My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Keinginan sang Putra Mahkota


__ADS_3

Ketika kecil, Frederick tidak pernah menyadari bahwa kasih sayang Ibunya dapat menjadi duri di kehidupannya kelak. Bahkan saat ini, ia merasa kasih sayang yang diberikan Ibunya kepadanya hanya karena ia terlahir sebagai Putra Mahkota. Kalau saja ia bukan satu-satunya keturunan Ibunya, mungkin ceritanya akan berbeda.


Selama hidup ini, Frederick tidak pernah khawatir tentang apapun. Ketika ada masalah, Ibunya akan membereskannya. Baik itu dengan cara baik atau dengan cara yang tidak patut untuk dideskripsikan.


Ia bukanlah hanya seorang anak bagi Ibunya. Ia adalah pedang dan tameng yang akan membawa Ibunya ke posisi yang sangat tinggi sampai-sampai tidak akan ada orang yang bisa menyentuhnya.


Seperti ikan yang tidak pernah kenyang meminum air laut, Ibunya tidak pernah puas dengan segala kekuasaan yang ia miliki.


Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa pengaruhnya lebih besar daripada sang Kaisar sendiri. Bagaimanapun juga, Permaisuri Eleanor adalah sosok yang menaruh Kaisar Theodore Helianthus duduk di takhtanya. Seorang Kingmaker.


“Yang Mulia, Ibumu memanggilmu untuk minum teh bersamanya siang ini.” Claudia, salah satu pengawal pribadi Putra Mahkota Frederick Helianthus berkata. “Ia mengatakan bahwa ada hal yang harus ia sampaikan.”

__ADS_1


Setelah menerjang ruang kerja Ayahnya semalam, Frederick sama sekali belum mengunjungi ibunya. Bahkan ia seharusnya sarapan bersama kedua orang tuanya pagi ini, tetapi ia memutuskan untuk mangkir.


Tanpa memikirkan permintaan Ibunya terlebih dahulu, Frederick langsung menolak undangan minum teh itu. “Katakan kepadanya aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Aku harus pergi melihat keadaan pasukan militer di perbatasan dengan Kerajaan Ginryuu.”


Ia seharusnya tidak pergi ke perbatasan sampai esok hari, jadi sebenarnya ia masih memiliki waktu kosong untuk menghadiri jamuan teh bersama Ibunya.


“Ibumu mengetahui jadwalmu, Yang Mulia. Ia juga tahu kau akan menolak permintaannya, maka dari itu ia bertanya jika kau ingin memberi salam kepada Lady Serena Tagates.” Claudia dengan hati-hati mememberikan informasi ini.


“Ibu mengundang Lady Tagates untuk minum teh bersamanya?” Walau ia bertanya demikian, ia sebenarnya tidak ingin mengetahui jawabannya.


Claudia tidak menjawab pertanyaan tuannya itu. Ia hanya menatap Frederick dengan tatapan menyesal.

__ADS_1


“Haa…, apakah aku punya pilihan?” Frederick menjawab sambil mengeluarkan helaan napas panjang.


“Mungkin Permaisuri Eleanor tertarik dengan Lady Tagates.” Sambung Claudia. “Ia terlihat seperti sosok yang hangat dan ceria.”


Frederick tersenyum kecil. “Kau tidak perlu mencoba menghiburku, Claudia. Kita semua tahu, Ibu melakukan itu karena aku berulah semalam.”


Sebagian dari dirinya merasa menyesal telah lepas kendali atas emosinya tadi malam. Tetapi sebagian lagi merasa bahwa ia perlu untuk mengambil sikap atas perbuatan Ibunya yang selalu berbuat semena-mena.


Ia sendiri tidak tahu dari mana keinginan untuk menentang Ibunya ini tumbuh. Tetapi setelah bertemu dengan Serena Tagates hari itu, akhirnya ia menemukan seseorang untuk ia lindungi dengan kedua tangannya sendiri. Oleh sebab itu, ia bertekad untuk melindungi gadis pilihannya dari segala macam hal yang mungkin melukainya. Termasuk ibunya sendiri.


Selama ini Ibunya selalu bertindak untuk melindungi takhta, baik itu untuk melindungi Sang Kaisar dari ancaman terhadap takhtanya ataupun melindung dirinya dari segala ancaman yang menghambatnya untuk mengambil alih takhta. Jadi selama Serena Tagates tidak memenuhi kualifikasi itu, maka seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

__ADS_1


“Claudia, pimpin jalan menuju Rumah Kaca.” Frederick berkata sembari mengancingkan jas resmi berwarna putihnya. “Ada jamuan minum teh yang harus kuhadiri.”


__ADS_2