
Sudah seminggu semenjak terakhir kali Terry keluar dari kamar tidurnya. Ia mengurung diri di dalam kamarnya seperti seekor kura-kura bersembunyi di dalam tempurungnya.
Beberapa kali orang tuanya mengetuk pintu kamarnya dan memohon untuk diizinkan masuk ke dalam kamarnya tetapi ia tidak merespon sama sekali. Satu-satunya interaksi yang ia lakukan selama seminggu ini hanyalah dengan nampan yang berisi makanan dan minuman yang ditinggalkan oleh ibunya di depan pintu kamarnya. Walau begitu ia tidak memiliki nafsu makan sama sekali.
Sepertinya selama seminggu ini, ia sudah kehilangan banyak berat badan di tubuhnya. Bersamaan dengan hilangnya berat badannya, keinginannya untuk hidup juga perlahan menghilang.
Dari balik selimutnya Terry menatap kearah meja belajarnya. Fotonya dengan mantan kekasihnya masih terpajang didalam bingkai berwarna merah muda dengan hiasan bunga-bunga di setiap ujungnya.
‘Kenapa aku masih menyimpan foto itu?’ gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba, air matanya mengalir. Ia bahkan tidak berusaha mengeluarkannya tetapi air mata terjun bagaikan air hujan.
Hiks. Isaknya.
Ia membenamkan wajahnya didalam bantal untuk meredam suara tangisannya.
Tepat satu minggu yang lalu, kejadian yang tidak mungkin ia lupakan seumur hidupnya terjadi. Kejadian yang sangat memalukan sampai-sampai ia berharap ia bisa menghilang dari muka bumi ini.
‘aku ingin mati saja.’
Setelah selesai menangis, ia mengambil ponselnya dari meja di sampung tempat tidurnya dan membuka aplikasi chat untuk melihat apabila ada yang mengirimnya pesan selama satu minggu ini.
Ia melihat tujuh puluh sembilan pesan tak terbaca dari sahabatnya, Ella. Ia tidak membuka pesan itu, ia masih belum sanggup menghadapi siapapun. Bahkan jika itu sahabatnya sekalipun.
__ADS_1
Kemudian Terry menyelimuti sekujur tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya. Kepalanya begitu pening setelah menangis tadi.
KRAK!
Tiba-tiba kunci pintu kamarnya terbuka dengan keras dan langkah kaki tergesa-gesa muncul
dari baliknya.
“TERRY! KAU BERANI MENGABAIKAN PESAN YANG KUKIRIM SELAMA SATU MINGGU?” tanya suara familiar yang muncul dari balik pintu.
Suara Ella.
Harus Terry akui, bahwa sebenarnya ia sangat ingin berbicara dengan sahabatnya itu, tetapi ia merasa takut. Ia takut bahwa Ella akan berperilaku seperti orang lain ketika mengetahui skandalnya.
Kemudian Terry menarik selimut dan melemparkannya kearah lantai. Dari tatapan matanya, ia terlihat gusar sekaligus khawatir. Tatapan mata yang sama dengan tatapan matai bunya ketika ia pulang ke rumah melewati jam malam.
Melihat tatapan sahabatnya itu, Terry tidak sanggup menahan tangisnya.
Ella kemudian duduk di pinggir tempat tidur dan merangkul Terry ke dalam dekapannya.
“Menangislah. Aku ada disini.” Ucap Ella pelan. Ia kemudian mengelus kepala Terry dengan lembut.
“A-Aku minta maaf. Aku malu, itu sebabnya aku tidak menjawab pesanmu.” Disela isak tangisnya, Terry berkata.
__ADS_1
“Ya, kau seharusnya meminta maaf kepadaku. Apa yang kau pikirkan mengabaikanku selama satu minggu dan mengurung diri di kamar seperti ini? Jangan bilang kau pikir aku akan menjauhimu setelah apa yang menimpamu?”
Ella mengangguk kecil.
“Kau sudah gila. Kita sudah mengenal satu sama lain selama sebelas tahun, bahkan itu lebih dari setengah usia kita. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu sendirian?” Sembur Ella. Dari nada suaranya ia terlihat sangat gusar.
Kemudian Terry melepaskan dirinya dari pelukan Ella dan mengusap air mata dari wajahnya. Wajahnya terlihat berantakan sama seperti hatinya.
“Aku tidak mau kembali ke sekolah.” Terry berkata dengan tatapan ketakutan.
Ella terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara. “Aku sudah membuat Gerhard dikeluarkan dari sekolah.”
Terry menatap Ella dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu?”
“Selama satu minggu kau absen dari sekolah, aku telah menyelesaikan semua permasalahan. Walau aku tidak bisa membuat foto tanpa busanamu yang telah beredar hilang sepenuhnya, karena jejak digital tidak akan pernah hilang kecuali oleh waktu, tetapi aku telah menghancurkan akar permasalahannya, yaitu Gerhard.”
Ella menelan ludahnya. Setiap ia teringat akan foto tanpa busananya yang beredar di seluruh murid di sekolahnya dan tatapan merendahkan mereka ketika melihatnya, tubuhnya terasa beku. Foto tanpa busana yang ia kirimkan ke mantan kekasihnya atas dasar cinta. Betapa ia menyesali perbuatannya.
“Apakah Gerhard benar-benar telah keluar dari sekolah?” Terry memastikan.
Ella mengangguk. “Kau tidak ingin tahu bagaimana kau bisa mengeluarkannya dari sekolah?”
Terry mengangguk kecil. “Bagaimana kau melakukannya?”
__ADS_1
Ella kemudian memberi seringai lebar. Dia terlihat bangga dengan dirinya sendiri. “Aku menjebaknya.”