
Sudah satu minggu semenjak Suiren menghindari bertemu dengan Kyrie. Di sisi lain, Kyrie juga menepati janjinya dengan cara memberikan Suiren ruang untuk berpikir. Selama satu minggu ini, Suiren menghabiskan sarapan dan makan malamnya di ruang tidurnya.
Ia sendiri tidak tahu mengapa ia sampai menghindari Kyrie secara terang-terangan seperti ini. Walau begitu saat ini ia belum bisa mengatakan jika dirinya telah jatuh cinta dengan Kyrie atau tidak. Ia sama sekali tidak bisa membaca perasaannya sendiri. Oleh sebab itu, sesuai dengan janjinya dengan Satia satu minggu yang lalu, hari ini ia menunggu kedatangan Satia di café favorit mereka.
Sudah dua puluh menit Suiren menunggu, tapi Satia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
Suiren memotong kue vanilla dihadapannya dengan garpu kecil dan menyuapkannya ke mulutnya.
TING! Bunyi bel diatas pintu masuk café membuat Suiren merasa antusias.
Tetapi sosok yang memasuki pintu café bukanlah sosok berambut cokelat panjang, melainkan sosok berpakaian seragam putih. Sergei.
“Lady Suiren…” Wajahnya terlihat khawatir seolah-olah ia baru saja menerima kabar buruk.
“Ada apa, Sergei?” tanya Suiren.
“Sepertinya anda harus melihat ini.” Wajahnya terlihat suram.
Setelah itu keduanya berjalan keluar dari café menuju sebuah gang yang terletak disebelah toko buku tempatnya pertama kali bertemu dengan Satia. Kerumunan memenuhi gang itu, membuat Suiren kesusahan melihat apa yang sedang terjadi disana.
Sergei berjalan di depan Suiren dan membuka kerumunan. Dengan hadirnya Sergei, kerumunan terpecah menjadi dua bagian. Suiren berjalan di belakang Sergei.
Apa yang menantinya di depannya sama sekali tidak pernah terbayang dibenaknya.
“Ti…a?” Suiren berbisik.
Sesosok gadis tergeletak tanpa nyawa di atas jalan. Gaun biru mudanya yang seharusnya terlihat bersih sebaliknya terlihat kotor. Gadis itu tidak menutup matanya, tetapi ia sama sekali tidak merespon apapun. Mata hijau cantiknya sama sekali tidak menggambarkan adanya tanda-tanda kehidupan. Terdapat bekas lingkaran berwarna biru keunguan mengitari leher mungilnya.
Suiren merasakan kakinya melemah, sebelum ia sempat terjatuh Sergei memapah tubuhnya. Ia menatap Sergei dengan tatapan horror di wajahnya. Sergei menatapnya dengan tatapan iba.
Tiba-tiba gerombolan pria berseragam putih dengan insignia yang menandakan bahwa mereka adalah Ksatria yang menjaga Kota Birmin membubarkan kerumunan. Suiren yang masih goyah karena apa yang ia saksikan barusan hanya mengikuti tuntunan Sergei untuk pergi dari kerumunan.
“Sergei… apakah gadis itu benar-benar Tia?” Suiren bertanya dengan suara bergetar. Tangan dan kakinya ikut bergetar.
Sergei tidak menjawab Suiren tetapi tatapannya mengatakan bahwa apa yang dikatakan Suiren adalah benar.
“Sebaiknya untuk saat ini kita kembali ke kediaman Wisteria, Lady Suiren.” Ujar Sergei. Ia memapah Suiren sampai menaiki kereta kudanya dan kemudian setelah itu membawanya kembali ke kediaman Wisteria.
Di dalam kereta Suiren hanya menatap kedalam kehampaan. Matanya menggambarkan dengan jelas bahwa ia luar biasa terkejut dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Kyrie dan Suiren menghadiri acara pemakaman Tia. Kediaman Iris dipenuhi dengan suara isak tangis dan udara berat. Tetapi ketika Kyrie dan Suiren memasuki kediaman, perhatian semua orang tertuju kearah mereka. Semua orang memberikan hormat dan membungkuk. Beberapa terdengar sedang berbisik-bisik membicarakan Suiren.
__ADS_1
‘Apakah itu tunangan Duke Wisteria?’
‘Dia terlihat berbeda dari gambar.’
Kyrie melirik kearah Suiren yang terlihat tidak memiliki semangat hidup. Mata Suiren terlihat sembab dan hidungnya terlihat merah.
Kyrie meraih tangan Suiren dan menggenggamnya.
“Apa kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Kyrie.
Suiren mengangguk. Ia tidak melepaskan genggaman tangan Kyrie dari tangannya.
Keduanya berjalan menuju peti yang sedang terbuka. Satia terlihat seperti sedang tertidur. Tangannya memegang bunga iris dan wajahnya terlihat cantik. Siapapun yang meriasnya telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Gaun yang dikenakan Satia menutupi tubuhnya sampai di bagian leher, tetapi Suiren seakan-akan masih bia melihat bekas memar yang terdapat di lehernya.
Suiren meletakkan bunga Mawar putih di dalam peti dan memberikan penghormatan terakhirnya.
“Padahal ia sudah berjanji akan mengenalkanku kepada kekasihnya suatu saat nanti.” Gumam Suiren.
“Kekasihnya?” tanya Kyrie.
Suiren mengangguk.
“Lady Iris tidak seharusnya memiliki kekasih. Ia bahkan belum memiliki tunangan.”
Suiren memutar matanya. “Aku tidak ingin menjelaskannya kepadamu.”
“Duduklah dulu disini, aku harus menyapa orang tua Lady Iris.” Ujar Kyrie.
Suiren tidak membalas. Matanya masih melekat pada peti tempat tubuh Satia disemayamkan. Ia mengingat tawa dan senyum Tia setiap kali mereka membicarakan tentang buku favorit mereka. Bagaimana Tia akan mendengarkan Suiren dengan antusias ketika sedang menceritakan jilid pertama dari novel favorit mereka itu.
“Haaa…” Suiren menghela napas panjang. Ia menatap kearah lantai dan mengayun-ayunkan kakinya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di hadapannya.
“Cepat sekali kau kembali.” Ujar Suiren sembari menaikkan wajahnya. Tetapi sosok yang dihadapannya bukanlah sosok Kyrie Wisteria. Melainkan sosok laki-laki berambut merah dengan bola mata emas yang menatapnya dengan ramah.
“Apakah saya boleh duduk disebelah anda?” tanya laki-laki itu.
Suiren mengangguk dan menggeser tubuhnya sedikit.
Lama keduanya hanya duduk berdampingan tanpa mengatakan apapun. Suiren juga sedang tidak dalam suasana hati untuk memulai pembicaraan.
“Saya Naois Dianthus.” Laki-laki tadi mengulurkan tangannya kepada Suiren.
__ADS_1
“Suiren Themisree.” Balas Suiren. Walau laki-laki yang sedang mengajaknya berkenalan ini memiliki wajah yang sangat tampan, ia tetap merasa tidak bersemangat.
“Apakah anda mengenal Lady Iris? Anda terlihat sangat sedih.” tanyanya.
“Saya mengenalnya belum lama ini…”
“Sangat menyedihkan apa yang terjadi kepadanya. Sungguh, akhir-akhir ini Birmin menjadi kota yang sangat tidak aman.”
Suiren tidak membalasnya. Ia menyenderkan tubuhnya di dinding dan menghela napas panjang.
Ia mencium aroma familiar ketika ia menarik napas dalam-dalam.
‘Aku mengenal aroma ini…’
“Sir Dianthus, maaf jika pertanyaanku terdengar aneh. Tetapi apakah anda memiliki hubungan dengan Lady Iris?” Suiren bertanya.
Naois memberikan Suiren tatapan bingung. “Hmm…, Orang tua saya adalah rekan bisnis orang tua Lady Iris. Jadi sepertinya, ya, saya memiliki hubungan dengan mendiang Lady Iris.”
“A-ah… begitu rupanya.” Suiren menganggukkan kepalanya.
“Suiren.” Kyrie memanggilnya sambil berjalan mendekatinya.
Ketika Kyrie berjalan mendekat, Naois langsung bangkit dari duduknya dan membungkuk memberi hormat kepada sang Duke.
“Duke Wisteria, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda.” Ucapnya.
“Sir Dianthus. Anda terlihat lebih baik semenjak terakhir kali kita bertemu.” Balas Kyrie.
Naois menggaruk kepalanya dan menatap Kyrie dengan tatapan canggung. “Ahahaha, maafkan saya pada waktu itu Duke Wisteria. Saya sedang tidak berpikir jernih.”
“Sepertinya anda telah bertemu dengan tunangan saya.” Lanjut Kyrie sambil mengulurkan tangan kepada Suiren.
Suiren meraih tangan Kyrie dan berdiri dari duduknya.
“Tentu saja, Duke Wisteria. Tunangan anda adalah gadis yang sangat rupawan.” Jawab Naois.
Mendengar hal itu, Kyrie memberikan Naois tatapan tajam.
“Ma-maksud saya…”
“Ayo kembali, Suiren.” Tanpa mendengarkan penjelasan Naois, Kyrie berjalan meninggalkannya sembari menuntun Suiren.
“Kau setidaknya bisa menunggunya selesai bicara.”
__ADS_1
“Kau menyuruhku membuang-buang waktu berhargaku?” Balas Kyrie.
Suiren hanya memutar bola matanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan perilaku laki-laki ini.