Rosalind menyunggingkan senyum sempurnanya yang berbentuk hati. Ia kemudian menjentikkan jarinya kearah dua orang asisten yang mengikutinya dari belakang.
"Imelda! Kau ukur tubuh bagian atas." Ujarnya kepada seorang gadis berambut pendek. "Silvana! Kau ukur tubuh bagian atas!"
Kedua orang itu bergegas mengerubungi Suiren dan mulai mengukur tubuh suiren dengan pita pengukur.
Madame Rosalind berjalan mendekati Suiren dan menatap kedua mata Suiren dengan lama. "Bola mata yang sangat cantik dan rambut yang sangat indah! Anda akan terlihat cantik dengan gaun berwarna emas!"
Suiren hanya tersenyum.
"Sudah selesai, Madame." Kedua asisten Madame Rosalind memberikan catatan ukuran tubuh kepada sang madame.
"Baiklah, saya akan membuatkan anda gaun bernuansa perak, sesuai dengan rambut anda. Anda tidak akan mencuri panggung pemilik acara, tetapi gaun itu cukup akan membuat semua orang menoleh setidaknya dua kali."
"Saya akan menyerahkan semuanya kepada anda, Madame Rosalind." Suiren kemudian membungkukkan dirinya dan memberi hormat kepada sang madame
Setelah itu Madame Rosalind pergi dari kediaman Wisteria. Ia adalah sosok yang sangat sibuk sehingga setiap detik adalah waktu yang sangat berharga untuknya.
Setelah Madame Rosalind dan para asistennya pergi, Suiren menghela napas dan duduk di pinggir tempat tidurnya. "Haaa... itu tadi lima belas menit tercepat dalam hidupku."
Tok. Tok. Tok. Selang sepuluh menit setelah Madame Rosalind meninggalkan ruang tidur Suiren, seseorang mengetuk pintu ruang tidurnya.
"Masuk."
Kyrie memasuki ruangan. Ia masih berpakaian lengkap.
"Apakah pekerjaanmu hari ini sudah selesai?" Tanya Suiren.
Kyrie mengangguk. "Aku ingin bertemu denganmu sebentar."
__ADS_1
Suiren tertawa. "Nanti kan kita akan makan malam bersama."
"Aku tahu, aku hanya ingin melihatmu."
Mendengar itu, pipi Suiren terasa panas. Ia tidak perlu pergi ke depan kaca untuk melihat wajahnya, tetapi ia yakin seratus persen wajahnya saat ini sedang merah merona.
Ketika Kyrie berjalan mendekat, Suiren bisa melihat pipi bagian kiri Kyrie terlihat lebih merah dari pipi sebelah kanannya. Kalau kedua pipinya merah, mungkin Suiren akan mengira kalau Kyrie sedang merona. Tetapi sepertinya bukan itu masalahnya.
"Apa yang terjadi dengan pipimu?" Tanya Suiren.
Kyrie menyentuh bagian pipinya yang berwarna merah dengan jemarinya. "Aku... tertidur di ruang kerjaku dan pipiku terlalu lama menempel pada meja."
Kyrie duduk di samping Suiren, dan Suiren kemudian menyusuri pipi Kyrie dengan tangannya yang dingin.
"Ini sedikit memar..."
"..."
"Kyrie... apa ibumu melakukan ini?" Tanya Suiren. Wajahnya terlihat khawatir.
"Ini bukan apa-apa." Ujar Kyrie dengan senyum diwajahnya.
Suiren mengernyitkan dahinya. "Kau harus mulai belajar menunjukkan ekspresi wajahmu yang sebenarnya, Kyrie. Kau tidak bisa terus menerus menyembunyikan rasa sakitmu dengan senyuman."
Kyrie menatap Suiren lama. Perlahan, air mata keluar dari mata kirinya.
Suiren melupakan sebuah fakta penting yang ada di dalam novel, fakta kenapa ia begitu membenci akhir dari novel itu. Itu adalah karena Kyrie digambarkan sebagai orang dengan masa lalu yang sangat buruk tetapi bahkan dengan segala yang telah ia lalui, ia tidak mendapatkan akhir bahagianya. Itu membuat novelnya terasa tidak adil.
Kyrie, dengan segala sifat obsesifnya terhadap Serena, hanya tidak ingin orang lain merebut apa yang ia miliki. Ia hanya tidak ingin ditinggal sendiri di dalam kegelapan.
Ketika ia dan Serena pertama bertemu, Kyrie seolah-olah menemukan musim semi ditengah hidupnya yang seperti musim dingin. Itu sebabnya ia sangat mencintai Serena dengan segala kehangatan yang ia miliki.
Sekarang, sosok itu duduk dihadapan Suiren dan menatapnya seperti seorang yang sangat merindukan kehangatan. Ia datang ke ruang tidur Suiren, seperti seorang anak kecil yang mencari suaka ketika ia sedang mengalami hari yang buruk.
Suiren menjulurkan tangannya dan melingkari pundak Kyrie, ia menarik Kyrie mendekatinya dan memeluknya di dalam dekapannya. Ia tidak bisa menawarkan kehangatan yang sama dengan Serena, tetapi ia bisa menawarkan sedikit kenyamanan. Dan ia sedang mencoba melakukan hal itu sekarang.
Serena tidak mengatakan apapun. Tetapi ia mengelus kepala Kyrie dan membiarkan air mata Kyrie jatuh di pundaknya.
Serena teringat pada malam dimana Kyrie menceritakan bagaimana ia telah memutar balikan waktu. Pada waktu itu, Serena tidak mengetahui alasan mengapa Kyrie tidak memutarbalikan waktu sampai pada saat sebelum Ayahnya meninggal dunia. Sekarang, Suiren tahu jawaban atas pertanyaannya itu.
Kyrie memilih untuk tidak melakukan itu karena ia tidak akan kuat jika semua orang disekitarnya bersikap seolah-olah semua perilaku buruk yang ia terima seperti tidak pernah terjadi. Ia tidak sanggup hidup dalam kegelapan dan kesakitan lebih dari yang sudah ia alami.
Ia memilih jalan yang ia tempuh sekarang karena ia tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang mengingat sikap dingin dan kejam yang sudah ia terima setelah kematian Ayahnya.
__ADS_1