
Di dalam novel, tidak banyak bagian yang menceritakan tentang Kerajaan Ginryuu. Selain daripada ketika Frederick Helianthus pergi berperang dan memimpin pasukan yang berisi lima ribu ksatria.
Di akhir, Kerajaan Ginryuu mungkin hanya menjadi sebuah cara untuk membuat Frederick Helianthus tampak sebagai karakter utama yang sangat luar biasa. Karena melewati ekspektasi semua orang dari kekaisaran, Frederick kembali membawa kemenangan. Selain itu, ia bahkan berhasil menjadikan Kerajaan Ginryuu sebagai kerajaan vassal.
Sekarang, laki-laki yang berdiri dihadapannya adalah sosok yang menjadi salah satu pemicu perang diantara kedua bangsa. Tidak melebih-lebihkan kalau sosok yang dihadapannya ini dikatakan sebagai percikan api yang memicu kebakaran bagi dua bangsa.
‘Apakah aku bisa mengubah takdir orang dihadapanku ini?’ Pikir Suiren. ‘Kurasa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Aku seharusnya sudah mati tetapi aku masih hidup.’
“Senang bertemu dengan anda, Pangeran Kaen.” Suiren meletakkan tangan di dada kirinya untuk menunjukkan rasa hormat.
“Hilangkan formalitasnya.” Ujarnya sembari mengambil tempat disamping Suiren untuk duduk. “Kau bisa memanggilku Kaen.”
Suiren mengangguk.
Walaupun sosok yang akan ia selamatkan sudah berada sedekat ini dengan dirinya, tetapi ia tidak tahu langkah selanjutnya yang harus ia ambil.
__ADS_1
“Kau bisa mulai dengan menceritakan tentang apa yang membuatmu berada di tempat ini dan selanjutnya menjelaskan apa hubunganmu dengan Kazuma.” Kaen menyenderkan bahunya ke dinding berbatu. Kaki kirinya diluruskan dan kaki kanannya ditekuk.
Kemudian setelah itu, Suiren menceritakan segalanya. Mulai dari pertemuannya dengan Jenderal Kazuma Enkai sampai alasannya melakukan kesepakatan dengannya. Selama ia bercerita, Kaen hanya diam dan mendengarkan. Tidak sekalipun ia memotong pembicaraannya.
Setelah Suiren selesai bercerita, Kaen diam sejenak.
“Kenapa kau ingin membalas dendam kepada keluarga imperial Kekaisaran Helianthus?” tanyanya.
Suiren bergeming sebelum kemudian menjawab. “Itu masalah pribadi.”
“Kau orang kedua yang mengatakan itu kepadaku.” Suiren tidak perlu seseorang yang baru ia kenal mengejek rencananya, tanpa diberi tahupun ia sudah paham bahwa rencananya ini terdengar konyol. Tetapi ia tahu apa yang tidak diketahui orang lain, dan sekecil apapun langkah yang harus ia ambil dan sekecil apapun kemungkinannya untuk berhasil, ia tidak akan pernah tahu sebelum mencoba.
“Pertama, apa yang membuatmu yakin kalau Ayahmu akan menyelamatkanmu? Ia adalah seorang jenderal yang setia kepada siapapun yang duduk di takhta. Biarpun seseorang yang duduk di takhta itu adalah musuh dari putrinya sendiri.” Kaen mengangkat jari telunjuknya.
“Aku percaya ia akan menyelamatkanku. Aku putri satu-satunya.” Ujar Suiren berpegang teguh pada kepercayaannya.
__ADS_1
“Kedua, kalaupun Ayahmu akan menyelamatkanmu. Apa jaminan ia akan datang tepat pada waktunya?” lanjut Kaen.
Suiren tidak menjawab pertanyaan Kaen.
“Kau adalah orang paling naif yang pernah kutemui.” Kaen melanjutkan. “Terkadang seseorang telah merencanakan sesuatu dengan sangat baik tetapi jika takdir berkata lain, rencana itu tidak akan tercapai. Apalagi dengan rencana berantakan yang telah kau buat ini?”
“Aku mengerti poinmu, Kaen.” Suiren akhirnya menatap mata lawan bicaranya itu. “Tetapi ini pilihanku. Kau tidak punya hak untuk berbicara.”
Kaen menatap Suiren dengan mata merahnya yang terlihat mengintimidasi. Kemudian tersenyum. “Aku penasaran dengan bagaimana akhir dari rencanamu ini, Suiren.”
“Sejujurnya aku sudah siap akan membatalkan misi ini, dan kembali dengan rencana yang lebih matang. Tetapi kurasa menunggu sebentar lagi tidak akan menyakitkan.”
“Kalau begitu, mari kita bertaruh.” Ucap Suiren. “Kalau rencana ini berhasil, kau akan mengabulkan permintaanku, apapun itu. Begitu juga sebaliknya.”
Kaen tertawa seolah-olah ia sudah tahu akhir dari taruhan ini. “Baiklah. Kuharap kau tidak menyesal.”
__ADS_1