My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Kisah Kaen Ginryuu


__ADS_3

Karena Suiren belum minum air sama sekali, tubuhnya terasa lemas. Ia nyaris tidak kuat menjaga kedua matanya untuk tetap terbuka.


“Bagaimana kau bisa bertahan selama ini tanpa meminum air?” tanya Suiren mencoba menghilangkan perasaan kantuk di dalam dirinya.


“Siapa yang bilang kalau aku tidak minum selama ini?” balas Kaen.


Suiren memberikan tatapan bingung.


“Sebagai seorang pangeran yang menempati urutan kedua dalam takhta kerajaan, banyak yang mencoba meracuniku. Kebanyakan dari mereka berasal dari faksi yang menganggap bahwa aku adalah penghalang bagi saudara tertuaku untuk naik takhta. Jadi, aku bangga mengatakan bahwa aku kebal terhadap obat-obatan dan racun.” Kaen kemudian menjelaskan.


Suiren meringis. Selama ini ia pikir menjadi bagian dari keluarga kerajaan adalah hal yang menyenangkan, tetapi ternyata tidak.


“Apakah orang-orang itu merupakan suruhan saudara tertuamu?” tanya Suiren.

__ADS_1


Kaen menggeleng dan tersenyum. Senyumannya terlihat lembut. Seolah-olah ia mengingat hal yang menyenangkan.


“Saudaraku, Izana, bukanlah anak yang lahir dari rahim seorang Permaisuri melainkan dari Rahim seorang selir. Tetapi terdapat aturan di Kerajaan Ginryuu bahwa urutan takhta itu berdasar pada urutan kelahiran, sebagai keturunan pertama maka Izana lah yang berhak atas takhta kerajaan.” Ceritanya.


“Kalau harus berkata jujur, Izana juga bukan orang yang pandai memimpin dan orang-orang di Kerajaan Ginryuu menyadari hal itu. Mereka mengatakan bahwa satu-satunya hal baik yang dimiliki oleh Izana adalah kebaikannya. Tetapi didalam memimpin, kebaikan itu tidak relevan.”


“Empat tahun setelah Izana lahir, Permaisuri melahirkan aku dan saudari kembarku. Saudari kembarku lahir dua menit sebelum aku, tetapi karena ia perempuan ia tidak bisa naik takhta.”


Suiren perlahan-lahan mulai merasa kantuknya hilang karena mendengar cerita menarik dari Kaen.


Suiren mendengarkan dengan seksama.


“Faksi pendukung Izana banyak melakukan hal-hal diluar nalar untuk memusnahkan penghalang Izana.” Lanjutnya. “Racun. Penculikan. Percobaan pembunuhan. Semua itu pernah kualami.”

__ADS_1


“Aku dan Izana hanyalah alat bagi orang-orang yang haus akan kekuasaan untuk mencapai tujuan mereka.” Ujarnya dengan wajah sedih. “Tidak lebih dari itu.”


“Apakah kau menginginkan takhta itu, Kaen?” tanya Suiren.


Lagi-lagi Kaen menggeleng. “Aku ingin menjadi pedang dan perisai bagi Izana. Aku akan membantunya dengan sekuat tenaga agar ia bisa membuktikan kepada orang-orang yang meremehkannya bahwa apa yang mereka pikirkan selama ini itu salah.”


Suiren menguap pelan dan kemudian tersenyum. “Kurasa kau harus melakukan apapun yang kau inginkan. Dengan begitu kau bisa bahagia. Daripada mendengarkan orang lain, kau harus mencoba mendengarkan hatimu sendiri.”


Kaen sedikit terkejut mendengar ucapan Suiren. Selama ini ia tidak pernah mendengar seseorang menyuruhnya melakukan apa yang ia inginkan. Semua orang selalu menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan. Dan selama ini ia harus mengikuti kemauan orang-orang itu.


“Kau…” ujar Kaen sembari menatap Suiren. “Memiliki cara berpikir yang sangat sederhana, ya.”


Suiren memasang wajah cemberut. Ia merasa bahwa apa yang diucapkan Kaen tadi lebih seperti ejekan daripada pujian. “Aku akan menganggap itu pujian.”

__ADS_1


Kaen tertawa sembari menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya.


“Itu memang pujian.” Ujarnya sembari mengacak-acak rambut Suiren.


__ADS_2