My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Siapa yang melakukannya?


__ADS_3

Sepanjang hari Suiren hanya tidur dikasurnya sambil memikirkan banyak pertanyaan. Ia bahkan meminta kepada semua orang di kediamannya untuk tidak menganggunya.


Apabila mengikuti cerita di dalam novel 'Serena', seharusnya Suiren meninggal dunia karena tenggelam.


Kematian Suiren Themisree di dalam novel tidak banyak dijelaskan selain fakta bahwa ia meninggal karena tenggelam, karena bukan kematiannya yang penting melainkan pemakamannya.


Ia tidak yakin apakah ia harus senang karena  tidak jadi mati konyol seperti di dalam novel atau sedih karena mungkin gara-garanya, Serena Tagates dan Putra Mahkota Frederick Helianthus tidak akan bertemu.


"Aku yakin ada yang mendorongku ke danau pada waktu itu." Suiren mengingat ingat hari dimana ia jatuh ke dalam danau teratai.


Ia ingat ketika tangan seseorang menyentuhnya dari belakang dan mendorongnya. Walau begitu, ia yakin sekali bahwa tidak ada orang disekitar danau teratai kecuali dia pada waktu itu. Lagipula, tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kediaman Keluarga Themisree.


‘Mungkinkah ada penghianat di dalam kediaman Themisree?’ Pikirnya.


Suiren cepat-cepat menghilangkan pikiran menuduh itu dari kepalanya. Ia percaya bahwa orang-orang yang bekerja di kediamannya adalah orang-orang yang jujur dan berintegritas.


Selain pertanyaan mengenai orang yang mendorong dirinya, ia juga memikirkan penyelamatnya.


Kalau bukan Gilbert yang menyelamatkannya, maka pastinya ada orang lain yang menyelamatkannya. Tidak mungkin tiba-tiba ia berada di pinggir danau, sebab air danau teratai sama sekali tidak bergerak.

__ADS_1


Mengapa meninggalkanku di pinggir danau bukannya langsung mencari pertolongan?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dikepalanya seperti baling-baling. Semakin ia berpikir, semakin sakit kepalanya.


"Haaa..." Suiren menghela napas panjang. Ia menggulirkan tubuhnya datas kasurnya ke kanan dan ke kiri.


"Apa yang membuatmu menghela napas begitu panjang?" Sebuah suara mengagetkan Suiren dari lamunannya.


Jenderal Themisree berdiri menyender di pintu masuk ruang tidur Suiren. Rambut peraknya berkilau seperi sinar bulan ketika terkena sinar matahari sore. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah bekerja mengurusi militer kekaisaran seharian penuh.


Wajah Suiren yang tadinya suntuk karena berpikir menjadi cerah ketika melihat Ayahnya.


"Jadi, apa yang menganggu pikiranmu seharian ini?" Tanya Jenderal Themisree sembari mengelus rambut perak Suiren.


Satu-satunya kesamaan fisik yang dimiliki oleh Ayah dan Anak perempuannya ini hanyalah warna rambut perak mereka. Walau Suiren merasa ia mirip dengan ayahnya, banyak yang menyangkal hal itu.


"Apakah hari ini pekerjaanmu sudah selesai?" Suiren membalas pertanyaan Ayahnya dengan pertanyaan.


"Aku sudah meminta Gilbert menyelesaikan sisa pekerjaanku. Hanya urusan dengan Ksatria Kekaisaran." Jenderal Themisree menuntun Suiren ke balkon yang menghadap Danau Teratai.

__ADS_1


Setelah kepergian Ibunya di usianya yang masih belia, seringkali ia hanya ditemani pengasuhnya, Freya. Ayahnya selalu pergi berperang entah itu untuk melakukan ekspansi atau untuk mempertahankan wilayahnya. Di masa-masa itu, ia selalu mendoakan keselamatan Ayahnya.


Saat ini, Ayahnya sudah memiliki posisi yang sangat tinggi sebagai salah satu dari empat jenderal perang Kekaisaran Helianthus yang biasa disebut dengan Dewan Perang. Sehingga, Ayahnya tidak perlu sering-sering pergi meninggalkannya. Namun bertepatan dengan jabatan yang diterima Ayahnya, Freya sang pengasuh memutuskan untuk pensiun karena usianya yang sudah kepala enam. Sepertinya Suiren memang tidak bisa mendapatkan segalanya.


Reina kemudian memasuki ruang tidur Suiren dengan membawa nampan berisi teko dan kue-kue kering.


Aroma teh melati dari keluar teko yang dibawa Reina. Aroma menenangkan yang membawa banyak kenangan. Teh melati adalah teh kesukaan mendiang ibunya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku." Jenderal Themisree menyeruput teh melati yang dituangkan Reina.


Suiren tahu ia tidak akan bisa menghindar dari pertanyaan ayahnya. Ia akan terus mengejar jawaban dari Suiren.


"Aku hanya merasa sedikit lelah setelah tenggelam kemarin."


Ia harus membohongi Ayahnya untuk saat ini. Karena ia tahu, akan rumit jika harus menjelaskan tentang ingatan mengenai kehidupan sebelumnya dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Ia juga belum menceritakan tentang kejadian saat ia tenggelam. Tentang dorongan yang menyebabkan ia tenggelam.


Ia harus mencari tahu tentang semua ini sendiri. Karena saat ini, ia tidak tahu siapa orang yang menginginkan kematiannya.


"Kau tak perlu khawatir, Ayah." Suiren berkata dengan senyum lebar di wajahnya. Ia tidak ingin membuat Ayahnya khawatir berlebihan kepadanya.  “Aku baik-baik saja.”

__ADS_1


__ADS_2