
Setelah tubunya tersebur ke dalam danau, Suiren melepaskan dirinya dari cengkeraman tadi. Sosok tadi kemudian mengambang terjatuh ke dasar laut dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
'Haa… yang benar saja? Tenggelam lagi?'
'Ternyata kau benar Kaen. Rencanaku sangat buruk.'
'Kalau aku tahu aku akan tenggelam lagi, aku pasti akan belajar renang…'
Suiren membiarkan tubuhnya jatuh ke dasar laut karena ia sadar mencoba berenang hanya akan menghabiskan tenaganya dan semakin mempercepat kematiannya. Ia masih sedikit berharap Ayahnya atau Gilbert akan datang menolongnya.
Suiren memutuskan untuk menutup kedua matanya. Ia mencoba mengingat kenangan dalam hidupnya. Bagaimana ia akan merindukan Ayahnya. Bagaimana ia akan merindukan teh buatan Reina. Bagaimana ia akan merindukan Serena dan senyumnya yang bagaikan malaikat. Bagaimana ia akan menyesali rencana setengah matang yang sudah ia buat.
Sampai akhir, Ayahnya tidak kunjung datang untuk menyelamatkannya. Begitupula dengan Gilbert, padahal
ia sudah berjanji untuk menyelamatkannya. Tetapi, Ia memang menaruh kedua orang itu dalam posisi yang susah. Posisi dimana mereka harus memilih antara mengorbankan kesetiaan kepada keluarga imperial atau mengorbankan dirinya. Ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas rencana bodohnya ini.
'Kenapa aku begitu tidak berguna? Kalau begitu aku sebaiknya mati saja, kan?'
Melihat bagaimana pasukan kerajaan berhasil menemukan sindikat perdagangan manusia sampai sini, itu artinya pasukan kekaisaran berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Ginryuu. Kalau begitu, Kaen pasti juga berhasil menemukan ketua sindikat perdagangan manusia, kan?
'Haa… kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang. Setidaknya rencana bodohku ini tidak gagal sepenuhnya.'
Oksigen didalam tubuh Suiren mulai habis dan Suiren mulai lelah menahan napas. Ia kemudian mengeluarkan napas dan melihat gemebung udara keluar dari hembusan napasnya. Paru-parunya terasa sakit seperti ditekan oleh kekuatan yang begitu besar.
'Tolong cepat akhiri ini.' Pintanya dalam hati.
Pandangan Suiren perlahan-lahan menjadi kabur dan ia merasakan déjà vu.
Kemudian, sesaat sebelum pengilhatannya hilang seluruhnya. Ia merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Menariknya mendekat.
'Gilbert?'
Suiren membuka kedua matanya dan mendapati sepasang mata familiar. Mata ungu yang terlihat khawatir. Itu bukan mata Gilbert.
__ADS_1
'Kenapa laki-laki ini selalu datang disaat yang tepat?'
Sosok itu menarik tubuh Suiren untuk mendekapnya dan berenang menuju permukaan.
"PUAH!!!" Suiren menghirup udara setelah kepalanya sudah tidak berada di dalam air lagi.
Tangan Kyrie masih mendekap Suiren.
"Kau sepertinya memang ingin mati ya?" tanya Kyrie dengan nada sarkastik.
Setelah itu Kyrie menuntun Suiren berenang sampai ke tepi dermaga. Ia kemudian mengangkat tubuh Suiren.
Suiren berusaha keras menggapai ujung dermaga dan mengangkat tubuhnya yang berat. Setelah berhasil naik ke dermaga Suiren menggulingkan tubuhnya dan merentangkan tubuhnya.
“UHUK UHUK!” Suiren terbatuk mengeluarkan air dari tubuhnya.
Paru-parunya masih terasa sakit. Seperti terbakar. Perasaan familiar ini membuat Suiren tersiksa. Dia tidak pernah ingin mengulanginya lagi.
“Aku… harus… mulai…belajar berenang.” Ujar Suiren dengan terengah-engah.
“Terima kasih.” Ujar Suiren. “Karena telah menyelematkanku lagi.”
Kyrie tidak menjawabnya.
Teruduk di dermaga, mereka berdua basah kuyup. Tetapi yang merasakan kedinginan hanyalah Suiren karena ia jauh lebih lama berada dibawah air. Jemarinya terlihat mengkerut karena dinginnya air.
Disekeliling mereka, Pasukan Kerajaan Ginryuu mulai meringkus anggota sindikat perdagangan dengan mengikat mereka di pesisir. Korban-korban perdagangan manusia pun berhasil diselamatkan. Mereka turun dari perahu kecil yang seharusnya mengangkut mereka dan diarahkan untuk masuk kembali ke dalam tambang oleh pasukan Kerajaan Ginryuu.
Dari ujung matanya, Suiren bisa melihat Anisha dan Ibunya telah bersatu kembali. Keduanya mengikuti arahan pasukan Ginryuu dan bergabung bersama gerombolan korban perdagangan manusia.
“Syukurlah Anisha sudah kembali bersama Ibunya,” Gumam Suiren. Suaranya terdengar sedikit bergetar karena kedinginan.
"Bagaimana kau bisa tahu aku datang kesini untuk membunuh Pangeran Ketiga Kerajaan Ginryuu?" tanya Kyrie.
__ADS_1
Suiren membelalakkan matanya. "A-apakah Pangeran Kaen baik-baik saja?"
"Jawab pertanyaanku, Lady Suiren."
"Aku sudah bilang kalau aku tahu banyak tentang dirimu."
Kyrie menghela napas panjang. "Bagaimana kau bisa tahu banyak tentang diriku?"
Suiren tidak menjawab pertanyaan Kyrie. Ia hanya menatap Kyrie tanpa mengatakan apapun. Setelah itu ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya. "Aku kedinginan dan sedang tidak dalam suasan hati untuk menjawab pertanyaanmu, Duke Wisteria." ia berjalan melewati Kyrie yang masih terduduk.
Tangan Kyrie menarik pergelangan tangan Suiren dan menghentikannya dari langkahnya. "Tidakkah kau ingin mengetahui alasan mengapa aku ada di kediaman Themisree dihari tenggelamnya dirimu? Atau mengapa aku menyelamatkanmu?"
Kyrie kemudian bangkit dari duduknya. "Kalau kau menjawab pertanyaanku dengan jujur, aku akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur juga."
"Kalau begitu, apakah kau akan percaya kalau aku bilang aku bisa melihat masa depan?" jawab Suiren. "Aku bisa melihat masa depan, itu sebabnya aku mengetahui bahwa kau kemari dalam rangka mennjalankan misi yang diberikan oleh Permaisuri Eleanor."
"Tetapi itu tidak menjelaskan mengapa kau mengetahui trauma dan rahasia keluargaku."
"Itu adalah masalah yang berbeda."
"Itu artinya, kau melihatku membunuh Pangeran Ketiga Kerajaan Ginryuu?" Kyrie memastikan.
Suiren mengangguk.
Kyrie kemudian menarik Suiren kearahnya dan memutar tubuhnya hingga keduanya bertukar posisi, Kyrie menghadap Lautan dan Suiren membelakangi lautan. Setelah itu, Kyrie mendorong tubuh Suiren kearah laut. "Apa kau bisa melihat bahwa ini akan terjadi, Lady Suiren?"
Suiren memejamkan matanya tetapi ia tidak sampai terjatuh ke dalam laut lagi. Kyrie menahannya dengan satu tangan dengan cara menggenggam lengan atas Suiren.
Suiren membeku. Ia tidak bisa bergerak atau melakukan apapun. Ia hanya bisa menatap wajah Kyrie dengan tatapan kaget sekaligus takut yang dibalas oleh Kyrie dengan seringai menyebalkan. tangannya mencengkeram lengan Kyrie dengan kuat, dengan harapan agar ia tidak terjatuh ke dalam laut.
"Aku tidak membunuh Pangeran Ketiga, Lady Suiren." ujarnya dengan seringai khasnya. "Tidak di kehidupan kali ini."
Suiren dibuat bingung dengan informasi yang baru ia terima ini. Apa maksudnya dengan tidak di kehidupan ini?
__ADS_1
“Jadi, Lady Suiren. Antara kau melihat ke dalam masa depan yang salah atau kau berbohong kepadaku.”