My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Bangun dari mimpi aneh


__ADS_3

Empat tahun kemudian…


"Ella! Episode terakhir novel 'Serena' sudah keluar!" Terry berkata sembari menerobos masuk ke kamar Ella.


Melihat sahabatnya masuk ke kamar, Ella hanya bisa berpikir satu hal. Pasti ini sudah siang.


Semalaman ia mengerjakan skripsinya sampai-sampai ia lupa bahwa malam sudah berganti menjadi siang.


Ella meregangkan tubuhnya dan menyesap kopi hitam yang sudah sisa seperempat cangkir.


Ini sudah menjadi kebiasaan bagi Ella. Selama ia menjadi mahasiswa tingkat akhir, jangankan tidur delapan jam sehari, Bisa mengejapkan mata saja sudah beruntung baginya.


"Terry, beri aku spoilernya. Aku tidak punya waktu untuk membacanya." Ujar Ella sembari menguap.


"Kau tidak tidur lagi?" Terry bertanya dengan nada khawatir.


"Apa itu tidur?" gurau Ella.


Terry hanya menghela napas panjang, mulutnya sudah lelah menasihati sahabatnya ini. "Endingnya mudah ditebak sih."


Ella memutar kursinya untuk menghadap Terry yang duduk di tepi kasur Ella.


"Serena dan Putra Mahkota Frederick menikah." Ujarnya. "Happy ending."


Ella mengerutkan wajahnya. Ia senang dengan Happy Ending bagi Serena dan Frederick, tetapi ia merasa tidak adil kalau hanya karakter utama yang bahagia.


"Lalu Kyrie?" Tanya Ella. Sedikit berharap karakter favoritnya mendapatkan akhir yang bahagia juga, walau dia tahu itu mustahil.


"Kyrie itu hanya karakter pria utama kedua. Sejak awal kita sudah tahu kan kalau dia tidak akan mendapat akhir yang bahagia?" Jawab Terry.


"Kau harusnya bersyukur Kyrie masih hidup." Lanjut Terry. "Perasaan yang ia miliki terhadap Serena itu bukan cinta, tapi obsesi."


Ella cemberut kearah Terry. "Kalau tidak ada dia, 'Serena' hanya akan menjadi cerita romantis yang membosankan."


"Seleramu memang aneh." Balas Terry.


Ella hanya tertawa kecil sambil meraih handuknya di kasur. "Aku hanya ingin seseorang mencintaiku seperti Kyrie mencintai Serena."


Kemudian, Ella melirik kearah jam dinding dan mendapati bahwa waktu menunjukkan pukul 11 siang. Kemudian, ia


bergegas berdiri untuk mandi.


Ketika berdiri, tubuhnya terasa berat dan pandangannya menjadi kabur. Tanpa ia sadari, tubuhnya telah terjatuh ke lantai.


BRAK!!!

__ADS_1


"Ella?!" Terry berteriak. Kepanikan terdengar dari suaranya.


Ella bisa mendengar Terry, tetapi ia tidak bisa merespon.


"Ella jangan bercanda!" Terry menguncang tubuh Ella.


‘Ella? Siapa Ella? Aku Suiren...’


"OM! TANTE! SIAPAPUN TOLONG!" lagi-lagi Terry berteriak.


‘Apakah aku sudah mati? Jadi tidak ada yang menyelamatkanku saat tenggelam?’


‘Siapa orang yang berteriak ini? om? tante? siapa itu?’


Ketika Suiren membuka matanya, ia dikelilingi kegelapan.


Tiba-tiba ia teringat akan memori yang tidak pernah ia alami. Setidaknya tidak ketika ia menjadi Suiren.


Terry. Skripsi. Novel 'Serena'.


Hal-hal yang asing di pikirannya tetapi entah mengapa terasa familiar disaat yang bersamaan. Seakan-akan ia merasakan déjà vu.


Rupanya Suiren teringat masa lalunya. Bukan. Lebih tepatnya Ia teringat akan kehidupan sebelumnya.


‘Putra Mahkota Frederick? Nama itu tidak asing...’ pikir Suiren.


Kemudian, tubuhnya berputar-putar layaknya sebuah tornado. Ia berputar begitu kencang tetapi anehnya ia tidak merasa pusing. Setelah lama berputar, Suiren seakan merasakan kakinya tertarik ke bawah, ia merasa bahwa tubuhnya jatuh. Jatuh ke kedalaman yang seperti tak ada akhirnya.


“…ren.” Suiren mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan.


“Suiren.” suara itu lambat laun semakin terdengar jelas. Suara familiar yang membuatnya merasa nyaman.


Sekuat tenaga ia berusaha membuka kedua matanya dan melawan gravitasi. Ia sendiri tak tahu bagaimana persisnya ia melawan gravitasi. Ketika memikirkan suara itu, Suiren seakan-akan merasa memiliki kekuatan untuk melawan segala hal di dunia ini.


Tangannya meraih kedalam kehampaan.


“Akh!”


Ketika membuka matanya, Suiren dihadapkan pada pemandangan yang familiar. Langit-langit ruang tidurnya yang berukiran bunga marigold berwarna emas.


Ia mengatur napasnya seakan-akan ia sudah tidak bernapas selama berhari-hari.


“Suiren…” Suara familiar yang memanggilnya di dalam kehampaan tadi membuat tubuhnya yang tadinya tegang menjadi lebih tenang.


“Ayah?” Suiren berbicara. Tenggorokannya terasa sakit dan kepalanya terasa pening. Tetapi itu semua jauh

__ADS_1


lebih baik daripada saat ia berada di dalam kegelapan.


“Gilbert!” bukannya menjawab Suiren, Jenderal Arnold Themisree memanggil pengawal pribadi Suiren.


Seseorang dengan tergesa-gesa membuka pintu ruang tidur Suiren. Wajahnya terlihat pucat dan rambut cokelatnya yang biasa tertata rapi terlihat kusut. Walau kemudian setelah melihat Suiren telah sadar dari tidurnya wajah pucatnya digantikan oleh wajah lega.


Tanpa mengatakan apapun, Gilbert berlari meninggalkan kamar Suiren.


“Suiren… kau… apakah kau baik-baik saja?” tanya Jenderal Themisree. Seluruh perhatiannya tertuju pada putri semata wayangnya. Wajahnya terlihat berkerut dan kantung matanya terlihat sangat jelas. Walau begitu ia masih tetap terlihat tampan.


Suiren mengangguk tanpa berbicara apa-apa. Karena ia tidak ingin merasakan sakit di tenggorokannya lagi.


Secepat hilangnya Gilbert dari pandangan Suiren, ia kembali bersama seorang Wanita berkacamata.


Wanita itu cepat-cepat bergerak ke sisi kanan Suiren dan meletakkan jarinya di pergelangan tangannya untuk mengecek nadinya. Sepertinya ia seorang tabib.


“Sepertinya, Lady Suiren baik-baik saja.” Ujar Wanita itu sambil melihat kedalam tenggorokan Suiren. “Untuk beberapa waktu ini sebaiknya Lady Suiren tidak bergerak ataupun berbicara terlalu banyak. Sepertinya tengorokannya terluka ketika ia berteriak bersamaan dengan masuknya air ke tenggorokannya.”


Wajah Jenderal Themisree yang tadinya terlihat khawatir berubah menjadi sedikit lebih lega. Tetapi ia tetap tidak bisa menyembunyikan ekspresi khawatirnya.


“Suiren, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Jenderal Themisree dengan wajah khawatir. Sudah lama ia tak melihat ayahnya berekspresi wajah seperti ini.


“Aku tenggelam.” Jawabnya singkat.


“Tenggelam? Bagaimana kau bisa tenggelam? Apakah kau terjatuh ke dalam danau?” Jenderal Themisree menjatuhkan pertanyaan yang bertubi-tubi kepadanya. Suiren tidak menjawab, ia hanya mengelus-elus tenggorokannya yang terasa perih.


Saat ini, hal yang paling diingatnya adalah fakta bahwa seseorang mendorongnya hingga ia terjatuh ke dalam kolam. Seseorang yang sepertinya menginginkan kematiannya. Tetapi kepalanya berdenyut hebat ketika ia mencoba mengingat-ingat kejadian itu.


Gilbert kemudian berlutut dan menempelkan dahinya di lantai. Tubuhnya bergetar karena takut.


“Lady Suiren maafkan aku! Ketika aku kembali ke danau untuk menjemputmu, kau sudah berada di samping danau dengan keadaan basah kuyub.” Ujarnya Gilbert dengan nada bersalah.


“Ini juga salahku, Suiren.” Jenderal Themisree menengahi. “Seharusnya aku tidak memanggilnya.”


“Aku pasti telah membuat kalian khawatir.” Ujar Suiren pelan sambil menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku juga minta maaf.”


Jenderal Themisree kemudian mengelus kepala Suiren dan kemudian mengecup keningnya. Kecupan yang sangat hangat dan lembut.


“Istirahatlah.” Jenderal Themisree berkata. “Ketika keadaanmu sudah membaik, kita akan membicarakan tentang kejadian kemarin.”


Suiren mengangguk dan kemudian mencoba untuk membenarkan posisi tidurnya.


'Mengapa aku merasa seperti melupakan suatu hal penting?' Pikirnya.


Setelah itu, Jenderal Themisree, Gilbert dan tabib tadi meninggalkan Suiren sendiri di kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2