
"HUAAAAAA!!!! HIKS...HIKS....!!!!" Reina terduduk di tanah dengan kepala yang dibenamka di atas pangkuan Suiren. Ia menagis sampai bagian bawah gaun Suiren menjadi basah.
"A-Anda harus berjanji bahwa anda akan menjaga diri anda dengan baik, Lady Suiren!" Reina berkata disela isak tangisnya.
Suiren menatap pelayan pribadinya dengan tatapan sedih. Tangannya mengelus kepala Reina dengan lembut. "Aku sangat berharap kau bisa ikut denganku, Reina."
"Aku tahu anda telah bertunangan dengan Duke Wisteria, tetapi ini terlalu cepat!" Suara Reina meredam karena ia menempelkan wajahnya di pangkuan Suiren.
Suiren hanya tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan pelayan yang telah menemaninya selama sebelas tahun ini.
Dari pojok tenda dekat dengan pintu masuk, Gilbert berdiri sembari menatap pemandangan dihadapannya ini dengan tatapan sedih. ia mungkin baru menjadi pengawal pribadi Suiren selama sepuluh tahun, tetapi ia sudah menganggap Suiren sebagai adiknya sendiri. Melepas kepergian Suiren ke tangan seorang laki-laki yang tiba-tiba ini membuatnya sedikit merasa pesimis. Apalagi laki-laki itu adalah seorang Duke yang terkenal dengan sikap arogan dan tiraninya di utara.
"Lady Suiren, sepertinya Ayahmu sudah menunggu bersama Duke Wisteria." ujar Gilbert setelah mengintip keluar tenda.
Suiren menarik napas dalam-dalam dan kemudian melepaskannya. Ia kemudian berjalan menuju luar tenda. Benar saja, Ayahnya dan tunagannya sedang berbincang-bincang di dekat lapangan tempat berlatihnya para Ksatria.
"Ayah." panggilnya.
Kedua laki-laki yang tadinya berbincang menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Apa Ayah benar-benar tidak akan mengizinkan Reina untuk ikut bersamaku ke Birmin?" tanya Suiren dengan wajah memelas.
Ayahnya tidak menjawab pertanyaannya, karena ia sudah berkali-kali mengatakan kepada Suiren bahwa ia tidak boleh membawa Reina bersamanya.
"Mengapa Ayah tidak mengizinkannya ikut denganku?"
Ayahnya lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya itu seolah-olah pertanyaan itu hanya dilotarkan karena iseng saja.
"Kau tidak perlu khawatir, Lady Suiren. Kediaman Wisteria memiliki banyak pelayan dan aku juga akan menugaskan seorang pelayan dan pengawal pribadi untukmu nanti." Kyrie menjawab pertanyaan Suiren. Mencoba membuat Suiren tidak terlalu khawatir dengan masa depannya.
Suiren menatap Kyrie dengan wajah kesal. "Memangnya aku bertanya kepadamu?"
"Bisakah kau tidak tersenyum menyebalkan seperti itu, senyumanmu membuat bulu kudukku berdiri."
Jenderal Themisree hanya menatap tingkah dua orang dihadapannya ini dengan gelengan kepala. "Kalau begitu, sebaiknya kalian pergi lebih dulu. Aku akan menyelesaikan urusan dengan pasukan Kerajaan Ginryuu lalu kembali ke Ibukota."
Suiren kemudian berlari kearah Reina dan memeluknya. Lalu ia beranjak untuk memeluk Gilbert dan terakhir ia memeluk Ayahnya. "Aku akan merindukan kalian." ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Reina mencoba dengan keras untuk menahan isak tangisnya sedangkan Gilbert menatap Suiren dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Sampaikan salamku untuk Ibumu, Duke Wisteria." ujar Ayahnya kepada Kyrie.
Kyrie hanya mengangguk.
Setelah itu Kyrie menuntun Suiren dan berjalan menuju kereta kuda yang terparkir di jalanan keluar dari perkemahan pasukan Kekaisaran.
Sebelum Kyrie mempersilahkan Suiren untuk naik ke dalam kereta kuda, Suiren sudah lebih dulu menaikinya. Ia mengambil kursi yang menghadap ke arah kusir dan menyisakan kursi yang membelakangi kusir untuk Kyrie.
"Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang cukup canggung." gumam Kyrie sembari menaiki kereta.
Setelah itu kereta berjalan. Dari jendela Suiren bisa melihat Ayahnya, Gilbert dan Reina melambaikan tangan kearahnya. Suiren memutuskan untuk tidak membalas lambaian tangan mereka dan melihat kearah bawah kereta. Ia memainkan jarinya sembari berusaha keras menahan isak tangis.
Kyrie memperhatikan dari ujung matanya. Setelah itu ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyodorkannya kepada Suiren.
Suiren menatapnya dengan tatapan kesal tetapi ia kemudian meraih sapu tangan milik tunangannya dan mengalihkan pandangannya kearah jendela. Saat ini mereka sudah keluar melewati kawasan perkemahan pasukan Kekaisaran menuju wilayah Utara.
Ketika Suiren memutar kepalanya untuk melihat keadaan sekitar, ia mendapati bahwa Kyrie sudah dalam posisi memejamkan matanya. Ia jatuh tertidur secepat ia mengedipkan matanya, benar-benar sebuah talenta.
Setelah memastikan Kyrie sudah tertidur, Suiren tidak kuasa menahan tangisnya. Air matanya mengalir dari kedua matanya. Ia benar-benar akan merindukan keluarganya.
__ADS_1