
"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Permaisuri Eleanor duduk di salah satu kursi yang mengitari meja berbentuk segi lima. Tangannya meremas surat yang ia terima dari Putranya di Perbatasan Timur.
Masih ada sekitar sepuluh menit sebelum kandidat Putri Mahkota datang ke Rumah Kaca untuk menghadiri jamuan minum teh yang diselenggarakan oleh sang Permaisuri.
Sang Permaisuri menoleh kiri untuk menatap pengawal pribadinya, Eric, dengan tatapan murka. Anting emasnya bergoyang ketika ia menoleh. Dari tatapannya ia mengisyaratkan agar Eric menjawab pertanyaannya.
"Menurut mata-mata yang ditempatkan di perbatasan timur, korban jiwa dari pertempuran antara pasukan Kekaisaran dan pasukan Kerajaan Ginryuu berjumlah nol. Para Ksatria dari pihak Kekaisaran hanya mengalami luka-luka saja."
"Apa kau pikir aku peduli dengan keadaan pasukan kita?!" Suara Permaisuri Eleanor meninggi satu oktaf. Matanya menyala karena marah.
Eric tidak membalas perkataan sang Permaisuri.
"Apa yang dilakukan Frederick disana?! Bukankah Jenderal Themisree ada disana?!" Permaisuri Eleanor memukul meja dengan kepalan tangannya. Urat-urat di lehernya menjadi lebih terlihat ketika ia memukul meja.
Sang Permaisuri kemudian memegangi lehernya akibat tekanan yang ia rasakan. Ia kemudian mencoba mengatur napasnya. 'Duke Wisteria juga sepertinya tidak menjalankan tugasnya dengan baik.' Pikir sang Permaisuri.
Tiba-tiba, pintu rumah kaca dibuka. Seorang pelayan tua masuk ke dalam rumah kaca. "Yang Mulia Permaisuri, para kandidat sudah tiba."
Permaisuri menghela napas panjang dan kemudian membenarkan posisi duduknya. "Persilahkan mereka untuk masuk."
Beberapa menit kemudian, empat orang gadis yang masing-masing terlihat anggun dan cantik dengan caranya sendiri memasuki ruangan. Mereka memberi hormat kepada sang Permaisuri, menunggu untuk dipersilahkan duduk di kursi.
"Silahkan duduk, para kandidat." Permaisuri berkata dengan senyum wibawanya. Tangannya menggesturkan bagi para kandidat untuk duduk dimanapun mereka mau.
__ADS_1
Gadis berambut merah darah dengan cepat mengambil kursi disamping kiri Permaisuri. Sementara yang lainnya tampak ragu-ragu untuk memilih kursi.
"Bolehkah saya duduk disini, Yang Mulia?" tanya gadis berambut merah walau ia sudah dalam posisi terduduk dikursinya.
"Tentu saja, Lady Rosa."
Setelah seluruh kandidat duduk di kursi masing-masing, sang Permaisuri berdeham. "Beberapa dari kita sudah saling mengenal, tetapi akan lebih baik jika kalian semua memperkenalkan diri dari awal. Silahkan dimulai dari Lady Rosa."
Gadis berambut merah yang bernama Tarance Rosa kemudian memperkenalkan diri. "Saya Tarance Rosa, Putri pertama dari Keluarga Rosa." suaranya terdengar tegas seolah-olah ia memahami bahwa dirinya adalah sosok yang tidak untuk dianggap remeh. Tatapan matanya menunjukkan kepercayaan diri yang besar.
Permaisuri mengangguk.
"Sebelum itu, Permaisuri. Saya ingin memberikan ini kepada anda." Tarance menyodorkan sebuah kota persegi kecil kepada sang permaisuri. Kotak biru tua itu dibalut dengan pita berwarna merah terang.
"Saya rasa, liontin itu akan membuat penampilan anda semakin bersinar, Yang Mulia." Tarance berkata dengan senyum anggun di wajahnya. Ia sama sekali tidak terlihat gugup ketika memberikan liontin itu, seakan-akan itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan.
Permaisuri Eleanor hanya tertawa mendengar perkataan Tarance. Ia kemudian mempersilahkan Serena yang duduk disamping Tarance untuk memperkenalkan diri.
"Sa-Saya Serena Tagates, Putri Pertama dari Keluarga Ro-Rosa." ujar Serena memperkenalkan diri. Ia bisa merasakan tangannya basah karena keringat dan gugup.
Seluruh orang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Pfft!" Tarance tertawa menyindir. "Sepertinya di Kekaisaran ini hanya ada satu putri pertama dari Keluarga Rosa dan orang itu adalah saya, Lady Tagates."
__ADS_1
Mendengar respon Tarance, Serena membelalakkan matanya. Wajah dan telinganya memerah dan memanas. "Ma-Maksud saya, Putri Pertama dari Keluarga Tagates." ia cepat-cepat membenarkan kekeliruannya.
Ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan sang Permaisuri, karena sebelumnya ia telah menghadiri jamuan minum teh secara individu bersama Putra Mahkota Frederick. Entah kenapa ia merasa jauh lebih gugup hari ini ketika ia menghadiri jamuan bersama para kandidat lainnya.
'Kalau Suiren ada disini mungkin aku bisa lebih tenang.' Serena menggumam dalam hatinya sembari meremas gaunnya. Ia menundukkan kepalanya.
Semua gadis disekitarnya terlihat luar biasa cantik, ia tidak bisa merasa bahwa dirinya adalah yang paling tidak menarik diantara mereka semua. Mereka semua terlihat percaya diri dengan dirinya masing-masing.
Belum lagi ketika Tarance memberikan kadonya tepat sebelum ia memperkenalkan dirinya, itu membuatnya merasa lebih terbebani karena ia datang tanpa membawa apapun untuk sang permaisuri.
"Kau tidak perlu gugup, Lady Tagates. Sebelumnya kita sudah pernah bertemu di jamuan minum teh bersama dengan Putra Mahkota Frederick." Permaisuri Eleanor berkata dengan nada lembut.
Mendengar hal itu, kandidat lain mengernyitkan dahinya.
"Jamuan minum teh?" tanya Tarance dengan senyum di wajahnya. Bibirnya sedikit berkedut.
"Benar sekali, Lady Rosa. Aku ingin berkenalan dekat dengan wanita yang dipilih secara personal oleh putraku untuk mengikuti seleksi kandidat Putri Mahkota ini." Ujar Permaisuri sembari memberi gestur bagi para pelayan untuk menuangkan teh di cangkir masing-masing.
Tarance dan kandidat lainnya kemudian menatap Serena dengan tatapan aneh. Tatapan seperti ketika seorang pemburu sedang melihat mangsanya.
Serena merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia mengira bahwa semua kandidat Putri Mahkota memiliki kesempatan untuk menghadiri jamuan minum teh individu bersama Putra Mahkota, tetapi ternyata hari ini pemikirannya itu dibuktikan salah. Dari respon kandidat lainnya, jelas bahwa hanya ia yang menerima undangan jamuan minum teh individual dari Permaisuri.
Dan Permaisuri memastikan bahwa semua kandidat lain mengetahui hal itu.
__ADS_1