My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Kaisar dan permasalahannya


__ADS_3

Aroma Lavender di dalam ruang kerja Kaisar begitu menyengat sampai-sampai tidak ada satu nyamuk


pun yang berani singgah di dalam.


Akhir-akhir ini, sang Kaisar tidak bisa tidur dengan nyenyak sehingga ia meminta pelayannya untuk mengisidi vas bunga di ruang kerjanya dengan bunga Lavender. Ia berpikir bahwa apabila ia mencium banyak aroma Lavender saat sedang bekerja akan membantu tubuhnya menjadi lebih tenang.


Hari ini adalah hari dimana putra satu-satunya mengadakan audiensi untuk para kandidat Putri Mahkota terpilih. Walau ia tidak bisa hadir karena ia harus menemui delegasi dari Kerajaan Ginryuu dalam rangka membicarakan wilayah perbatasan antara Kekaisaran Helianthus dan Kerajaan Ginryuu. Tetapi, bukan kesepakatan yang mereka dapatkan melainkan permasalahan baru terkait dengan tambang yang terletak di wilayah perbatasan.


Karena tambang emas di perbatasan sudah dibagi lima puluh persen untuk tiap pihak, maka tidak ada pihak yang boleh menginjakan kaki ke dalam yurisdiksi pihak lainnya. Tetapi beberapa waktu kebelakang ini, Kerajaan Ginryuu telah menambah jumlah pasukan yang ditempatkan di garis batas perbatasan seolah-olah mereka sedang mempersiapkan untuk perang.


Tambang emas itu merupakan salah satu pemasukan terbesar yang dimiliki oleh Kekaisaran Helianthus. Selain menghasilkan pundi-pundi uang dari emas yang dihasilkan oleh tambang tersebut, ada hal lain yang membuat keberadaan tambang itu menjadi sangat penting bagi keluarga imperial.


Sudah dua dekade lamanya tambang emas di perbatasan dengan Kerajaan Ginryuu menjadi markas tempat perdagangan manusia. Walau keluarga imperial tidak ikut campur langsung didalamnya, tetapi sikap diam dan memberikan sebagian wilayah untuk dijadikan markas perdagangan manusia juga merupakan bentuk ikut campur tidak langsung.


Kemudian hari ini, delegasi dari Kerajaan Ginryuu yang dipimpin oleh Jenderal Kazuma Enkai mengatakan bahwa mereka akan membongkar perdagangan manusia yang banyak korbannya merupakan subjek kerajaan Ginryuu.


“Karena Keluarga Imperial Helianthus tidak ada hubungannya dengan perdagangan manusia ini, kami harap kerja samanya dengan tidak ikut campur dengan operasi yang akan kami lakukan.” Setidaknya begitulah perkataan Jenderal Kazuma Enkai.


Walau keluarga imperial tidak terlibat secara langsung, apabila terbukti bahwa tambang emas kepemilikan keluarga kerajaan menjadi markas perdagangan manusia, tidak menutup kemungkinan bagi Kerajaan Ginryuu untuk meminta tambang emas bagian Kekaisaran Helianthus sebagai permintaan ganti rugi.


Disaat kepalanya pening memikirkan masalah yang timbul ini, pintu terbuka dari luar dan bersamaan dengan itu seorang wanita berambut hitam pekat dan bermata biru langit memasuki ruangan. Sang Permaisuri.


“Yang Mulia Kaisar Helianthus, apakah semua berjalan lancar?” tanyanya dengan senyuman yangmemamerkan rentetan gigi rapinya.


Sang Kaisar tidak sedang dalam suasana untuk berpura-pura menjadi manis. Tetapi ia berhasil menjawab pertanyaan isterinya itu dengan senyuman tipis. “Sepertinya Kerajaan Ginryuu memiliki bukti bahwa tambang emas kita menjadi markas perdagangan manusia.”

__ADS_1


Permaisuri Eleanor berjalan mendekati Sang Kaisar seakan-akan dirinya sedang menari. Caranya membawa diri benar-benar anggun dan menawan. Ia terlihat seperti burung merak yang sedang berjalan memamerkan kecantikannya.


“Apa yang membuat anda berpikir demikian, Yang Mulia?” Permaisuri Eleanor bertanya.


“Mereka meminta Kekaisaran Helianthus untuk tidak menghalangi upaya mereka untuk membokar


perdagangan manusia di tambang emas.”


Suara tawa meremehkan keluar dari mulut Sang Permaisuri. Ia tertawa seolah-olah suaminya sedang bergurau. “Justru ketika mereka memberi tahu seluruh rencana mereka kepada kita, itu artinya mereka masih belum memiliki bukti yang cukup. Kalau mereka sudah memiliki bukti yang cukup, alih-alih meminta kita untuk kooperatif, seharusnya mereka langsung membongkar perdagangan manusia di tambang emas kita.”


Kaisar Helianthus benci untuk mengakuinya tetapi apa yang dikatakan Permaisurinya itu masuk akal.


“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?” tanya sang Kaisar.


“Hari ini seluruh kandidat Putri Mahkota telah menghadiri audiensi. Mereka semua sangat cantik dan manis.” Ia dengan secepat kilat mengubah topik seolah-olah hal yang dikhawatirkan suaminya itu bukanlah masalah besar.


“Benarkah?” Kaisar Helianthus menjawab tanpa menoleh dari tumpukan berkas dihadapannya.


“Frederick menganulir salah satu kandidat Putri Mahkota karena ia telah bertunangan dengan Duke Wisteria. Sangat disayangkan.” Lanjutnya.


Sang Kaisar sama sekali tidak tertarik untuk membahas mengenai urusan internal Keluarga Imperial karena isterinya memiliki kendali penuh atas hal itu. Ia hanya berharap calon Putri Mahkota untuk anaknya adalah seorang gadis yang kuat dan memiliki posisi setara dengan Permaisuri saat ini.


Ia tidak mau putranya harus selalu berada di bawah cengkeraman ibunya sampai ia menjadi Kaisar nanti. Seperti dirinya saat ini.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang kerja dengan keras. Putra Mahkota muncul dari balik pintu dengan ekspresi gusar.

__ADS_1


“Mengapa harus bertindak sejauh itu, Ibu?” tanpa basa-basi, Frederick langsung melontarkan pertanyaan kepada Ibunya.


Permaisuri Eleanor menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan bingung. “Bicara yang jelas, Frederick.”


“Frederick, kuharap kau punya alasan dibalik kerusuhan ini.” Kaisar Helianthus merasa terganggu dengan keributan tiba-tiba yang terjadi di hadapannya.


“Mengapa Ibu berbuat sejauh itu kepada seseorang yang tidak tahu menahu soal apapun? Mencoba membunuhnya dengan menenggelamkannya ke danau?” Frederick bahkan tidak repot-repot menjawab Ayahnya.


Permaisuri Eleanor mulai menangkap apa yang membuat Frederick begitu gusar saat ini sehingga ia mencoba untuk mengatasinya dengan pelan. “Frederick ini bukan saat yang tepat untuk membahas masalah ini.”


“Apakah Ibu memasukannya ke daftar kandidat Putri Mahkota dengan tujuan untuk membunuhnya?” Frederick berkata dengan wajah tidak percaya. Seolah-olah wanita dihadapannya ini bukanlah ibu yang melahirkannya, melainkan seorang monster.


Kaisar Helianthus sama sekali tidak mau ikut campur di dalam konflik diantara Permaisuri dan Anaknya ini. Kepalanya sudah cukup pening mengurusi hubungan eksternal Kekaisaran, ia tidak punya ruang untuk memikirkan permasalahan di hadapannya ini, Ia bahkan tidak ingin tahu siapa gadis malang yang menjadi target Permaisurinya ini.


“Frederick!” Permaisuri Eleanor memekik. “Ini bukan tempatnya.”


“Aku tidak ingin membicarakan masalah ini dimana-mana.” Frederick membalas dengan Suaranya yang terdengar dingin seperti es. Amarah menyoroti kedua matanya, mata yang selalu menatap Ibunya dengan segala hormat dan kehangatan telah hilang saat ini. “Kuharap ini terakhir kali Ibu melakukan hal seperti ini.”


Frederick kemudian meninggalkan ruangan tanpa memberi hormat kepada kedua orang tuanya. Meninggalkan Ibu dan Ayahnya dalam situasi canggung.


“Sebaiknya kau kembali ke ruang tidurmu untuk istirahat, Eleanor.” Ujar Kaisar akhirnya.


“Tolong jangan pedulikan omongan Frederick, ia hanya salah paham.” Eleanor berkata sebelum membungkuk memberi hormat kepada sang Kaisar. Ia kemudian berjalan meninggalkan ruangan.


Tanpa tidak perlu mengatakan hal itu, Kaisar Helianthus sama sekali tidak ada niatan untuk ikut campur dalam urusan Permaisurinya. Sebab kali terakhir ia ikut campur di dalam urusan Permaisurinya, ia hampir kehilangan takhtanya.

__ADS_1


__ADS_2