
Sedari tadi Suiren hanya mondar-mandir di kamarnya seperti obat nyamuk. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Pertama, mengapa tiba-tiba Kyrie Wisteria muncul di kediamannya dan meminta bertunangan dengannya? Kedua, Apakah benar penyelamat nyawanya adalah seorang Kyrie Wisteria? Maksudnya, itu terlalu aneh untuk menjadi sebuah kemungkinan. Yang terakhir adalah, bagaimana Kyrie Wisteria bisa mengetahui bahwa ia tidak tenggelam karena kesalahannya sendiri?
“Arghhhhh!! Kenapa akhir-akhir ini otakku dipaksa untuk berpikir lebih sering dari biasanya?!” Suiren mengacak-acak rambutnya dan melempar tubuhnya keatas kasur.
“Aku merindukan saat ketika aku tidak perlu memikirkan banyak hal…” gumamnya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya.
“Sepertinya aku berhak bersenang-senang setelah apa yang telah kulalui satu minggu belakangan ini.”
Ia kemudian memakai pakaian sederhana yang menyerupai pakaian rakyat di kekaisaran Helianthus pada umumnya dan mengenakan tudung hijau tuanya untuk menyembunyikan rambut perak yang mencoloknya itu.
Setiap ia merasa membutuhkan udara segar, ia selalu menyelinap pergi dari kediamannya dan bermain-main di ibukota kekaisaran yang selalu ramai. Lagipula, jarak antara kediamannya dan pusat ibukota tidaklah jauh.
Tidak lupa ia membawa beberapa keping emas di dalam sakunya.
Ketika keluar dari kamarnya ia memastikan tidak ada orang yang melihatnya dan kemudian bergegas pergi ke taman belakang kediamannya. Lebih mudah untuk memanjat pagar di taman belakangnya daripada di depan, karena terdapat banyak pohon tinggi sehingga mudah untuk meloncati pagar yang ukurannya sangat tinggi.
Taman belakang kediamannya tampak sepi dan sedikit remang-remang, tetapi itu tidak menghentikan aksinya.
Suiren kemudian memanjat sebuah pohon besar yang selalu ia panjat setiap kali ia memutuskan untuk menyelinap dan melompati pagar belakang kediamannya.
“HUP!”
Akhirnya ia berhasil melompati pagar dengan selamat. Ia sudah terbiasa melakukannya sampai-sampai rasa sakit ketika menyentuh tanah sudah tidak terasa lagi.
Ia bergegas berjalan menuju pusat ibukota sambal tetap mengawasi sekitarnya.
Ia memang sering pergi keluar kediamannya secara diam-diam tetapi biasanya hanya untuk bersenang-senang di keramaian ibukota. Tetapi kali ini ia memikirkan suatu hal yang berbeda. Suatu hal yang menjadi kebiasaan di kehidupannya sebelumnya entah bagaimana telah terbangkitkan di dalam dirinya saat ini.
Suiren berhenti di depan sebuah bar dan kemudian menatap bar itu untuk waktu yang lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menelan segala kegugupannya dan masuk.
Beruntung baginya karena bar itu hanya terisi oleh beberapa orang saja. Karena memang hari belum terlalu malam dan biasanya temapt-tempat seperti ini hanya ramai pada malam hari.
Ia segera duduk di tempat yang kosong dan memesan kepada salah satu pelayan wanita yang sedang membersihkan meja.
__ADS_1
“Tolong bir-nya satu. Terimakasih.” Ia mencoba terdengar natural. Karena biar bagaimanapun ini pertama kalinya ia memesan bir di kehidupannya kali ini.
Pelayan wanita tadi mengangguk. Segera setelah itu, ia kembali dengan membawakan sebuah bir di dalam gelas berukuran besar.
Suiren mulai khawatir apakah ia bisa menghabiskan bir itu sendirian atau tidak.
Kemudian ia mulai menegak bir dihadapannya. Tegukan pertama terasa menyengat di tenggorokan dan panas di perutnya. Tetapi ia mengingat sensasi ini dari kehidupan lamanya dan ia menyukainya.
Ia kemudian kembali menegak bir tersebut sampai benar-benar habis.
'Fuahhh… rasanya seperti surga,' pikirnya dalam hati.
“Saya pesan satu lagi!” kali ini ia berteriak kepada pelayan dengan nada riang dan bersemangat.
Akhirnya, gelas kedua datang dan Suiren cepat-cepat meminumnya sampai habis tak tersisa.
“Satu lagi⁓!” lagi-lagi ia berteriak kepada palayan. Kali ini wajahnya terlihat sedikit merah dan ketidak jelasan mulai terdengar dari suaranya.
“Nona, apakah anda akan baik-baik jika menambah satu gelas lagi?” Pelayan tadi terdengar khawatir.
Suiren melambaikan tangannya di wajah pelayan tadi sambal tersenyum. “Tidak uash khawatir, saya baik-baik saja hehehe⁓!”
“Terima kasih⁓”
Suiren mendekatkan gelas itu ke mulutnya dan bersiap menegaknya lagi tetapi kali ini ia dihalangi oleh tangan seseorang. Seseorang itu mengambil gelas bir dari tangan suiren.
“AAAA!!! BIRKU DICURI!!!” Suiren berteriak tetapi suaranya terdengar kabur. Wajahnya saat ini sudah bisa disamakan seperti kepiting yang sudah direbus, merah merona.
“Anda mengejutkan saya dua kali hari ini, Lady Themisree.” Sosok tadi berkata.
Disela-sela mabuknya, Suiren samar-samar masih mengingat suara itu. Kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk melihat pencuri birnya.
Kyrie Wisteria berdiri dibelakangnya dengan berpakaian serba hitam dan mengenakan tudung seperti yang Suiren kenakan.
Suiren kemudian menunjuk jari telunjuknya kearah Kyrie. “Kembalikan birku!” suaranya terdengar semakin tidak stabil sehingga perintahnya terdengar seperti rengekan.
Bukannya mengembalikan birnya, Kyrie justru menduduki kursi kosong dihadapan Suiren. Ia menyeruput bir yang awalnya merupakan milik Suiren dan menghabiskannya.
__ADS_1
“Saya akan menerima bir ini sebagai pembayaran atas nyawa anda.” Kyrie berkata sembari meletakkan gelas bir kosong diatas meja.
Suiren mendengus dan menatap Kyrie dengan penglihatannya yang sedikit kabur. “Lupakan formalitasnya, Duke Wisteria. Kau sudah mencuri birku, sepertinya kita sudah ditahap dimana kita tidak perlu menggunakan formalitas lagi.”
Kyrie tertawa mendengar permintaan Suiren. “Lalu, dengan apa aku harus memanggilmu?”
“Suiren saja.. hic.” Suiren menjawab dengan cegukan kecil.
“Baiklah.” Kyrie menyetujui permintaan Suiren. “Lalu, apa yang kau lakukan disini Suiren?”
Mendengar pertanyaan Kyrie, Suiren tertawa kesal. “Aku ada disini gara-gara kau, Kyrie.”
Kyrie tidak ingat telah memberikan izin bagi wanita dihadapannya ini untuk memanggilnya dengan nama pertamanya. Tetapi karena Suiren sedang mabuk, maka ia membiarkan hal ini.
“Gara-gara saya?” tanyanya.
“Kau membuatku banyak berpikir sehingga aku harus melepaskan stress dengan cara meminum bir!” Suiren berteriak sambal menggebrak meja.
“Kau muncul dihadapanku tiba-tiba dan meminta bertunangan denganku. Lalu kau mengatakan bahwa kau yang menyelamatkanku dari ambang kematian. Semua itu membuatku berpikir keras, karena hal-hal yang kau lakukan sama sekali tidak masuk akal!”
“Lady Suiren tenanglah.” Kyrie mencoba menghentikan Suiren melakukan hal-hal buruk.
“DAN SEKARANG KAU MENCURI BIRKU!!!” teriak Suiren di depan wajah Kyrie.
Setelah itu Suiren kembali duduk di kursinya dan menempelkan wajahnya di atas meja.
“Sangat disayangkan aku terlahir sebagai karakter sampingan. Padahal kau adalah karakter favoritku.” Gumamnya tidak jelas.
Kyrie bahkan tidak bisa mendengar perkataan Suiren dengan jelas. Di telinganya, suara Suiren terdengar seperti igauan orang dalam tidurnya.
“Baiklah, Lady Suiren. Sepertinya aku harus meminta salah satu pelayanku untuk mengantarmu kembali ke kediamanmu.”
Kemudian Suiren terbangun lagi dan menunjuk Kyrie dengan telunjuknya. Kali ini ia berbicara dengan jelas. “Dengar! Walau begitu, aku akan tetap menyukaimu, entah dikehidupan lamaku atau dikehidupan ini.”
Setelah itu, Suiren benar-benar tertidur. Wajahnya menempel diatas meja dan terdengar dengkuran ketika ia bernapas.
Kyrie terdiam mendengar kalimat Suiren sebelum ia sepenuhnya tidak sadar diri. Ia menatap Suiren yang tertidur dihadapannya cukup lama. Senyuman tipis muncul dari bibirnya, walau begitu senyumannya terlihat sedih.
__ADS_1
“Aku harap menjadi bahagia itu semudah yang kau ucapkan, Lady Suiren.”