My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Masa depan pt. 2


__ADS_3

“Ini tidak masuk akal. Putra Mahkota Theophael masih terlalu muda untuk dikirim ke medan perang!” Duke Rosa memukul meja setelah mendengar ide tidak masuk akal yang dikeluarkan oleh Ibu Suri.


Kyrie hanya bisa terdiam melihat kericuhan yang terjadi di hadapannya ini. Ia memprediksi bahwa ini akan terjadi, karena Ibu Suri adalah orang yang sangat haus akan kekuasaan.


Apabila ia mengirimkan Putra Mahkota Theophael ke medan perang, maka ialah yang akan memegang kendali atas takhta. Kalau yang terburuk datang dan Putra Mahkota Theophael terbunuh di medan perang, bisa jadi Ibu Suri lah yang akan naik takhta. Itu mungkin akan jadi awal mula kehancuran Kekaisaran Helianthus.


“Menurut saya, daripada memenuhi kepala Putra Mahkota Theophael dengan teori-teori, lebih baik menerjunkannya langsung di secara praktek. Dengan begitu, ia bisa matang secara dewasa lebih cepat dari seharusnya.” Duke Syringa berkata menyetujui ide Ibu Suri.


Ibu Suri tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Duke Syringa.


“Bagaimana dengan anda, Duke Wisteria?” tanya Ibu Suri. Tatapan matanya nyaris terlihat seperti ular.


Kyrie hanya tersenyum. Ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Putra Mahkota ataupun apa yang akan terjadi kepada Kekaisaran ini. Ia tahu bahwa tidak ada hal yang bisa ia lakukan untuk membenahi pemerintahan korup yang berada dibawah bayang-bayang Eleanor Helianthus. ‘Kalau kekaisaran ini akan hancur, silahkan saja. Aku Sudah tidak peduli dengan apapun.’ Pikirnya.


“Aku setuju. Biarkan Putra Mahkota pergi ke medan perang.” Ucapnya sembari berdiri meninggalkan ruang rapat.


“Duke Wisteria!” Duke Rosa berlari mengejar Kyrie sampai ke luar ruang rapat. Dengan dikeluarkannya pendapatnya maka mayoritas suara sudah didapatkan dan itu artinya suara Duke Liliium sudah tidak memiliki arti.


“Apa yang kau pikirkan? Anak itu masih kecil.” Ucapnya sembari mengatur napas.


Keluarga Rosa dulunya berada di belakang Permaisuri Eleanor, tetapi karena Lady Tarance Rosa yang merupakan putri pertama dari keluarga Rosa tidak terpilih menjadi pemenang dalam seleksi kandidat Putri Mahkota untuk Putra Mahkota Frederick, maka Keluarga Rosa berpindah haluan dan memutuskan untuk menjadi bagian dari faksi pendukung Kaisar Helianthus pada waktu itu.


Kyrie memicingkan kedua matanya dan menatap Duke Rosa dengan tatapan kesal. “Anda tidak usah berpura-pura peduli kepada Putra Mahkota Theophael, Duke Rosa. Anda hanya khawatir kalau Ibu Suri memegang kendali atas takhta, ia akan menghancurkan keluargamu yang dulunya mendukung mendiang Kaisar Thaddeus.”


Duke Rosa membelalakkan kedua matanya kearah Kyrie. Apa yang dikatakan sang Duke benar. Ia hanya tidak ingin takhta kekaisaran jatuh ke tangan Ibu Suri Eleanor Helianthus.


“Tsk! Tutup mulutmu Duke Wisteria. Jangan bertingkah seolah-olah kau tahu segalanya.” Kemudian Duke Rosa meninggalkan Kyrie.


Setelah itu, Kyrie berjalan menuju taman istana imperial. Mencoba menghirup udara segar ketika tiba-tiba seseorang menabrak kakinya.


Putra Mahkota Theophael.


“Maafkan aku, Duke Wisteria.” Ucapnya sambil menunduk.


‘Bocah tidak becus ini berani menabrak kakiku.’


Kyrie memberikan senyum palsunya. “Itu salahku, Yang Mulia.”


“Aku sedang melarikan diri dari tutorku. Ia mengatakan bahwa aku tidak boleh pergi sampai aku menghafalkan satu buku tentang sejarah Kekaisaran Helianthus.” Ujarnya malu-malu. Rambut Pirangnya yang berkilau terkena sinar mentari mengingatkannya kepada Serena.


Itu adalah salah satu alasan mengapa ia membenci bocah ini.

__ADS_1


“Apakah aku bertanya, Yang Mulia?” ujar Kyrie dengan nada sarkastik. Walau ia tidak yakin, bocah berusia tujuh tahun di hadapannya ini mengerti sarkasmenya.


“Apakah anda mau membantuku bersembunyi, Duke Wisteria?” tanya sang Putra Mahkota.


Kyrie mengernyitkan dahinya. “Tidak, Yang Mulia. Anda sebaiknya tidak kabur dari tutor yang bekerja keras untuk mengajarmu.” Walau Kyrie tahu apa yang dilakukan oleh tutornya lebih mirip penyiksaan daripada edukasi.


Wajah Putra Mahkota Theophael berubah menjadi sedih.


“Yang Mulia Putra Mahkota Theophael Helianthus!” sesosok berkacamata berlari kearah mereka berdua.


Sang Putra Mahkota bersiap-siap untuk lari tetapi tidak berhasil karena Kyrie menangkap kerah pakaiannya.


“Lepaskan aku, Duke Wisteria!” pintanya. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman erat sang Duke. “Setidaknya jika anda tidak ingin membantuku, anda tidak harus melakukan ini kepadaku.”


Kyrie tidak melepaskan cengkeramannya. Ia terus memegangnya dengan erat sampai sosok berkacamata tadi sampai kedekat mereka.


“Terima Kasih, Duke Wisteria.” Ujarnya sembari membungkuk memberi hormat. Ia kemudian menarik Putra Mahkota dan membawanya kembali ke dalam istana.


Dari kejauhan, Kyrie dapat melihat sang Putra Mahkota menolehkan lehernya dan menatap Kyrie dengan tatapan kesal.


Setelah kedua orang tadi benar-benar menghilang dari pandangannya, Kyrie berjalan masuk ke dalam taman menuju air mancur yang terletak ditengah-tengah taman. Niatnya adalah untuk menyendiri dan menjauhi hiruk pikuk istana imperial. Tetapi rupanya seseorang telah berada di dekat air mancur terlebih dahulu dan duduk ditepiannya.


Kyrie sedang tidak dalam suasana hati untuk berbicara dengan siapapun, sehingga ia pelan-pelan bergerak menjauhi air mancur.


Tetapi sang Jenderal sepertinya merasakan kehadirannya.


“Duke Wisteria.” Panggilnya. “Sudah berapa tahun semenjak terakhir kita bertemu?”


Kyrie perlahan memutar tubuhnya untuk menghadapi Jenderal Themisree.


“Jenderal Themisree.” Balasnya. Ia bahkan tidak mengingat kapan terakhir kali ia bertemu sang Jenderal. Karena wilayah mereka berbeda, keduanya tidak sering bertemu satu sama lain. Jenderal Themisree menghabiskan banyak waktunya mengurusi daerah timur yang semakin meluas semenjak perang Kekaisaran dengan Kerajaan Ginryuu, sehingga keduanya tidak banyak berhubungan satu sama lainnya.


“Sepertinya terakhir kali kita bertemu adalah di pemakaman putriku.” Ujarnya akhirnya menjawab pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. "Sepuluh tahun yang lalu."


‘Ah, benar. Putrinya meninggal dan aku mewakili Keluarga Wisteria datang untuk melayat.’


“Apakah anda mau mendengar ceritaku, Duke Wisteria?” tanyanya. Tatapan matanya terlihat lelah karena sudah termakan waktu. Kerutan diwajahnya terlihat lebih jelas daripada yang ada pada ingatan Kyrie saat ia bertemu dengannya sepuluh tahun yang lalu.


Kyrie menghela napas panjang. Tetapi ia memutuskan untuk mendengar cerita yang dimaksud oleh sang Jenderal dan duduk disampingnya.


“Aku memiliki saudari perempuan, namanya adalah Meredith. Ia memiliki jiwa bebas didalam darahnya, ia tidak bisa dikekang oleh apapun itu. Oleh karena itu, ketika Ayahku menyuruhnya untuk menjadi seorang pasukan kekaisaran, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Meninggalkanku dengan segala kewajiban yang seharusnya ia lakukan.”

__ADS_1


Angin berhembus dengan keras, menjatuhkan dedaunan dari pohon oak. Bunyi gemerisik mengikuti jatuhnya dedaunan, membuat Kyrie merasa ngantuk.


“Akhirnya aku menggantikan kewajibannya sebagai anak tertua dan mengikuti jejak Ayahku dengan menjadi seorang ksatria. Bukan main kagetnya aku ketika bertemu dengan Kaisar Thaddeus dan Meredith di medan perang antara Kekaisaran dan kerajaan Tahlia. Meredith telah menjadi anggota pasukan elite imperial. Ia menjadi sesuatu yang membuat ia lari dari rumah, menjadi sesuatu yang seharusnya ia benci.”


“Ketika melihat kedua orang itu bertempur di medan perang, mereka terlihat seperti sepasang sayap yang saling melengkapi. Bersama mereka menaklukan pasukan Kerajaan Tahlia dan lambat laun aku mulai memahami kenapa Meredith menjadi salah satu anggota pasukan elit imperial.”


Jenderal Themisree memberi jeda sembari menatap langit. “Mereka jatuh cinta, Duke Wisteria.”


“Pada waktu itu, Kaisar Thaddeus telah menikah dengan Permaisuri Eleanor, mereka bahkan sudah dikaruniai anak, yaitu mendiang Kaisar Frederick. Tetapi mereka tidak menikah karena cinta. Mereka menikah karena politik.”


Kyrie berusaha dengan keras untuk menahan kantuknya dengan menutup mulutnya dengan tangannya.


“Setelah itu aku tidak pernah bertemu dengan Meredith lagi karena aku sibuk mempertahankan perbatasan dan Meredith pun memiliki kesibukannya sendiri sebagai pasukan elit imperial. Hari berganti demi hari, suatu ketika Meredith muncul didepan kediamanku. Mengagetkanku dan Silvya, Isteriku.”


“Meredith tidak datang sendiri. Ia datang bersama janin berusia dua bulan yang terkandung di dalam rahimnya.”


“Tujuh bulan kemudian, bayi didalam kandungannya lahir. Meredith memberi nama yang tidak lazim, tetapi ia mengatakan bahwa nama itu mengingatkannya pada kenangan manis yang pernah ia alami. Nama bayi itu adalah Suiren.”


Itu adalah saat dimana Kyrie kehilangan rasa kantuknya.


“Ia meminta kepadaku dan Silvya untuk merawatnya seperti merawat anak kami sendiri. Setelah itu, seperti biasa, dengan tidak bertanggung jawabnya ia pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Bertahun-tahun aku membencinya karena telah melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab. Tetapi Silvya sangat menyayangi Suiren dan aku pun perlahan-lahan mulai mencintainya seperti anakku sendiri.”


Kyrie membelalakkan matanya atas informasi yang baru ia terima ini.


“Apakah… Mendiang Kaisar Thaddeus adalah Ayah dari Lady Suiren Themisree?” Kyrie bertanya dengan wajah bingung.


Jenderal Themisree tidak menjawab pertanyaan Kyrie. Ia hanya tersenyum kecil. Tetapi senyum kecilnya itu mengafirmasi apa yang dikatakan oleh Kyrie.


“Baru-baru ini aku tahu bahwa Meredith bukan meninggalkan kami karena ia tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.” Ujarnya, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi suram. “Ia dibunuh oleh Permaisuri Eleanor untuk alasan yang sangat jelas.”


“Tetapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak akan bisa menghidupkan orang yangsudah mati dan aku juga tidak bisa membalaskan dendamku kepada Permaisuri Eleanor. Untuk apa? Tidak ada lagi hal yang perlu kuperjuangkan. Aku terlambat mengetahui kebenarannya.”


“Mengapa… anda menceritakan hal ini kepadaku, Jenderal Themisree?” Tanya Kyrie.


Jenderal Themisree tersenyum. “Setidaknya dengan menceritakan hal ini kepadamu, kebenaran ini tidak perlu terkubur mati bersamaku. Karena ketika aku melihatmu, aku seperti melihat diriku. Kita berdua sama-sama tidak mampu melindungi sesuatu yang berharga bagi diri kita.”


Kyrie terdiam. Ia mengetahui maksud dari perkataan sang Jenderal. Bagaimana ia tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai dengan segenap jiwanya.


“Ini mungkin terakhir kalinya kita akan bertemu, Duke Wisteria. Kuharap anda akan selalu sehat dan bahagia.” Ucapnya kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Kyrie yang masih duduk mencoba untuk memproses segala informasi yang baru ia terima.


Dan itu menjadi kali terakhir ia pernah bertemu dengan Jenderal Themisree.

__ADS_1


__ADS_2