My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Kaen Ginryuu


__ADS_3

Kepala Suiren terasa pening luar biasa ketika ia membuka kedua matanya. Ketika menyentuh pelipisnya, ia merasakan sedikit memar di kulitnya.


“Sakit sedikit? Yang benar saja…” gumam Suiren. Ia kemudian melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa ia berada di tempat gelap yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Satu-satunya cahaya yang ada di tempat ini berasal dari obor yang menempel di dinding. Udaranya terasa berat dan tidak ada angin sama sekali. Tetapi Suiren tidak sendiri. Disekelilingnya ada banyak orang, baik itu laki-laki, wanita maupun anak-anak.


Semua orang terlihat lelah dan tidak bertenaga. Seakan-akan energi mereka tersedot hanya dengan berada di dalam tempat ini.


Butuh waktu untuk menyadari bahwa dinding tempat ia menyederkan tubuhnya adalah batu-batu kasar. Batu-batu yang berwarna keemasan. Ia berada di dalam tambang emas kekaisaran.


Sepertinya ia berhasil menjadi salah satu korban perdagangan manusia. Sekarang ia hanya perlu menunggu rencana yang telah dibuat oleh Jenderal Kazuma. Walau ia sendiri tidak mengetahui rencana itu, dan mungkin bodoh baginya untuk memercayakan hidupnya kepada orang yang tidak ia kenal, tetapi untuk beberapa alasan ia merasa bahwa rencana ini akan berhasil.


Suiren melihat sekelilingnya. Diseberang Lorong tempat ia duduk ada seorang gadis kecil yang duduk disamping seorang wanita yang berumur lima puluh tahunan. Gadis itu tidur di pangkuan wanita tadi. Disamping wanita tadi, seseorang duduk mengenakan tudung dan menutupi wajahnya. Kemudian di kiri Suiren, seorang laki-laki paruh baya terbatuk-batuk dan ketika ia bernapas napasnya terdengar berat.


‘Berapa lama orang-orang ini sudah berada di tempat ini?’ Pikir Suiren dalam hati.


Tiba-tiba dari dalam kegelapan seseorang muncul dengan mendorong sebuah drum yang terbuat dari kayu. Orang itu mengenakan penutup wajah berwarna hitam sehingga hanya kedua matanya saja yang terlihat. Dari posturnya, Suiren menebak bahwa orang itu adalah laki-laki.


Sosok tadi berjalan ketengah terowongan dan kemudian meninggalkan drum kayu tersebut. Kemudian sosok itu menghilang.


Segera setalah sosok tadi hilang, orang-orang mulai bangkit dari duduknya dan mendekati drum itu. Masing-masing membawa sebuah mangkuk kecil yang juga terbuat dari kayu.


Gadis yang tadi tertidur di pangkuan berlari paling cepat menuju drum tersebut. Ia mengarahkan mangkuk kecilnya dibawah pancoran dan membuka tuas diatasnya.


Dari dalam ujung pancoran tersebut keluar air.


Gadis ini mengisi penuh mangkuknya dan kemudian berlari menerobos kerumunan menuju sang wanita. “Minumlah, Ibu.”

__ADS_1


Wanita yang ternyata adalah Ibu dari gadis tadi menjadi terlihat bersemangat dan menyambar mangkuk yang dipegang oleh sang gadis. Kemudian wanita itu meminum air yang ada di dalam mangkuk itu dengan tergesa-gesa. Seakan-akan ia sudah tidak minum berhari-hari.


Setelah air didalam mangkuk itu habis gadis itu kemudian berlari lagi kearah drum, menerjang lautan orang-orang yang mulai mengelilingi drum. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan mangkuk yang kembali terisi penuh dengan air.


Ia kembali duduk di tempat awalnya tadi dan bersiap menegak air dari mangkuk tersebut. Tetapi ia berhenti ketika melihat Suiren sedang menatapnya.


Gadis itu menatap Suiren dengan mata gelapnya. Kemudian ia bangkit dan berjalan mendekati Suiren.


“Apakah kau tidak memiliki mangkuk untuk minum?” tanyanya. Wajahnya terlihat lesu.


Suiren menggeleng. Sejujurnya ia tidak merasa haus tetapi sepertinya pandangannya membuat gadis itu salah paham.


Kemudian gadis itu duduk disebelah Suiren dan kemudian menyodorkan mangkuknya.


“Kau boleh meminum ini.” Ujarnya.


Suiren menggeleng sembari tersenyum. “Kau dulu saja. Aku tidak begitu haus.”


Gadis itu kemudian mengangguk dan meminum dari mangkuknya. Setelah itu ia bangkit dan berlari menuju drum yang sekarang sudah tidak begitu di kerumuni orang-orang. Sesaat kemudian ia kembali dengan membawa mangkuk penuh dengan air.


Ia menyodorkannya kepada Suiren dan Suiren menerimanya. Kemudian ia duduk disamping Suiren.


“Terima Kasih…” ujar Suiren sembari mengisyaratkan bahwa ia ingin mengetahui nama gadis itu.


“Aku Anisha.” Gadis itu tersenyum.


“Terima kasih, Anisha.” Suiren mengelus kepala gadis itu. “Aku Suiren.”

__ADS_1


Anisha tersenyum. “Kau memiliki nama yang sangat cantik. Cocok dengan penampilanmu.”


Suiren hanya tersenyum dan kemudian mendekatkan mangkuknya ke mulutnya.


Tetapi sebelum berhasil menuangkan air dari mangkuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba mangkuk yang dipegangnya terlempar jauh.


Kejadian itu begitu cepat sampai-sampai ia tidak sadar apa yang sedang terjadi di hadapannya.


“Jangan minum itu.” ujar sosok bertudung itu dengan pelan tetapi cukup keras bagi Suiren untuk mendengarnya.


Sosok bertudung yang tadinya duduk didekat Anisha dan Ibunya tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Ia berjongkok dihadapan Suiren, menatapnya dengan kedua mata merah terangnya yang menyerupai batu ruby. Ia telah menepis mangkuk yang dipegang Suiren sampai-sampai mangkuk itu terlempar jauh dari tangannya, sekitar dua puluh meter dari tempatnya duduk.


Anisha sama kagetnya dengan Suiren. Karena setelah melihat kejadian dihadapannya, Anisha berlari kembali ke samping Ibunya dengan wajah ketakutan.


“Apa yang kau lakukan?” Suiren akhirnya bertanya dengan nada gusar. Tangannya bersiap-siap merogoh belati yang ia simpan didalam sepatu bootsnya.


Sosok tadi melepas tudungnya dan menunjukkan rambut hitam pekatnya yang serupa dengan rambut hitam Kyrie. Seorang laki-laki.


"Airnya diberi obat-obatan. Sekali kau meminum air itu kau akan menjadi kecanduan dan akan merasa kesakitan kalau kau tidak meminumnya lagi  dalam jangka waktu singkat." Tangan laki-laki itu menghentikan tangan Suiren yang sedang mencoba merogoh belatinya.


Struktur wajahnya terlihat berbeda dari orang-orang kekaisaran Helianthus, mirip seperti struktur wajah Jenderal Kazuma Enkai. Kedua bola mata merah yang dibingkai dengan mata runcing dan bibir tipis dengan kulit berwarna kuning langsat. Di telinga kirinya tergantung anting panjang berwarna merah dengan batu giok kecil sebagai ornament.


“Maaf atas kelancanganku, Suiren.” Seulas senyum terpancar di wajahnya.


Suiren mengernyitkan dahinya. Laki-laki yang berada dihadapannya ini memberi aura menenangkan. Aura yang sama Suiren dapatkan dari Putra Mahkota Frederick.


“Aku Kaen Ginryuu.” Matanya merahnya menyala ketika ia memperkenalkan dirinya. “Pangeran ketiga Kerajaan Ginryuu.”

__ADS_1


__ADS_2