
Kediaman Narcissus memang tidak sebesar kediaman Wisteria tetapi banyaknya tumbuhan membuat kediaman Narcissus terlihat lebih besar dan asri.
"Lady Themisree, tolong ikuti saya." Seorang pelayan perempuan membungkukkan tubuhnya dan menggesturkan agar Suiren mengikutinya.
"Sampai nanti." Kyrie berkata sembari melambaikan tangannya.
Pelayan tadi membawa Suiren berjalan menuju rumah kaca yang terletak di halaman belakang kediaman Narcissus. Ia melewati banyak hamparan bunga mawar berwarna putih, merah dan merahmuda. Kediaman Narcissus memiliki tukang kebun yang sangat pandai dalam pekerjaannya.
Sang pelayan membuka pintu rumah kaca dan mempersilahkan Suiren masuk. "Silahkan, Lady Themisree."
Di dalam, meja berisikan enam kursi sudah terisi dan tersisa satu kursi. Sepertinya kursi itu ditujukan untuk Suiren.
"Selamat datang di kediaman Narcissus, Lady Themisree." Seorang gadis yang terlihat anggun dan elegan mendekatinya. Rambutnya berwarna cokelat tua dan kedua iris matanya berwarna cokelat keemasan. Gadis itu tersenyum kepada Suiren, memamerkan deretan giginya yang sempurna. Sempurna seperti mutiara.
Suiren menyangka bahwa gadis ini pasti Lady Theodora Narcissus, karena aura yang dikeluarkan dari dirinya seolah-olah berkata 'Aku adalah tuan rumah disini.'
"Lady Theodora Narcissus." Suiren membungkukkan tubuhnya dan memberi hormat.
Selain Theodora, terdapat empat gadis lain di rumah kaca itu. semuanya terlihat anggun dan elegan layaknya putri bangsawan pada umumnya.
Selanjutnya, Suiren menduduki salah satu kursi yang sudah disediakan untuknya. Tak lama setelah itu, para pelayan masuk membawa hidangan dan teh. Pelayan itu menuangkan teh di masing-masing cangkir dan setelah itu pergi menjauh dari meja.
Rumah kaca keluarga Narcissus adalah rumah kaca dengan desain yang sangat unik, berbentuk kubah dengan teralis berwarna emas yang memantulkan cahaya ketika terkena sinar matahari. Semerbak aroma melati juga memenuhi rumah kaca.
"Apakah anda merasa nyaman di Birmin?" tanya Theodora.
Suiren menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, disini lebih tenang daripada Ibukota tetapi semuanya tersedia."
Seorang Lady berambut pirang yang disanggul kemudian ikut masuk ke dalam percakapan. "Bagaimana dengan Duke Wisteria? Apakah anda bisa menceritakan hal-hal tentangnya?"
"Umm, Duke Wisteria dalah orang yang sangat perhatian dan ia berpartisipasi besar dalam membuat kenyamanan saya."
"Ah, Lady Themisree, omong-omong, anda terlihat sangat terpukul dengan kematian Lady Iris. Apakah anda sudah mengenalnya sebelumnya?" Seorang Lady dengan rambut kehijauan bertanya.
"Aku mengenalnya baru-baru ini, dan aku sangat menyukai keberadaannya. Tetapi sangat disayangkan apa yang terjadi kepadanya." Suiren menjawab pertanyaannya dengan canggung. Menurutnya, menanyakan kenapa seseorang sedih atas kematian orang lain sangatlah aneh. Saat ini ia merasa seperti sedang diinterogasi.
Kemudian terjadi keheningan. Setelah itu, seorang Lady yang wajahnya mirip seperti kucing bermata emas bertanya sembari menyesap teh di cangkirnya. "Bagaimana anda bisa bertunangan dengan Duke Wisteria setelah anda masuk menjadi salah satu kandidat Putri Mahkota? menurut saya itu perbuatan yang sanagt berani."
__ADS_1
Pertanyaan itu terdengan tulus tetapi ketika Suiren mendengarnya itu seakan-akan keluar sebagai sarkasme. Ia tidak suka dengan bagaimana sang Lady mengutarakan pendapatnya.
Melihat Suiren terdiam setelah mendengar pertanyaan itu, Theodora berusaha menengahi. "Saya ingin mengucapkan selamat atas pertunangan anda, Lady Suiren. Apapun itu, pasti Duke Wisteria memiliki alasan yang kuat untuk bertunangan dengan anda setelah anda dinyatakan masuk sebagai kandidat Putri Mahkota."
Suiren tersenyum canggung. "Tidak, Lady Theodora. Saya yang seharusnya mengucapkan selamat kepada anda."
Seketika, pembicaraan berubah menjadi terfokus kepada Theodora.
"Benar! Tidak ada siapapun diantara kita yang mengetahui calon suami anda, Lady Narcissus. Kami semua merasa sangat penasaran!" Lady bermuka kucing tadi bertanya dengan semangat.
Theodora menyesap tehnya dan tersenyum simpul. "Ia adalah pria yang selama ini kuidamkan. Ia menyukai anak kecil dan ia suka membantu. Bagiku, status sosial tidaklah penting dalam sebuah pernikahan. Selama orang itu memiliki akhlak dan kepribadian yang bagus, itu tidak masalah."
Mendengar perkataan Theodora, gadis-gadis lain memekik kegirangan. mereka pasti sudah membayangkan hal-hal romantis dikepala mereka.
"Satu hal yang pria itu ajarkan kepadaku." Ujar Theodora dengan jeda diantaranya. Ia kemudian menatap Suiren dengan senyuman. Walau begitu, dari tatapannya, Suiren menyadari bahwa ada makna tersembunyi dibalik tatapan itu. Tatapan itu sedikit terlihat dingin dan menusuk. "Bahwa kau tidak seharusnya mengambil barang milik orang lain. Mencoba mendekati barang itupun sebaiknya jangan, karena kita tidak pernah tau kapan ada gairah untuk menguasi barang itu."
'Apa dia pikir aku berusaha merayu Sir Naois? Tetapi, sepertinya hal ini memang sensitif diantara dua orang yang saling mencintai.'
Suiren meraih kue kering dihadapannya. "Saya setuju, Lady Narcissus. Anda sepertinya memiliki calon suami yang berkepribadian menarik."
Setelah itu, para gadis menghabiskan waktu berbincang-bincang satu sama lain. Sampai pada akhirnya, seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu di telinga Suiren.
Setelah mendengar itu, Suiren memutuskan untuk pamit dan undur diri. Ia berjjalan melewati tumbuhan menuju keluar rumah kaca.
Seperti yang dikatakan oleh pelayan tadi, Kyrie sudah menunggunya di luar dengan senyum diwajahnya. Mereka kemudian berjalan menuju halaman depan Kediaman Narcissus bersama-sama.
Begitu sampai di kereta kuda, Suiren langsung menyenderkan tubuhnya dan menghela napas panjang.
"Kau terlihat seperti habis berlari mengitari lapangan ketimbang menghadiri jamuan minum teh." Kyrie berkata dengan nada jahil.
"Aku lebih memilih berlari mengitari lapangan." Suiren berkata dengan nada malas.
Kyrie mengernyitkan dahinya. "Apa yang terjadi?"
"Tidak. Aku hanya lelah."
Kyrie kemudian pindah dari tempat duduknya di seberang Suiren dan menduduki sisi kosong disamping Suiren. Ia memegang tangan Suiren dan memainkan tangannya. "Apakah kau mendapatkan sesuatu terkait Naois Dianthus?"
__ADS_1
"Sama sekali tidak." ujar Suiren. "Tetapi aku mengetahui bahwa Lady Narcissus adalah orang yang sangat posesif."
Kyrie mengernyitkan dahinya. "Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Sepertinya memang salahku atau itu hanya perasaanku saja. Tetapi, Lady Narcissus memandangku seolah-olah aku ini sedang berusaha mencuri calon suaminya darinya."
"Kenapa ia bisa berpikir demikian?"
Suiren lupa bahwa ia tidak menceritakan insiden yang terjadi diantara Sergei dan Naois beberapa waktu yang lalu, jadi ia menceritakan semuanya dari awal sampai pada saat dimana Suiren mengajaknya bertemu sebagai ucapan permintaan maaf.
"Hmm..., sepertinya terjadi sedikit kesalahpahaman." ujar Kyrie.
"Tentu saja! Bahkan kau memahami niatku kan?" balas Suiren.
"Tidak mungkin kau memilih seorang Naois Dianthus ketika kau sudah memilikiku." lanjut Kyrie.
Suiren menunjukkan wajah cemberut kepada Kyrie. "Kau... kelewat percaya diri."
Kyrie kemudian meletakkan kepalanya diatas pangkuan Suiren. "Sepertinya aku tidak salah ketika mempekerjakan Sergei. Kalau aku ada ditempat mungkin aku akan mematahkan tangannya. Aku tidak suka ketika sesuatu yang menjadi kepunyaanku disentuh orang lain."
Suiren mecubit pipi Kyrie. "Itu sifat yang tidak bagus! Hilangkan sifat itu."
"Mungkin aku akan menghilangkannya kalau kau mau menciumku." Kyrie mengatakan itu dengan wajah jahil.
Suiren merasakan pipinya memerah. "He-hentikan."
Bukannya menghentikan kejahilannya, Kyrie menarik jari Suiren ke arah bibirnya dan mengecupnya dengan lembut. Kemudian ia menggigit jari Suiren dengan lembut dan membuat wajah Suiren yang sudah merah menjadi semakiin merah. Seperti buah apel.
Suiren menarik jarinya. "Baiklah, tetapi hentikan kejahilanmu ini."
Suiren mendekatkan bibirnya kearah kening Kyrie dan menyibak rambut yang menghalangi kening sempurna Kyrie. Ia kemudian mengecuk kening Kyrie dengan lembut.
"Su-sudah! Apa kau sudah puas?" ujar Suiren menarik kepalanya menjauh.
Kyrie tertawa kecil. "Tentu saja belum."
Kyrie melingkarkan lengannya kebelakang leher Suiren dan kemudian menariknya mendekati wajahnya. Ia juga mengangkat wajahnya agar Suiren tidak perlu menunduk terlalu jauh.
__ADS_1
Ketika bibirnya bersentuhan langsung dengan bibir Suiren, keduanya merasa seolah-olah mereka sedang tenggelam. Tenggelam di dalam cairan manis. Di dalam lautan madu.
Ciuman pertama mereka tidaklah lama, tetapi cukup untuk membuat Suiren kehabisan napas. Cukup untuk membuat kenangan ini membekas untuk waktu yang lama di kepala Suiren.