My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Sang Duchess dan masalahnya


__ADS_3

Suiren berjalan di samping Kyrie menuju ruang makan. Ia sendiri menjemput Kyrie dari ruang kerjanya supaya ia tidak membuat alasan untuk meninggalkan Suiren makan malam sendirian.


“Apa kau tahu ada pembunuhan berantai yang terjadi di kota Birmin akhir-akhir ini?” tanya Suiren.


Kyrie melirik Suiren. “Tentu saja.”


“Lalu kenapa kau hanya diam saja?”


“Seingatku, pembunuhan berantai ini akan berhenti dengan sendirinya.” Jawaban Kyrie membuat Suiren mengernyitkan dahinya. Ia kemudian menatap Kyrie dengan tatapan aneh.


“Maksudmu, kau akan membiarkan pembunuhan berantai ini sampai nantinya berhenti sendiri?”


“Ada yang salah dengan itu?” balas Kyrie.


Suiren membuka mulutnya lebar-lebar dan menatap Kyrie dengan tatapan tidak percaya. “Kau serius bertanya itu?”


Kyrie menatap Suiren dengan wajah malas. “Dengar, aku punya banyak tugas untuk kuselesaikan. Kalau Ksatria Kota Birmin tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik untuk menangkap pelaku, bukan berarti aku harus ikut campur didalamnya.”


“Lagipula, di masa depan pembunuhan berantai ini tidak menjadi masalah besar. Aku bahkan tidak mengingatnya karena peristiwa itu sama sekali tidak signifikan.”


“Kita semua tahu kau terlalu sibuk mengacaukan seleksi kandidat Putri Mahkota untuk mempedulikan masalah genting seperti ini.” Sembur Suiren.


Kyrie tidak membalas perkataannya.


Mereka akhirnya sampai di ujung lorong, tetapi ketika Kyrie mencoba membuka pintu ruang makan ia dihentikan oleh Harry.


“Duke Wisteria, Ibu anda menolak untuk makan malam di ruang makannya. Saat ini ia ada di dalam ruang makan ini, tetapi ia sama sekali tidak menyentuh makanannya.”


Kyrie mengernyitkan dahinya. Ia kemudian menghela napas panjang. “Sekarang apalagi?”


Suiren kemudian mencoba menengahi suasana dan memberi usul. “Atau kita bisa makan di ruang makan Ibumu!”


Kyrie menggelengkan kepalanya. “Sepertinya Ibuku sengaja menungguku. Sebaiknya kau makan di ruang tidurmu hari ini, Suiren.”


“Tidak. Harus berapa kali kubilang kalau aku tidak suka makan sendirian.”


Kyrie tidak menjawab perkataan Suiren. Ia kemudian membuka pintu ruang makan dan melangkah masuk kedalamnya diikuti oleh Suiren.


Benar saja, di dalam ruang makan, Duchess Amber telah menduduki salah satu kursi. Makanan dihadapannya sama sekali belum tersentuh.


Kyrie duduk di salah satu kursi yang disediakan, kursi yang berhadapan langsung dengan kursi sang Duchess. Sedangkan Suiren mengambil kursi disebelah Kyrie.


Itu adalah kali pertama Suiren melihat wajah sang Duchess dengan jelas tanpa penutup wajah. Sang Duchess yang sudah berusia tetap terlihat cantik dan elegan. Bahkan dengan keriput di wajahnya, Suiren bisa membayangkan kecantikan yang dimiliki sang Duchess ketika ia masih muda. Rambut hitamnya sudah memiliki semburat abu-abu, namun hal itu membuat penampilan sang Duchess menjadi semakin rupawan.


Sepanjang menikmati hidangan masing-masing, tidak ada sepatah katapun yang terlontar. Semuanya makan dalam keheningan. Sampai kemudian ketika hidangan penutup disajikan, sang Duchess menatap Kyrie dengan tatapan datar namun dingin.

__ADS_1


Suiren yang menyaksikan hal itu hanya melirik kearah Kyrie untuk melihat reaksinya, tetapi seperti biasa Kyrie tidak mengeluarkan ekspresi apapun.


“Aku tidak pernah menyetujui pertunanganmu ini.” Ujar sang Duchess akhirnya.


‘Ah… ini dia, opera sabun yang sering kutonton di kehidupan lamaku.’ Pikir Suiren.


“Sebagai kepala keluarga Wisteria, aku tidak membutuhkan izin dari siapapun ibu.” Jawab Kyrie tetap dengan wajah tanpa ekspresinya.


Sang Duchess mendengus dan kemudian tertawa sarkastik. “Jangan bangga dengan dirimu sendiri. Kau mendapatkan gelar kepala keluarga karena kau membunuh Ayahmu!”


Kyrie tidak membalas perkataan ibunya.


‘Kalau tidak salah, mendiang Duke Wisteria meninggal karena kecelakaan di tebing ketika sedang dalam perjalanan menuju Ibukota. Sepertinya, kematian suaminya membuat Duchess Amber kehilangan akal sehatnya.’


“Kau yang seharusnya mati menggantikan suamiku!” Kali ini sang Duchess berteriak histeris dan menatap Kyrie dengan mata yang mengisyaratkan dendam.


KLANG!!!


Suiren kemudian meletakkan sendok kecil yang ia gunakan untuk memakan hidangan penutupnya. Kebetulan hari ini, pelayan menyajikan hidangan berupa crème brulee yang sangat lembut dan lezat. Tidak ada hal yang membuat Suiren kesal ketika seseorang mengganggu waktunya menikmati hidangan penutup.


Sang Duchess menatap Suiren dengan tatapan marah.


Kemudian Suiren meraih sapu tangan dan mengusap mulutnya. Ia menarik napas panjang dan melepaskannya.


Mendengar perkataan Suiren, wajah Sang Duchess terlihat sepuluh kali lipat lebih murka dari sebelumnya. Ia terlihat sangat murka sampai-sampai urat di lehernya terlihat.


“K-Kau!!! SIAPA YANG MEMBERIMU IJIN UNTUK MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN IBU MERTUA?!” teriaknya.


“Kalau begitu, izinkan saya memanggil anda dengan sebutan ‘Duchess yang tidak bisa menerima kenyataan’.” Suiren menyunggingkan senyum kesal untuk sang Duchess.


Secepat kilat, setelah mendengar perkataan Suiren sang Duchess meraih gelas berisi jus jeruk yang berada di sisi kanannya dan melemparkan isinya kearah wajah Suiren. Bahkan dengan kejadian secepat itu, Kyrie seakan-akan sudah mengetahui bahwa itu akan terjadi. Ia mencoba untuk menghalangi jus jeruk mengenai wajah Suiren dengan cara meletakkan telapak tangannya di depan wajah Suiren. Tetapi sayangnya, hal itu tidak menyelamatkan Suiren dari cairan lengket berwarna jingga itu.


Rambut bagian depan dan pakaian Suiren terkena cipratan jus jeruk itu. Dari ujung rambutnya, air jeruk menetes membasahi pakaiannya. Volume airnya tidak begitu banyak, tetapi cukup untuk membuat Suiren merasa lengket di bagian kepalanya.


“Haaaaa…., baiklah sepertinya saya harus permisi dulu.” Suiren berkata pada dirinya sendiri. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan beranjak menjauhi meja makan. “Saya harap anda bisa menikmati hidangan penutupnya tanpa gangguan sedikitpun, Duchess Wisteria.”


Suiren diikuti oleh Harry dan pelayan lainnya kembali ke ruang tidurnya.


***


Ethel memijit kepalanya dengan lembut dan pelan. Shampoo beraroma mawar memenuhi kamar mandi Suiren. Dengan tangan sigapnya, Ethel telah membersihkan tubuh Suiren dari air jeruk lengket dan saat ini sedang membersihkan rambut Suiren.


Air mandi menggenangi bak sampai menenggelamkan tubuh Suiren. Ia hanya menutup matanya mencoba untuk menikmati pijatan lembut Ethel.


‘Apakah aku akan diusir dari rumah ini karena telah mencampuri urusan keluarga ini?’

__ADS_1


“Lady Suiren, saya sudah selesai membersihkan rambut anda.” Ethel berkata.


Suiren kemudian bangkit dari bak mandi dan menutupi tubuhnya dengan handuk yang berbentuk kimono.


Keduanya kemudian berjalan kembali ke dalam ruang tidur Suiren. Tetapi apa yang menunggunya disana membuatnya kaget.


“Kyrie, a-apa yang kau lakukan disini?!” Pekik Suiren. Ia hanya sedang mengenakan handuk tanpa busana apapun dibawahnya.


Kyrie sedang duduk di pinggiran tempat tidur Suiren dan menatapnya dengan tatapan bersalah. “Aku ingin bicara dengan Lady Suiren.” Dengan perkataan itu, Ethel bergegas keluar dari ruang tidur Suiren tanpa mengatakan apapun.


‘TIDAK!!! JANGAN TINGGALKAN AKU DISINI DALAM KEADAAN SETENGAH TELANJANG!!!’ Betapa Suiren ingin meneriakkan itu, tetapi ia hanya bisa berteriak dalam hati. Saat ini orang-orang mengenalnya sebagai tunangan sang Duke, kalau ia menolak untuk berbicara berdua seperti ini, orang-orang mungkin akan berpikiran aneh.


Suiren memberi Kyrie tatapan was-was. Tetapi Kyrie tidak menggubrisnya, ia menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya. Mengisyaratkan Suiren untuk duduk disampingnya.


Suiren kemudian melakukan apa yang diinginkan Kyrie. Setelah itu, Kyrie berjalan menjuju sebuah kursi yang di atasnya terletak handuk berwarna putih. Setelah mengambil handuk itu ia berdiri di depan Suiren dan meletakkan handuk itu dikepalanya.


“Aku ingin meminta maaf atas perilaku Ibuku.” Mulainya. Tangannya mengusap-usap kepala Suiren dengan lembut. Ia sedang mencoba mengeringkan kepalanya.


“Aku hanya tidak suka melihat seorang disalahkan atas kesalahan yang bukan mereka lakukan.” Jawab Suiren.


Kyrie terdiam cukup lama sembari tetap berusaha mengeringkan rambut Suiren. Suiren disisi lain, merasa ngantuk dengan usapan lembut Kyrie.


“Apa Ibumu akan mengusirku karena telah mengata-ngatainya?” tanya Suiren dengan nada sarkastik.


Kyrie tertawa mendengar ucapan Suiren. “Aku yang memutuskan pergi atau tidaknya seseorang dari kediaman ini. Kau tidak perlu khawatir.”


Setelah rambut basah Suiren menjadi tiga perempat kering, Kyrie mengambil sisir dari meja rias Suiren. Ia kemudian duduk disamping Suiren dan menyisir rambut Suiren dengan perlahan. Ia memastikan agar tidak ada satu helaipun yang tersangkut satu sama lainnya.


“Aku juga ingin berterima kasih karena sudah membelaku tadi.”


“Itu bukan apa-apa.”


Lagi-lagi keduanya jatuh dalam keheningan.


“Aku mendapat traumaku dari Ibuku.” Kyrie berkata pelan. “Dua hari setelah Ayahku meninggal, Ibuku mendatangi kamar tidurku dan mencekik leherku. Semenjak saat itu, aku benci ketika ada yang mencoba menyentuh leherku.”


Mendengar itu, Suiren seolah merasakan pisau menusuk jantungnya. Tidak ada anak kecil yang pantas mendapat perlakuan seperti itu dari orang tuanya. Menyedihkan sekali karena banyak trauma yang dimiliki seseorang bisa berasal dari orang terdekatnya.


“Aku sama sekali tidak dendam karena kau telah menggunakan traumaku waktu itu. Aku berhak mendapatkannya, karena aku bertingkah menyebalkan waktu itu.” Lanjut Kyrie.


“Jadi, terima kasih. Kali ini aku berhutang padamu.” Kyrie berkata sembari menyibakkan rambut perak Suiren ke pundak kanannya dan kemudian mencium leher Suiren. Ia bisa mencium aroma sabun dari kulitnya.


Suiren merasakan perasaan aneh ketika Kyrie melakukan hal itu. Seperti hatinya berdebar-debar kencang dan ia merasa seolah-olah ia sedang mencair.


Setelah Kyrie selesai menyisir rambut Suiren, ia berdiri dari duduknya. Tanpa mengatakan apapun, Kyrie meninggalkan ruang tidur Suiren.

__ADS_1


__ADS_2