My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Kandidat Putri Mahkota


__ADS_3

Suatu hal yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh Suiren tiba kepadanya pagi hari ini. Bukan hanya Suiren yang terkejut, seluruh penghuni kediaman Themisree pun terkejut bukan main. Sepertinya, siapapun yang mengetahui hal ini juga akan terkejut.


“Apa kau bilang?!” Jenderal Themisree menatap Edward, sang kepala pelayan dengan tatapan murka. Alis putih Edward berkerut sedikit karena hentakan tuannya itu.


Edward tahu tatapan murka itu sebenarnya bukan ditujukan untuknya, tetapi kepada siapapun yang mengirimkan surat itu. Surat bersegel emas dengan lambang bunga matahari yang merupakan segel resmi dari keluarga kekaisaran.


Suiren membaca ulang surat yang datang untuknya.


...“Kepada,...


...Lady Suiren Themisree....


...Dengan surat ini, Keluarga Kekaisaran Helianthus menunjuk Lady Suiren Themisree sebagai salah satu kandidat Putri Mahkota Kekaisaran Helianthus....


...Keluarga Imperial,...


...Putra Mahkota Frederick Helianthus.”...


Namanya jelas tertera di atas kertas dengan tinta berwarna emas, jadi tidak mungkin terjadi salah pengiriman. Bahkan namanya disebutkan dua kali di dalam surat, kemungkinan kesalahannya sangat kecil.


Meskipun Suiren dan Ayahnya jelas terlihat tidak senang, mereka bisa melihat dengan jelas bahwa pekerja didalam kediaman Themisree saling berbisik-bisik riang terhadap satu sama lainnya. Menurut mereka, menjadi salah satu kandidat Putri Mahkota adalah hal yang sangat luar biasa. Impian semua gadis di kekaisaran Helianthus.


Suiren dan Ayahnya sendiri memiliki perasaan yang berbeda terkait surat ini. Suiren merasa bahwa ini semua tidak masuk akal, tetapi walau demikian ia sendiri tidak mengerti alur cerita di novel ‘Serena’ jika dirinya tidak meninggal dunia. Apakah hal ini memang sepatutnya terjadi atau tidak, semua itu menjadi tanda tanga besar bagi Suiren.


“Suiren, apa kau melakukan sesuatu yang tidak kuketahui?” tanya Ayahnya. Mata biru mudanya menatap Suiren dengan tatapan curiga.


Ia harap ia mengetahui apa yang telah ia lakukan, karena saat ini ia sama bingungnya dengan Ayahnya. Ia bahkan tidak pernah bertemu dengan Putra Mahkota Frederick dan ia juga bukan seorang putri bangsawan.


“Percayalah Ayah, aku sama bingungnya denganmu.” Jawabnya.


Seseorang bisa menjadi Putri Mahkota melalui dua hal, yang pertama tentunya dengan memikat hati Putra Mahkota dan cara yang kedua adalah dengan memikat Permaisuri yang sedang bertakhta saat ini, dengan kata lain memikat Permaisuri Eleanor Helianthus. Putra Mahkota mungkin akan memilih kandidatnya berdasarkan hatinya tetapi Permaisuri akan memilih kandidat berdasarkan politik dan kekuasaan. Namun, Suiren tidak masuk didalam salah satu dari keduanya. Lantas apa yang menyebabkannya masuk ke dalam Kandidat Putri Mahkota?


Edward kemudian menyerahkan surat kabar hari ini. Di halaman pertama Surat Kabar itu tertera dengan tulisan yang amat besar.


‘bagaimana bisa surat kabar mengetahui berita ini sebelum aku mengetahuinya.’

__ADS_1


‘KELUARGA IMPERIAL MENUNJUK LIMA KANDIDAT PUTRI MAHKOTA : CINDERELLA ABAD INI?!’


Suiren meringis membaca judul headline yang sangat menggelikan itu dan kemudian membaca isi surat kabarnya.


Selain dirinya, terdapat empat kandidat Putri Mahkota yang berasal dari keluarga bangsawan. Salah satunya,


sesuai dengan alur novel ‘Serena’ adalah Serena Tagates dari keluarga Tagates. Kandidat lainnya juga berasal dari keluarga bangsawan yang tidak kalah berpengaruh yaitu Lady Amelie Edelweiss, Lady Tarance Rosa, dan Lady Agnes Lilium.


“Jenderal Themisree, perintah keluarga imperial adalah absolut. Tidak ada yang bisa dilakukan selain mengikuti proses pemilihan Putri Mahkota.” Edward melanjutkan pembicaraannya.


Jenderal Themisree melotot kearah kepala pelayannya itu dan kemudian berdiri dari meja makan tanpa menyelesaikan sarapannya.


“Siapkan kereta.” Ujarnya.


“Ayah mau kemana?” tanya Suiren.


“Ke Istana Imperial.”


“Apa yang akan Ayah katakan kepada keluarga imperial? Ayah tidak bermaksud menerjang istana imperial tanpa persiapan, bukan?” Suiren berdiri dan menyusul ayahnya.


“Mereka akan menganulir surat ini.” Jenderal Themisree jelas tidak berpikir rasional saat ini.


“Ayah! Tolong dengarkan aku, pasti ada cara lain selain menerjang istana imperial seperti ini!” Pekik Suiren.


“Biarkan aku mengikuti proses seleksi kandidat Putri Mahkota, aku akan menjadi yang terburuk sehingga keluarga imperial akan merasa menyesal telah memasukan namaku dalam daftar kandidat.” Ujarnya dengan wajah yang meyakinkan.


“Tidak, Suiren kau tidak mengerti. Ada sesuatu yang jauh lebih be-”


Belum selesai Ayahnya berbicara, pintu masuk utama terbuka.


“Jenderal, Du- Duke Wisteria-” seorang penjaga pintu depan muncul dengan terengah-engah.


Mengikuti masuknya penjaga pintu masuk utama yang terlihat tergesa-gesa seseorang bertubuh tinggi muncul dari balik pintu. Sosok itu mengenakan pakaian berharna hitam dengan bordir merah dan ornament emas di kerahnya.


“Selamat Pagi, Jenderal Themisree.” ujar sosok tadi. Bola matanya ungu pucatnya yang senada dengan warna bunga Wisteria ketika terkena sinar rembulan mencari-cari di dalam ruangan.

__ADS_1


Itu dia. Sosok yang menjadi karakter favorit Suiren di kehidupannya yang sebelumnya. Sosok yang akhir-akhir ini sangat ingin ditemuinya tiba-tiba berada didepan matanya. Dia adalah Kyrie Wisteria.


Suiren tidak merasa mulutnya ternganga lebar sampai ketika Gilbert muncul disampingnya dan menyenggol Suiren dengan sikutnya.


“Lady Suiren, tutup mulut anda.” Bisik Gilbert.


Suiren Themisree kemudian cepat-cepat membungkukkan tubuhnya dan memberi hormat kepada Kyrie Wisteria. “Semoga kemuliaan selalu bersamamu, Duke Wisteria.”


Suaranya sedikit bergetar karena rasa gugup. Bagaimana tidak, ia dulunya selalu dibuat kesengsem dengan aksi Kyrie Wisteria di dalam novel.


“Apakah surat pemberitahuan anda terselip, Duke Wisteria? Saya tidak merasa menerima pemberitahuan kedatangan anda kemari.” tembak Jenderal Themisree, ia bahkan tidak repot-repot memberi hormat kepada seseorang dengan darah biru mengalir di nadinya. Seolah-olah urusan mengenai surat kandidat Putri Mahkota belum membuatnya pusing sekarang muncul lagi seseorang yang bisa menimbulkan masalah dihadapannya.


“Ada hal penting yang harus kita bicarakan, Jenderal Themisree.” Ujarnya sembari tersenyum. Gigi rapihnya berderet seperti parade dibingkai bibir merah muda naturalnya. “Anda tidak akan mempersilahkan saya masuk?”


Jenderal Themisree tidak ada waktu untuk meladeni tuan muda dari utara yang terkenal dengan arogansinya. Walau begitu, banyak juga prestasi yang diraih oleh seorang tuan muda yang naik takhta ketika ia berumur sembilan tahun ini. Sehingga, sifat arogannya mungkin sedikitnya bisa dimaklumi.


“Dengan segala hormat, Duke Wisteria. Saya ada urusan yang sangat penting untuk dilakukan. Saya harap anda bisa kembali lagi suatu hari nanti dengan pemberitahuan terlebih dahulu.” Jenderal Themisree kemudian berjalan menuju pintu masuk utama dan meninggalkan Suiren dan Kyrie Wisteria yang saling bertatapan. Setidaknya yang terlihat canggung hanyalah Suiren.


“Saya mungkin adalah solusi terbaik anda dalam menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi, Jenderal Themisree.”


Kyrie Wisteria berkata dengan intonasi suara yang sangat percaya diri. Seseorang mungkin menganggapnya kelewat percaya diri. Tidak dengan Suiren, ia tahu betul seperti apa karakter orang yang berdiri dihadapannya ini.


Ia tidak akan berkata seperti itu kalau ia tidak merasa yakin dengan dirinya.


Jenderal Themisree menghentikan langkahnya sebelum kemudian memutar tubuhnya dan menatap Kyrie Wisteria dengan tatapan curiga. Tatapan matanya seakan-akan seperti menembakkan belati.


“Suiren, kembali ke kamarmu.” Perintah sang Jenderal.


Suiren memutar tubuhnya untuk berjalan kembali ke kamarnya.


“Kurasa Lady Themisree harus mendengar percakapan kita, Jenderal. Lagipula, alasan saya kemari adalah untuk menemuinya.” cegah Kyrie.


Suiren menghentikan langkahnya. Apa yang laki-laki ini inginkan darinya?


Jenderal Themisree tidak melepaskan tatapan belatinya dari diri Kyrie. Kemudian ia berjalan menuju ruang pertemuan sambil memberi gestur bagi sang Duke untuk mengikutinya. “Kuharap anda tidak sedang berusaha membuang-buang waktuku, Duke Wisteria.”

__ADS_1


__ADS_2