My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Ingatan akan kehidupan yang sebelumnya


__ADS_3

Keesokan harinya, Suiren bangun dari tidurnya dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya.


Ruang tidurnya dipenuhi buket dan vas yang berisikan bunga-bunga dengan warna terang dan ceria. Aroma bunga yang bercampuran membuat Suiren merasa dirinya seakan-akan berada di taman bunga.


"Lady Suiren, anda sudah bangun." Sapa Reina, salah satu pelayannya. “Apakah tubuhmu sudah terasa lebih baik?”


Suiren mengangguk. Reina membalas dengan senyuman. Di tangannya, buket bunga marigold yang sangat cantik bertengger.


"Ini dari keluarga Tagates." Reina kemudian meletakkan buket bunga itu di samping buket bunga mawar.


Setiap keluarga bangsawan di Kekaisaran memiliki emblem berbentuk bunga yang sekaligus menjadi nama keluarga mereka. Sehingga mudah untuk menebak siapa-siapa saja yang telah mengiriminya bunga. Suatu saat nanti, jika diperlukan ia akan mengembalikan semua yang ia terima ini.


"Bunga Marigold dari keluarga Tagates, ya?" Suiren menyengir. "Sangat mudah ditebak."


Mata Suiren tertuju kepada vas bunga besar berisikan bunga Matahari.


"Kalau begitu, bunga Matahari itu dari Keluarga Imperial?" Lanjutnya.


"Betul sekali, Lady Suiren." Jawab Reina sumringah.


'Yang diberi bunga siapa, yang sumringah siapa?' Pikir Suiren.


"Mungkin sehabis ini undangan untuk menjadi kandidat Putri Mahkota akan tiba." Suiren bisa mendengar suara Reina meninggi satu oktaf saking gembiranya.


Kandidat Putri Mahkota? Yang benar saja. Undangan itu hanya datang kepada putri dari keluarga bangsawan saja. Suiren tahu benar bahwa dia bukan putri bangsawan. Keluarga Imperial mengirimkan bunga hanya  karena ia merupakan putri dari seorang Jenderal Perang yang sangat berjasa bagi kekaisaran.


"Aku bukan bangsawan, Reina." Pungkas Suiren. Ia kemudian meraih cangkir teh diatas meja kecil disamping tempat tidurnya.

__ADS_1


"Tetapi mendiang ibumu dulunya adalah seorang Tagates. Setidak-tidaknya, setengah darah bangsawan mengalir di dalam nadimu." Pungkasnya balik.


Menjadi putri seorang Jenderal Perang yang paling berpengaruh di Kekaisaran merupakan satu hal, tetapi ia tetap bukan seorang bangsawan. Lagipula, ia sama sekali tidak ingin menjadi Putri Mahkota.


"Lady Suiren tidak tertarik menjadi Putri Mahkota." Gilbert tiba tiba muncul dari luar ruangan. "Ia lebih tertarik membaca buku sepanjang hari ketimbang mengurusi urusan internal keluarga Imperial."


Suiren tertawa mendengar ucapan Gilbert kemudian ia menyesap teh dengan aroma mawar di cangkirnya.


"Lagipula, Jenderal Themisree tidak akan mengizinkan putri satu-satunya menikah dengan Putra Mahkota Frederick. Ia tidak ingin putrinya meninggalkan keluarga ini." Gilbert melanjutkan.


Cangkir teh yang dipegangnya berhenti di depan mulutnya. Lautan memori menyerbu kepalanya seperti deburan ombak.


Pantas ia merasa seakan-akan ia melupakan sesuatu. Bagaimana bisa ia melupakan hal penting yang terjadi kepadanya setelah ia tenggelam?


Ia sudah menyadari bahwa kehidupannya kali ini bukanlah kehidupannya yang pertama. Ia bahkan tidak tahu ini kehidupannya yang keberapa, yang ia tahu adalah bahwa ia tahu bagaimana hidupnya kali ini akan berjalan.


Serena Tagates.


Kekaisaran Helianthus.


Itu semua adalah nama-nama yang sangat familiar di kehidupannya yang lalu.


Bagaimana tidak? Nama-nama itu adalah nama karakter dari novel favoritnya.


Ia tahu novel itu seperti ia tahu telapak tangannya. Bahkan hal terakhir yang dia pikirkan sebelum meninggal dunia karena kelelahan mengerjakan skripsi adalah novel tersebut. Bagaimana ia membenci fakta bahwa hanya karakter utama yang mendapatkan kebahagiaan.


"Lalu kenapa aku masih hidup?" bisik Suiren. Cangkirnya tetap di depan bibirnya.

__ADS_1


Ia menyukai novel tersebut sampai sampai ia hafal seluruh karakter di dalamnya. Bahkan karakter sampingan yang tidak memiliki dialog sekalipun.


"Anda bilang apa barusan, Lady Suiren?" Reina memecah konsentrasi Suiren.


Suiren kemudian tersadar dan meletakkan cangkir tehnya di atas meja disamping tempat tidurnya. Ia menggeleng kearah Reina dan kemudian bangkit dari kasurnya.


Ia berjalan kearah bunga Marigold yang dikirimkan oleh keluarga Tagates. Ia mengambil amplop dengan segel emas berbentuk bunga marigold kecil dan membaca isi suratnya.


..."Kepada,...


...Suiren Themisree....


...Aku sangat terkejut mendengar bahwa kau tenggelam dan tidak sadar diri selama tiga hari. Kuharap bunga ini dapat mengembalikan kesehatanmu seperti sedia kala....


...Tertanda,...


...Serena Tagates."...


Suiren tertawa melihat nama pengirim surat yang tidak lain adalah sepupunya sendiri. Ia tertawa sampai-sampai perutnya sakit.


"Lady Suiren, apa anda akhirnya kehilangan kewarasanmu setelah tenggelam?" Gilbert berkata dengan nada khawatir.


Lucu sekali, pikirnya. Ini terlalu tepat untuk jadi sebuah kebetulan.


Bagaimana mungkin ia tidak ingat dengan 'Suiren Themisree' yang ada di dalam novel 'Serena'. Walau Suiren di dalam novel tidak memiliki dialog sama sekali, tetapi ia memiliki peran yang cukup besar. Karena dialah yang pertama kali mempertemukan tokoh utama Pria dan Wanita di novel 'Serena'.


Bagaimanapun juga, mereka pertama kali bertemu ketika menghadiri pemakaman Suiren Themisree yang meninggal karena tenggelam di danau.

__ADS_1


__ADS_2