
Sebelum Suiren datang, Naois telah lebih dulu datang dan menduduki salah satu meja yang berisikan dua kursi.
"Saya senang anda mau datang untuk menemui saya, Sir Naois." Ujar Suiren sembari menduduki kursi kosong dihadapan Naois.
Naois tersenyum kecil. "Saya tidak mungkin membiarkan anda menunggu, Lady Themisree."
Segera setelah itu, pelayan datang membawa teh dan kue-kue dan meletakannya diatas meja. Keduanya berbincang-bincang hangat sembari menyelesaikan hidangan yang tersedia di hadapan mereka.
Setelah itu, keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan di alun-alun kota.
Alun-alun kota pada hari ini terbilang cukup ramai, lebih ramai dari hari-hari sebelumnya.
"Apakah ada sesuatu hari ini? Sepertinya Kota Birmin lebih ramai dari biasanya."
"Hari ini adalah salah satu hari dimana anak-anak panti asuhan bisa pergi keluar dan menikmati kota Birmin." Jawab Naois sembari tersenyum menatap anak-anak yang berlarian kesana kemari.
Setelah Naois mengatakan itu, barulah Suiren menyadari bahwa jumlah anak berusia dibawah 17 tahun mendominasi kerumunan di alun alun kota.
"Anda sepertinya sangat mengetahui kota ini, Sir Naois." Balas Suiren.
"Tentu saja. Saya besar disini."
__ADS_1
Seorang anak perempuan dengan kepang di rambutnya mendekati Naois dan Suiren. Ia membawa beberapa kuntum mawar di keranjang yang tergantung di lengannya.
"Mawar? Hanya satu Crest." Ujar sang gadis dengan senyum di wajahnya. Ketika ia tersenyum, gigi ompongnya terlihat jelas.
Naois menyodorkan sepuluh keping Crest kepada gadis itu dan kemudian mengambil sebuah mawar dari keranjangnya. Ia kemudian mengelus kepala sang Gadis.
"Uangnya terlalu banyak, tuan." Gadis itu menatap Naois dengan bingung.
"Ambil saja. Mawar secantik ini seharusnya berharga lebih dari satu Crest."
Setelah itu, gadis itu pergi dan menawarkan bunga itu kepada orang-orang lain.
"Anak-anak panti asuhan ini sedang berusaha menabung untuk saat mereka keluar dari panti asuhan." Pandangan Naois tertuju pada kerumunan anak-anak yang sedang bersenda gurau satu sama lain.
"Tidak." Naois tersenyum lembut. "Saya dulu tinggal disana."
Suiren sedikit terkejut mendengar pernyataan itu.
"Saya diadopsi oleh keluarga Dianthus ketika saya berusia sepuluh tahun. Jadi saya bukanlah keturunan asli bangsawan." Naois berkata dengan senyum di wajahnya.
"Kalau begitu kita sama, Sir Naois." Suiren balas tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Jika begitu, bagaimana kalau kita berbicara informal mulai dari saat ini, Lady Themisree?"
Suiren menganggukkan kepalanya.
"Ketika aku mewarisi gelar baron, aku akan berusaha untuk membantu panti asuhan di Birmin sebanyak yang aku bisa. Walau sepertinya itu tidak akan semudah apa yang kubayangkan selama ini."
"Kau tidak akan pernah tahu kecuali kau mencobanya langsung, kan?" Balas Suiren.
Naois tertawa mendengar respon Suiren. "Harus kuakui, kau berbeda dari bayanganku."
"Aku sering mendengarnya."
Keduanya berjalan menuju air mancur dan duduk di tepian air mancur.
"Apa kau memiliki kepingan emas, Lady Themisree?" Tanya Naois. Ia melihat kebawah air mancur, rambut merahnya jatuh membingkai wajahnya dengan sempurna.
Suiren menganggukkan kepalanya. "Untuk apa?"
"Ketika aku masih di panti asuhan, aku sering melemparkan kepingan emas yang kuhasilkan dan membuat permintaan di air mancur ini. Kurasa itu yang membawaku sampai kepada hari ini." Naois merogoh kepingan emas dari sakunya.
"Hmm... aku belum memiliki keinginan untuk saat ini, jadi aku akan menggunakan kepingan emas ini untuk meminta agar harapanmu untuk membantu panti asuhan dapat terwujud." Setelah mengatakan itu, Suiren melemparkan kepingan emas ke dalam kolam.
__ADS_1
Airnya beriak kecil dan menimbulkan bunyi 'plop' ketika koinnya masuk ke dalam air. Bersama dengan itu, permintaan Suiren terbawa kedalam air mancur.