
“-rie.”
Seseorang mengguncang tubuhnya.
“Kyrie.”
Lagi, seseorang menggoncang tubuhnya dengan halus.
Ketika membuka matanya perlahan, ia dikelilingi oleh langit biru dan sinar matahari hangat. Ia merasakan tubuhnya bertumpu pada sesuatu benda yang keras. Sebuah pohon.
Ia mengingat pemandangan di hadapannya ini. Ia sedang berada di kediaman keluarga Tagates.
“Kau tertidur disaat aku sedang bercerita, sangat tidak sopan.” Sepasang mata hijau zamrud menatapnya dengan tatapan marah.
Kyrie mengusap kedua matanya dengan keras dan menampar kedua pipinya.
“Apa kau ingat sampai mana ceritaku tadi?” tanya sosok yang sudah lima tahun lamanya tidak ia lihat.
“Se..re..na?” Ucap Kyrie.
Sosok berambut pirang dan bermata hijau yang ia kenal sebagai Serena itu mendengus di hadapannya. “Jangan pura-pura bodoh.”
Air mata jatuh mengalir dari kedua matanya.
Wajah marah Serena berubah menjadi khawatir. “Apa kau bermimpi buruk?” tanyanya.
Kyrie menggelengkan kepalanya. “Tidak…tidak. Aku hanya merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Ujarnya.
Kyrie kemudian memeluk wanita dihadapannya dan mengelus kepalanya.
“Ky-Kyrie… apa kau baik-baik saja?” Aroma tubuh Serena sama dengan aroma buah persik. Segar dan manis. Aroma yang membuat siapapun yang sedang lelah dan letih menjadi bersemangat seketika.
“Diam. Jangan bergerak. Aku takut semua ini akan hilang jika kau bergerak.” Bisik Kyrie.
Serena menuruti permintaan Kyrie.
Setelah itu Kyrie melepaskan pelukannya dan menatap wajah Serena lekat-lekat. Serena terlihat jauh lebih muda dari hari terakhir ia bertemu dengannya di Penjara Bawah Tanah Kerajaan Imperial. Matanya memancarkan kehangatan yang Kyrie rindukan, penjelmaan musim semi di dalam seorang manusia.
“Berapa umurmu, Serena?” tanya Kyrie.
“Apa kau bercanda denganku, Kyrie? Ulang tahunku baru seminggu yang lalu dan kau menanyakan umurku? Sem-bi-lan-be-las-ta-hun!” eja Serena.
Kyrie kemudian tertawa kecil dan perlahan-lahan tawanya membesar. Ia tertawa seolah-olah ia sedang melihat sebuah kejadian lucu.
__ADS_1
“Haaah… dewa berpihak kepadaku. Kalau begitu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” Gumamnya.
“Apa yang kulakukan disini, Serena?” tanya Kyrie dengan lembut.
Serena menatap Kyrie dengan tatapan aneh. Ia tidak menyangka bahwa ceritanya dapat membuat seseorang tertidur sampai-sampai melupakan segalanya.
“Mengapa menanyakan itu kepadaku? Aku juga tidak tahu kenapa kau sering sekali muncul di kediamanku dan menelantarkan pekerjaanmu.” Balas Serena.
Kyrie ingat bahwa dulu ia sering mengunjungi Serena hanya karena ia merindukannya. Ia akan mengunjungi kediaman Tagates tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan menemui Serena. Para pelayan di kediaman Tagates selalu membicarakan bagaimana ia akan bertunangan dengan putri satu-satunya dari keluarga Tagates dan Serena akan selalu meminta maaf jika omongan-omongan itu sampai ke telinganya. Ia tidak pernah sadar betapa Kyrie sangat ingin mewujudkan perkataan para pelayan kediaman tagates itu.
Sejak awal Serena menaruh dinding diantara dirinya dan Kyrie dengan cukup jelas. Kyrie pun sadar akan hal itu maka dari itu ia selalu mencoba memisahkan perasaannya dan menutupnya di dalam kotak. Tetapi ketika Serena menjadi salah satu kandidat permaisuri, Kyrie tidak bisa menjaga kepalanya tetap dingin. Ia dulu selalu berpikir bahwa jika ia tidak bisa memiliki Serena, maka tidak ada orang lain yang dapat memilikinya.
“Sebenarnya aku kesini untuk bertanya beberapa hal kepadamu, Serena.” Mulai Kyrie. “Aku ingat bahwa kau pernah menceritakan tentang sepupumu yang merupakan putri dari Jenderal Themisree. Bisakah kau menceritakan kepadaku tentangnya?”
Alis Serena berkerut. “Aku pernah bercerita tentang Suiren?”
Kyrie mengangguk. “Betul, Lady Suiren Themisree.”
“Hmm… Suiren adalah sepupuku. Ibunya, mendiang Lady Silvya Themisree merupakan adik kandung Ayahku, tetapi karena ia memutuskan untuk menikah dengan Jenderal Arnold Themisree maka ia kehilangan gelarnya. Walau begitu, hubungan keluargaku dengan keluarganya baik-baik saja.” Ujar Serena sembari menyelipkan helaian rambut emas di telinganya.
“Apakah kau dekat dengannya?” tanya Kyrie lagi.
“Sangat dekat! Aku selalu menginginkan saudara perempuan tetapi aku hanya memiliki dua orang kakak laki-laki yang selalu sibuk sehingga ketika Suiren lahir, aku sangat senang dan aku selalu menganggapnya sebagai adikku sendiri.”
Kyrie hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Apakah Lady Themisree sudah memiliki tunangan, Serena?” Kyrie bertanya sekali lagi.
Serena melihat Kyrie dengan tatapan aneh. “Tidak biasanya kau bertanya mengenai hal seperti ini kepadaku.”
Kyrie tertawa. Ia mencoba untuk tidak terdengar mencurigakan. “Sebenarnya, temanku menyukai Lady Themisree. Jadi ia memintaku untuk mengumpulkan informasi mengenainya.”
Raut wajah Serena langsung berubah. Ia terlihat lega dan kemudian tersenyum cerah. “Setahuku belum pernah ada orang yang mencoba bertunangan dengan Suiren. Sebagian besar karena sikap Jenderal Themisree yang begitu protektif terhadapnya.”
Kyrie kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah itu ia mengelus kepasa Serena dan berkata sambil tersenyum tipis. “Terima kasih, Serena.”
Kyrie bangkit dari duduknya dan kemudian membersihkan celananya dari rumput dan tanah yang menempel.
“Kau akan pergi sekarang?” Serena ikut berdiri.
Kyrie mengangguk. “Aku harus menyelesaikan urusanku di utara.”
“Kapan kau akan kesini lagi?”
__ADS_1
Kyrie terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam dan menhembuskannya. Ia harus mengakhiri perasaan yang ada di dalam dirinya ini. Hanya karena waktu telah berputar kembali dan gadis yang pernah ia cintai telah berada di hadapannya kembali, ia tidak bisa kembali ke masa lalu. Ia memiliki tujuan yang harus dicapai dan untuk mencapainya ia harus menyimpan perasaannya di dalam kotak dan tidak pernah membukanya kembali.
“Aku mungkin tidak akan kesini untuk waktu yang cukup lama.” Ujar Kyrie.
Serena terlihat bingung. “Apa kau akan pergi ke suatu tempat yang jauh?”
Kyrie menggeleng. “Kau tahu kan Harry selalu memarahiku karena aku selalu menelantarkan tugas demi bisa menemuimu, kurasa aku sudah terlalu banyak membebankan Harry. Maka dari itu aku akan menyelesaikan tugas-tugasku yang sudah menggunung.”
Serena mengangguk penuh pengertian.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kediaman Tagates. Bersamping-sampingan dengan langkah yang pelan.
“Aku akan merindukanmu.” Ujar Kyrie.
“Kurasa aku juga akan merindukanmu.” Balas Serena sambil tersenyum.
“Boleh aku meminta sesuatu darimu?” Kyrie menghentikan langkahnya.
Serena menatap Kyrie dengan tatapan bertanya-tanya.
“Bolehkah… aku meminta seikat rambutmu?”
Sebuah tradisi di Kekaisaran Helianthus bagi setiap laki-laki yang akan pergi berjuang di medan perang atau pergi dengan waktu yang cukup lama untuk meminta seikat rambut milik perempuan yang sangat penting di dalam kehidupannya. Semacam jimat agar sang laki-laki bisa kembali dengan selamat dan bertemu kembali dengan perempuan itu. Kyrie banyak menyaksikan ksatria yang pergi berperang melakukan hal ini. Baik itu dilakukan oleh sepasang kekasih, seorang kakak adik atau kepada seorang ibu.
Serena menaikkan kedua alisnya. Ia kemudian memelintir rambut emasnya. “Rambutku?”
Kyrie mengangguk.
“Kau berkata seolah-olah kau akan meninggalkanku untuk waktu yang lama, Kyrie. Jangan membuatku khawatir.”
Kyrie tertawa kecil dan kemudian mengacak-acak rambut Serena. “Sudah kuduga, akan aneh kalau aku meminta hal seperti itu tanpa ada alasan.”
Akhirnya mereka sampai di depan kediaman tagates.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Ujar Kyrie berpamitan.
Kyrie bersiap-siap naik ke atas keretanya tetapi ia dihentikan oleh sebuah tarikan di lengan jasnya.
“Tu-tunggu! Aku pinjam pedangmu sebentar.” Serena menarik pedang Kyrie dari sarungnya dan kemudian memotong sedikit rambut di bagian depannya. Rambut yang dipotong tadi sekarang menjadi tidak sama dengan rambut di sebelah kanannya. Tetapi Serena tetap terlihat cantik bahkan dengan ketidak sempurnaan itu.
Ia kemudian menyodorkan rambut emasnya kepada Kyrie. “Aku memberikan ini karena aku khawatir. Setidaknya dengan ini, aku yakin kau akan mengunjungiku lagi.”
Kyrie meraih seikat rambur yang digenggam Serena dan memasukkanya ke dalam sakunya. Ia kemudian tersenyum dan setelah itu pergi tanpa berkata sepatah katapun.
__ADS_1