My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Keputusan Kyrie


__ADS_3

Semenjak hari bersejarah dimana ia telah berhasil memutarbalikkan waktu, Kyrie terus melakukan percobaan dengan sihir terlarang itu.


Ia mencoba merubah mantra dan memodifikasi mantra. Ia juga merubah volume darah yang ia gunakan ketika merapalkan mantra. Akhirnya ia mendapatkan sesuatu dari hasil percobaannya itu. Bahwa volume darah yang ia gunakan sebagai medium untuk memutar balikan waktu sangan berpengaruh bagi berapa lama waktu dapat diputar.


Ia pun sadar bahwa dengan melakukan sihir untuk memutar balikkan waktu, kesehatannya sedikit demi sedikit memburuk. Tidak seberapa buruk namun semakin lama waktu yang ia putar, semakin lemah tubuhnya terasa setelah ia melakukannya. Maka dari itu, ia butuh kesiapan fisik dan mental sebelum melakukan rencananya. Karena ia berniat memutarbalikkan waktu sampai sepuluh tahun lamanya.


Satu minggu ini ia telah memanggil tabib keluarga Wisteria untuk secara rutin melakukan pengambilan darahnya dan menyimpan darahnya dalam kantung-kantung yang akan ia gunakan nanti saat ia akan menjalankan rencananya.


“Duke, aku memiliki perasaan bahwa kau sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya.” Ujar Harry di suatu sore hari setelah tabib mengambil darah dari tubuhnya.


Kyrie hanya tersenyum ketika mendengar perkataan pelayan kepercayaannya itu.


“Aku ingin mengunjungi ibuku.” Ujar Kyrie. Ia meraih jasnya dan memakainya.


Sang Pelayan menatap Kyrie dengan tatapan bingung. Tuannya itu tidak pernah mau mengunjungi ibunya sendiri jika tidak dipaksa olehnya. Tetapi saat ini, ia bahkan mengusulkan dengan sendiri. Sungguh pemandangan yang tidak biasa.


Sang Duchess masih tinggal di kediaman Themisree dan menjalani hari-harinya seperti biasa, walau begitu keduanya jarang bertemu. Kyrie Wisteria mengatur waktunya sedemikian rupa agar ia tidak perlu sering-sering menampakkan dirinya di depan ibunya. Beberapa tahun belakangan ini, perilaku ibunya sudah lebih baik. Ketika melihatnya, ia tidak lagi memiliki aura permusuhan dan kebencian tetapi ia hanya melihat Kyrie dengan tatapan kosong. Seolah-olah ia sedang melihat menembus tubuh Kyrie. Seolah-olah putranya itu tidak ada di hadapannya.


Kyrie sendiri sudah terbiasa dengan perilaku Ibunya itu dan ia tidak pernah sekalipun mengeluh. Ia terlalu sibuk dengan kehidupannya untuk memikirkan seseorang yang tidak pernah memikirkannya.


“Pimpin jalannya, Harry.” Kyrie berkata sembari mengancingkan jasnya.


Harry mengangguk dan kemudian memimpin jalan melewati lorong demi lorong kediaman Themisree untuk sampai ke sayap kiri kediaman.


“Saya mendapat kabar bahwa Ibu anda sedang berada di Rumah Kaca.” Ujar Harry.


Kyrie membenarkan kancing lengan kemejanya dan menarik jasnya untuk membenarkan lipatan-lipatan di ujung jasnya.


Ketika sampai di Rumah Kaca, Harry bergegas membuka pintu Rumah Kaca. Ia mempersilahkan tuannya masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


Kyrie berhenti tepat sebelum Harry menutup pintu untuk mengikutinya masuk ke dalam.


“Aku ingin bertemu dengan Ibuku sendiri.”


“Apakah anda akan baik-baik saja?” Wajah Harry menunjukkan kekhawatiran. Ia mengingat perbuatan sang Duchess kepada Kyrie di masa kecilnya, rentetan perilaku kasar dan kekerasan tanpa alasan yang jelas.


Kyrie tidak langsung menjawab. “Aku akan baik-baik saja.” Keragu-raguan tersirat dari nada bicaranya.


Harry kemudian menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar. Setelah itu ia menutup pintu rumah kaca.


“Hah….” Kyrie menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Kemudian ia berjalan melewati berbagai macam tumbuhan yang ditanam di Rumah Kaca. Bunga mawar, lily, tulip, iris dan berbagai macam tumbuhan tak berbunga lainnya. Aroma bunga-bungaan itu menyatu menjadi satu dan memenuhi udara di dalam Rumah Kaca.


Ketika sampai di jantung Rumah Kaca, seorang wanita dengan gaun hitam dan penutup wajah yang terbuat dari jala sedang duduk ditengah-tengah Rumah Kaca. Di hadapannya, dua cangkir teh beraroma mawar terisi penuh.


Kyrie masih melihat bahwa ibunya tetap mengenakan gaun berwarna hitam di kesehariannya, seolah-olah ia tidak akan pernah keluar dari masa berkabung yang ia alami. Kyrie tahu bahwa ibunya tidak akan pernah pulih dari kesedihannya, ia menolak untuk pulih. Satu-satunya cara ibunya bisa mengingat mendiang suami tercintanya adalah dengan terus menerus berkabung.


“Ibu, Aku datang untuk menemuimu.” Ucap Kyrie. Ia berdiri di samping meja tempat diletakannya cangkir dan menunggu respon ibunya.


Ibunya sama sekali tidak menunjukkan respon.


“Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Cuaca di Birmin menjadi lebih dingin di waktu-waktu seperti ini, kuharap ibu menjaga kesehatan ibu dengan baik.”


Kyrie berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


“Bagaimana jika aku menemukan cara untuk menghidupkan Ayah kembali?” tanyanya akhirnya. Suaranya terdengar pelan, seolah-olah ia tidak ingin ibunya mendengar perkataannya.


Sang Duchess menoleh untuk menatap Kyrie untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu. Tatapan sang Duchess yang kosong dan dingin seakan-akan menembus tubuh Kyrie. Ia tidak ingat kapan terakhir kalinya Ibunya menatapnya seolah-olah ia seorang manusia yang berdiri dihadapannya bukan sebagai udara yang tidak terlihat.


“Aku menemukan cara untuk menghidupkan Ayah kembali, Ibu.” Kali ini Kyrie berkata dengan suara tegas.

__ADS_1


Ia tahu bahwa saat ini dirinya terdengar tidak masuk akal. Bagaimana seseorang yang sudah meninggal dua dekade yang lalu bisa dihidupkan kembali? Ia tidak akan menyalahkan ibunya jika ia menganggap dirinya sudah gila.


Tetapi tidak seperti yang ia pikirkan, Ibunya justru menatapnya dengan tatapan penuh harap. Ekspresi yang sudah lama tidak ia lihat terpancar dari wajahnya. Air mata keluar dari kedua ujung matanya dan mengalir melewati pipi sampai kemudian jatuh ke tanah. Napasnya menjadi tidak teratur, seakan-akan ia baru saja berlari mengitari sebuah lapangan besar tanpa berhenti.


Tangan ibunya yang lembut nan dingin menyusuri pipi Kyrie. Sentuhan pertama setelah sekian tahun yang ia rasakan dari ibunya yang tidak menyebabkan luka pada tubuhnya.


“Kau bisa melakukan itu?” tanyanya dengan suara bergetar.


Kyrie mengangguk kecil.


Ibunya langsung bangkit dari duduknya dan memegang kedua lengannya dengan erat. “Ba-bagaimana?”


“Aku menemukan cara.” Balasnya singkat.


Tatapan ibunya berubah menjadi tatapan senang dan girang seperti tatapan anak kecil yang mendapatkan sebuah hadiah. “Lakukan apapun itu, Anakku. Setelah kau menghidupkan Ayahmu kembali, kita bisa kembali menjadi keluarga utuh yang bahagia! Aku akan mencintaimu seperti aku mencintaimu sebelum Ayahmu meninggal dan aku akan memaafkan segala kesalahanmu!”


Kyrie tidak merespon. Ia hanya menatap ibunya lekat-lekat.


Ibunya kemudian memeluknya. Tetapi Kyrie tidak merasakan kehangatan didalamnya. Perasaan yang ia rasakan saat ini berbeda dengan perasaan yang ia rasakan ketika masih kecil. Ketika ibunya benar-benar mencintainya apa adanya.


“Kita bisa melupakan segalanya dan kita bisa memulai dari awal. Ayahmu, Aku dan Kau.” Ujar sang Duchess sambil membenamkan wajahnya di dada putra semata wayangnya.


Itu adalah saat dimana kenyataan menamparnya.


Kyrie kemudian membalas pelukan Ibunya dengan erat. Pelukan terakhir yang bisa ia berikan kepadanya.


Setelah itu ia melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan ibunya.


Ia telah membuat keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2