
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku sampai-sampai kau harus memanggilku ke dalam toilet untuk wanita?” tanya Gerhard dengan rambut acak-acakannya. Dia berdiri diujung lorong kamar kecil dan menyenderkan tubuhnya di dinding.
Tubuh tinggi rampingnya dan wajahnya yang tampan menatap Ella dengan datar. Wajah yang berhasil memikat hati banyak gadis hanya untuk dipatahkan dan diinjak-injak. Benar-benar iblis berbulu domba.
Ella menggeleng dan kemudian mendekatinya.
Ia ingat sekali bagaimana laki-laki ini selalu mengejarnya dulu, namun ia kemudian menyerah karena Ella sama sekali tidak meliriknya. Laki-laki macam seperti ini adalah laki-laki yang sangat dibenci olehnya. Laki-laki yang hanya memikirkan hal-hal menjijikkan tanpa memiliki perasaan tulus dihatinya.
“Jangan bilang kau ingin memarahiku soal foto tanpa busana milik Terry yang kusebar.” Ujarnya cengengesan. “Dia sahabatmu, kan?”
Ella tertawa kecil walau didalam hati ia sangat ingin menendang laki-laki ini. Tetapi belum saatnya.
“Tentu saja aku marah soal itu, tetapi itu bukan alasan aku memanggilmu kesini.” Ella menyunggingkan senyum jenaka.
Sebentar lagi.
Ella meraih jemari Gerhard dan menariknya masuk ke dalam roknya. Gerhard terlihat luar biasa kaget, tetapi ia tidak mencoba melepaskan genggaman tangan Ella.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Gerhard bertanya.
“Bukankah kau selalu ingin melakukan ini?” Ella menyeringai sembari menarik jemari Gerhard ke paha bagian atasnya.
__ADS_1
“Kau tahu, aku merasa sedikit kesal ketika kau berhenti mencoba mendapatkan perhatianku.” Lanjut Ella. Kemudian ia mengeluarkan tangan Gerhard dari balik roknya sebelum hal yang lebih menjijikan dari ini terjadi.
Gerhard terlihat sedikit kecewa ketika Ella melepaskan genggamannya.
“Mungkin kalau kau mengejarku seperti dulu lagi, aku akan membiarkanmu melakukan hal-hal yang kau ingin lakukan kepadaku.” Seulas senyum tersungging dari bibir merah mudanya.
‘Sebentar lagi.’
Gerhard tersenyum kecil. “Hal-hal seperti apa?”
Kemudian Ella menarik tangan Gerhard kearah dadanya dan mendaratkannya tepat diatas dada kirinya. “Seperti ini.”
“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!! TOLONG SESEORANG!!!” Ella berteriak dengan kencang. Dihadapannya Gerhard terlihat bingung. Seolah-olah ia sedang melihat orang kesurupan tiba-tiba.
Ella menjatuhkan tubuhnya ke lantai sembari memeluk tubuhnya sendiri. Air mata mengalir dari kedua matanya dan tubuhnya bergetar hebat. Seolah-olah ia baru saja mengalami kejadian paling menyeramkan di dalam hidupnya.
Gerhard di lain sisi, berdiri sembari menatap Ella dengan tatapan bingung. Ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi di hadapannya ini.
Terdengar langkah kaki keras yang ditimbulkan dari suara sepatu hak tinggi mendekati kamar mandi wanita. Dari suara langkahnya, siapapun pemiliknya pasti sedang tergupuh-gupuh menuju asal teriakan.
“Ada apa?!” Pintu kamar mandi dibuka dan muncul sosok wanita berusia lima puluh tahunan dengan kacamata motif macan dan rambut disasak tinggi. Wajahnya terlihat kaget melihat pemandangan di depan matanya.
__ADS_1
Seorang murid laki-laki di dalam kamar mandi perempuan dan seorang murid peremuan yang terduduk di lantai dengan keadaan shock berat.
“To-tolong, Ibu Kepala Sekolah. Di-dia mencoba menyentuhku secara paksa.” Ella berkata dengan suara bergetar sembari menunjukkan jari telunjukknya kearah Gerhard.
“A-Apa kau gila, Ella?! Kau yang mengajak bertemu denganku di sini!” Gerhard mencoba menyangkal tuduhan Ella.
Tiba-tiba Ella menunjukkan gelagat aneh.
“BLERGH!!!” Ella memuntahkan isi perutnya kesamping kirinya.
“Saya tidak berbohong, Ibu Kepala Sekolah. Kumohon percayalah pada saya! Dia mencoba menggerayangi pahaku dan kemudian memegang dadaku.” Ella berkata sembari bergetar. Ia mengatupkan kedua tangannya dan menatap sang Kepala Sekolah dengan tatapan memohon perlindungan. “Kalau anda tidak memercayai saya, silahkan panggil polisi untuk memeriksa bagian tubuh saya. Saya yakin pasti sidik jarinya menempel di tubuh saya.”
Detik itu juga, Gerhard mengetahui bahwa apapun yang ia coba jelaskan tidak akan didengarkan oleh sang Kepala Sekolah. Ia tidak ada di posisi untuk menjelaskan apapun. Kenyataan bahwa ia sekarang berada di kamar mandi wanita dan sidik jarinya memang benar ada di tubuh Ella.
“KAU!!!” Gerhard berteriak murka. Ia baru menyadari bahwa ia masuk ke dalam perangkap yang dibuat Ella dengan sangat mudah. Ia menyerahkan dirinya kepada perangkap ini.
Sang Kepala Sekolah kemudian membantu Ella berdiri dan kemudian memapahnya. Ia mengelur punggun Ella lembut dan kemudian menatap Gerhard dengan tatapan penuh amarah. “Gerhard Tristano, Ibu tidak percaya kau melakukan hal serendah ini! Ikut Ibu ke ruangan Ibu sekarang juga.”
Kemudian sang Kepala Sekolah memapah tubuh Ella dan membawanya keluar.
Sebelum melewati pintu kamar mandi, Ella memutar kepalanya untuk menatap Gerhard. Ia memberikan senyuman penuh kemenangan kepadanya. “Semoga beruntung.”
__ADS_1