
Ketika terbangun keesokan harinya, Suiren merasakan tubuhnya terasa pegal-pegal dan kepalanya terasa luar biasa pening. Lebih-lebih daripada saat ia terbangun setelah insiden tenggelamnya.
Tetapi lebih dari apapun, ia lebih kaget ketika mengetahui bahwa ia terbangun di atas kasurnya sendiri tanpa mengingat bahwa dirinya berjalan pulang ke kediamannya.
“Bagaimana pengalaman pertamamu menghabiskan tiga gelas bir sekaligus?” suara ayahnya mengagetkannya.
Suiren cepat-cepat bangkit dari kasurnya dan berusaha terlihat normal.
Ayahnya sedang membaca berkas-berkas tebal di meja tempat Suiren biasa meminum teh.
Suiren mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam tadi, tetapi ingatannya berhenti sampai ketika ia menghabiskan gelas keduanya. Ia sama sekali tidak ingat kalau ia menghabiskan tiga gelas bir.
“Koreksi, Ayah.” Suiren memberanikan diri membenarkan pernyataan ayahnya. “Aku hanya meminum dua gelas bir.”
Jenderal Themisree akhirnya melepaskan pandangannya dari berkas tebal dihadapannya untuk menatap Suiren. “Kau harus berterima kasih kepada Duke Wisteria karena ia yang membawamu pulang semalam.”
Suiren hanya mengangguk-angguk. Walau ia ingin bertanya lebih lanjut terkait bagaimana cara ia pulang setelah mabuk dan tidak sadarkan diri, tetapi ia mengurungkan niatnya itu. Ia hanya berharap ia tidak melakukan hal aneh ketika mabuk semalam.
Jenderal Themisree kemudian mengambil kertas koran dari tumpukan paling atas berkas-berkasnya dan menyodorkannya kepada Suiren.
__ADS_1
Suiren mengambil kertas koran tersebut dan membaca halaman pertamanya. Matanya hampir lepas dari tempatnya ketika melihat headline berita yang tertulis di halaman paling depan dengan ukuran tulisan yang sangat besar.
‘PENGHINAAN TERHADAP KELUARGA IMPERIAL : PERTUNANGAN SANG TIRAN DARI UTARA DAN SEORANG KANDIDAT PUTRI MAHKOTA.’
“Ayah, apakah ini yang kau maksud dengan perkataanmu waktu itu?” tanya Suiren dengan wajah tidak yakin. “Ketika kau menyuruhku diam dan melakukan apapun yang kau suruh tanpa bertanya apapun.”
Jenderal Themisree mengangguk.
“Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa Ayah lebih memilih rencana Duke Wisteria dibanding rencanaku.” Suiren melemparkan tatapan bingung kepada Ayahnya yang sedang menyesap teh dari cangkirnya. "Lagipula mengapa Ayah sangat menentang partisipasiku di dalam seleksi kandidat Putri Mahkota?"
“Kau masih terlalu muda untuk mengetahui segalanya, Suiren.”
“Apakah ini ada hubungannya dengan insiden tenggelamku di Danau Teratai?” Suiren menembak ayahnya dengan pertanyaan.
Ayahnya terdiam lama. Ia terlihat seperti sedang mencoba merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Suiren tadi.
Tetapi sebelum Suiren mendengar jawaban dari Ayahnya, Reina muncul dari balik pintu dengan membawa pakaian untuk Suiren.
“Lady Suiren, air mandinya sudah siap." ujar Reina. "Lalu, surat untukmu datang dari Lady Serena Tagates."
__ADS_1
Seakan diselamatkan oleh Reina, Jenderal Themisree bangkit dari duduknya dan memeluk Suiren. “Ayah berjanji akan menceritakan segalanya ketika kau sudah siap.” Sang Jenderal kemudian meninggalkan ruang tidur Suiren.
Suiren mengambil surat yang disodorkan oleh Reina dan membacanya.
..."Kepada...
...Suiren Themisree, ...
...Apakah kau ingin bertemu denganku untuk bercerita? Mungkin aku bisa meringankan beban pikiranmu. Aku akan berada di tempat kita biasanya jam dua belas siang hari ini....
...Tertanda,...
...Serena Tagates."...
Suiren menghela napas panjang. Bagaimana ia harus menjelaskan ini kepada Serena? Kepalanya sedang tidak dalam kondisi untuk mengarang cerita.
"Reina, aku butuh sesuatu untuk menghilangkan peningku."
Reina mengangguk dan meninggalkan Suiren.
__ADS_1
Setelah itu, Suiren pun bergegas untuk bersiap-siap menemui sepupunya itu.