My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Kebenaran dibalik rahasia Jenderal Themisree


__ADS_3

“Kau bukan anak kandungku, Suiren.” Jenderal Themisree berkata sambil menatap kedua mata emas Suiren. Gemerisik kayu bakar dari perapian berbunyi menghiasi keheningan.


Suiren yang sedang menegak teh menghentikan seruputannya. Ia baru saja selesai membersihkan dirinya dari kebasahan yang menimpanya.


“Aku minta maaf karena sudah menyusahkanmu, Ayah. Tetapi sepertinya gurauanmu agak sedikit kelewatan.”


Suiren tahu ia pasti membebankan banyak pikiran kepada Ayahnya setelah ia diculik, tetapi ia tidak mengira Ayahnya akan semarah ini sampai-sampai mengatakan bahwa ia bukanlah anak kandungnya.


Lagipula, Ia lahir dan besar dengan Ayahnya, bagaimana mungkin ia bukan anak kandung Ayahnya?


“Aku tidak sedang bergurau.”


Suiren terdiam menatap bola mata biru langit ayahnya yang terlihat serius. Ia tidak pernah bergurau ketika ekspresi wajahnya seperti ini.


Jantung Suiren seakan jatuh dari tempatnya. Ia merasa aneh di sekujur tubuhnya, seolah-olah nyawanya keluar dari dalam tubuhnya.


“Hahaha… Ayah, sebaiknya kau mengatakan bahwa itu hanya gurauan belaka. Kalau tidak aku akan… aku akan…” Suiren mencoba menyangkal Ayahnya. Ia mengeluarkan tawa yang dipaksa.


Cangkir teh yang digenggamnya bergetar sedikit, kemudian Suiren memutuskan untuk menaruh nya diatas meja dihadapannya.


“Kau adalah anak kandung dari mendiang saudara perempuanku, Meredith.” Jenderal Suiren berkata dengan pelan. Ia tidak ingin membuat anak gadisnya lebih shock dari saat ini. “Itu artinya kau adalah keponakan perempuanku.”


Suiren menelan ludah. Apakah ini adalah saat dimana Ayahnya merasa tidak sanggup menjaganya karena ia telah berbuat banyak hal yang menyusahkannya dan sekarang ia berniat mengusirnya dari rumah? Tidak mungkin, kan? Secara silsilah, mereka masih memiliki hubungan keluarga. Mengusirnya adalah tindakan yang terlalu ekstrim.


Apakah itu salah satu alasan Ayahnya mengizinkannya bertunangan dengan Duke Wisteria.


“La-lalu, siapa Ayahku, Ayah?” pertanyaan itu terdengar aneh keluar dari mulutnya sendiri.


“Pertama-tama, aku akan menceritakan kepadamu tentang sosok ibu kandungmu. Meredith adalah saudari perempuanku yang usianya tiga tahun lebih tua dariku. Sebagai anak tertua, kedua orang tuaku menaruh harapan besar kepadanya untuk mengikuti jejak Ayahku sebagai seorang Jenderal Perang Kekaisaran. Jadi Ayahku mempersiapkannya untuk menjadi seorang ksatria.”


“Meredith tentunya sangat berbakat. Ia terlahir untuk menjadi seorang Ksatria. Tetapi ia juga lahir dengan sifatnya yang sangat bebas dan tidak bisa dikekang. Sehingga ketika Ayahku memaksanya menjadi sesuatu yang tidak diinginkannya, Ia memutuskan untuk pergi dari rumah.”


“Setelah kepergiannya, Ayahku membebankan seluruh keinginannya kepadaku dan memaksaku menjadi seorang Ksatria Kekaisaran. Aku tidak memiliki keberanian untuk menolak permintaannya, maka jadilah aku seorang Ksatria. Aku mungkin tidak berbakat dari lahir sepertinya tetapi aku bekerja keras dan bekerja keras sampai akhirnya aku berada diposisiku saat ini.”


“Singkat cerita, Ayahku meninggal dunia. Meredith bahkan tidak pulang ketika Ayah meninggal dunia. Kukira ia sudah meninggal atau pergi ke tempat lain. Aku bahkan tidak berusaha mencarinya, karena menurutku sia-sia saja mencoba mencari seseorang yang tidak ingin dicari.”


“Setelah itu, aku pergi memimpin pasukan dengan misi untuk menganeksasi Kerajaan Thalia menjadi Kerajaan Vassal Kekaisaran Helianthus. Bukan main terkejutnya aku ketika bertemu dengan Meredith di medan perang. Ia berdiri disamping Kaisar Thaddeus seperti seekor anjing yang sangat patuh terhadap tuannya. Ia yang dulunya meninggalkan rumah karena tidak ingin menjadi seorang Ksatria, justru menjadi bagian dari Ksatria Imperial yang berada di bawah kepemimpinan sang Kaisar.”


“Hal yang lucu adalah, Ia bahkan tidak merasa kaget ketika melihatku. Aku ingat apa yang ia katakan kepadaku hari itu, ‘Kau terlihat gagah dengan seragam Ksatria Kekaisaran, Arnold.’. Dengan wajah yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun karena telah meninggalkan kewajibannya dan menyeretku ke dalam sesuatu yang seharusnya dilakukan olehnya.”

__ADS_1


“Setelah itu, aku melihatnya bertempur di medan perang, dengan bakat yang selama ini ia kutuk. Aku penasaran apa yang membuatnya berubah. Kemudian aku sadar, bahwa ia berubah karena cinta. Ia jatuh cinta kepada sang Kaisar, dengan segala kebutaannya akan cinta. Sampai-sampai ia rela menjilat ludahnya sendiri dan melakukan hal yang ia benci.”


“Setelah itu, kami berpisah. Aku kembali menjalankan keseharianku sebagai seorang Ksatria Kekaisaran dan ia menjalani harinya sebagai Ksatria Imperial. Aku bahkan tidak peduli tentant bagaimana ia akan menjalani kehidupannya selama ia tidak mengganggu kehidupanku. Kemudian aku menikah sengan Silvya, dan kami membangun keluarga kecil. Walau Sivya dinyatakan mandul, aku tidak peduli. Aku mencintainya dengan segenap jiwaku bahkan jika ia tidak bisa melahirkan keturunan bagiku.”


“Dua tahun kemudian, Meredith muncul di depan pintu kediamanku. Dia tidak sendiri, dia membawamu yang masih dalam bentuk janin di dalam rahimnya. Sebanyak aku menginginkan untuk mengusirnya dan tidak ikut campur dalam urusannya, Isteriku menentang hal itu. Ia memintaku menerima Meredith kembali dan merawatnya sampai ia


melahirkan. Akhirnya aku menyetujuinya dengan syarat bahwa setelah ia melahirkan, ia harus pergi dari kediamanku dan membawa bayinya bersamanya.”


“Ketika kau lahir, aku mengetahui ada sesuatu yang tidak beres. Tidak sekalipun Meredith pernah menceritakan siapa Ayah dari bayi yang dikandungnya, tetapi ketika melihatmu terlahir dengan kedua mata emas, aku tidak bisa tidak berpikir bahwa Kaisar Thaddeus telah berselingkuh dengan Meredith.”


Lagi-lagi Suiren menegak ludah dan tanpa sadar meremas gaunnya dengan erat.


“Aku ingin meminta Meredith pergi secepatnya, untuk menghindari masalah bagiku dan Silvya. Tetapi, Silvya jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu. Aku memahami perasaannya sebagai seorang suami, bahwa ia sangat ingin memiliki keturunan dan aku pun hanya ingin melihatnya bahagia. Sehingga aku membiarkannya mengurusmu layaknya putri kandungnya sendiri.”


“Suatu hari, Meredith mengatakan bahwa ia harus kembali ke istana Imperial karena ada suatu hal yang harus ia selesaikan. Tetapi setelah itu, ia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi baik dihadapanku, dihadapan Silvya maupun dihadapanmu. Lagi-lagi ia meninggalkan tanggung jawabnya kepadaku dan lagi-lagi aku tidak memiliki pilihan selain mengambil alih tanggung jawabnya.”


“Tetapi kali ini, tanggung jawab yang ditinggalkan olehnya membawa kebahagiaan baik bagi diriku maupun Silvya. Tanggung jawab itu adalah dirimu, Suiren.”


Suiren kemudian membenarkan posisi duduknya, ia mengaitkan jemarinya dan menggaruk ibu jarinya.


“Lalu, apakah ini artinya Kaisar Helianthus adalah Ayahku?” ia mengulang pertanyaannya. Kali ini ia merasa bahwa ia sudah tahu jawabannya tanpa perlu mendengar jawaban Ayahnya.


Jenderal Themisree tersenyum lembut dan kemudian mengambil tempat di samping sofa yang sedang diduduki Suiren.


Suiren terdiam. Ia tidak memahami maksud Ayahnya.


“Aku adalah Ayahmu, Suiren. Kau tidak perlu mempertanyakan itu. Sekalipun kau bukan darah dagingku, sekalipun kau tidak terlahir dari rahim isteriku, kau adalah putriku. Sekarang dan selama-lamanya.”


Suiren merasakan air mata hangat mengalir di pipinya, kemudian ia memeluk Ayahnya dengan erat. Sang Jenderal balas memeluknya di dalam dekapannya dan mengelus rambutnya.


“Aku bersyukur karena kau terlahir dengan rambut perak. Kalau saja kau terlahir dengan rambut pirang, aku akan kesusahan untuk menjelaskan kepada orang-orang bahwa kau adalah putriku.” Ucapnya.


Suiren tertawa kecil disela-sela isakan tangisnya. Ia merasa seperti orang bodoh menghawatirkan hal yang tidak perlu ia khawatirkan. Ia tahu bahwa Ayahnya sangat mencintainya, ia tidak perlu ragu akan hal itu.


Kemudian Jenderal Themisree mengangkat wajah Suiren dengan kedua tangannya dan menghapuskan air mata dari ujung matanya. “Permataku.”


“Duke Wisteria mengatakan padaku bahwa kau mengetahui bahwa yang mencoba membunuhmu adalah Permaisuri Eleanor. Setelah mengetahui hal itu, aku tahu bahwa aku tidak lagi bisa menyembunyikan kenyataan darimu.”


Wajah sang Jenderal berubah menjadi serius.

__ADS_1


“Dengar, Suiren. Mulai saat ini, akan ada orang-orang yang mengincarmu. Kuharap kau tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan dirimu seperti membiarkan dirimu menjadi korban sindikat perdagangan manusia.”


Suiren membelalakkan matanya. “Bagaimana…?”


“Tendamu terlalu rapi untuk dikatakan sebagai tempat kejadian penculikan.” Balasnya dengan wajah berkerut. Ia terlihat gusar.


Suiren melepaskan dirinya dari Ayahnya dan kemudian tertawa canggung. “Hahaha… tetapi rencana itu berjalan dengan baik, bukan? Aku memberikan Ayah alasan untuk membiarkan pasukan Kerajaan Ginryuu meringkus sindikat perdagangan manusia.”


Jenderal Themisree menyentil dahi putrinya. “Jangan pernah lakukan hal itu lagi.”


Suiren mengangguk.


Setelah sesi curahan hati Ayahnya yang sangat menyentuh itu, Suiren meninggalkan Tenda ayahnya dan bergegas menuju tendanya.


Keadaan disekitar tambang emas sudah lebih kondusif, pasukan kerajaan Ginryuu telah kembali ke perkemahan mereka dengan membawa tawanan dari sindikat perdagangan manusia dan korban dari perdagangan manusia itu sendiri.


Suiren berjalan sembari menatap langit gelap yang diterangin bulan purnama. Ia kemudian menghela napas panjang.


Ketika ia sampai di depan tendanya, Kyrie berdiri di depan pintu masuk tenda. Ia tersenyum ketika melihat Suiren.


“Tsk!” decak Suiren. Ia berusaha mengabaikan Kyrie dan berjalan melewatinya.


“Kau mau kemana?” tanya Kyrie.


“Tidur. Aku lelah.” Jawab Suiren. ia menghentikan langkahnya.


“Kau berhutang penjelasan kepadaku, Lady Suiren.”


“Itu bisa menunggu besok.” Ujar Suiren. “Atau kapan-kapan saja.”


“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mengarang cerita. Jadi kita lakukan sekarang juga.”


“Kau tidak bisa memaksaku, Duke Wisteria.”


“Aku bisa.” Kyrie kemudian menggendong Suiren bagaikan ia menggendong sebuah karung dan menaruh Suiren di pundaknya.


Suiren meronta-ronta karena tubuhnya terasa sakit. Ia memukul punggung sang Duke sambil berteriak. “Turunkan aku!”


“Tidak sampai kau mau ikut denganku.” Jawab Kyrie.

__ADS_1


Lagi-lagi Suiren menghela napas panjang. “Baiklah. Baiklah. Dasar diktator.”


“Haruskah kau mempersusah keadaan, Lady Suiren?” Setelah itu Kyrie menurunkan Suiren dan menggesturkan kepadanya untuk mengikutinya.


__ADS_2