
“Jenderal Enkai, seseorang dari kekaisaran melewati perbatasan wilayah dan memasuki kawasan kamp kerajaan!” salah satu prajurit berlari menerobos masuk ke dalam tenda Kazuma. "Apa perintah anda?"
Kazuma sedang mengasah pedang kembarnya dengan alat pengasah. Ia bersiap-siap untuk bertempur.
"Biar aku yang mengurusnya." jawabnya.
Setelah ia menyuruh salah satu bawahannya untuk menculik Suiren Themisree dan membawanya ke markas perdagangan manusia, tadi subuh sebelum matahari terbit ia mendapat kabar bahwa Suiren Themisree sudah berada di dalam markas perdagangan manusia.
Ia kemudian hanya perlu menunggu respon dari pihak kekaisaran. Ekspektasinya terlampaui, karena belum lewat lima jam, seseorang dari kekaisaran telah bergerak untuk mencari Suiren Themisree.
“Ini jauh lebih cepat dari perkiraanku.” Kazuma menggumam. Ia kemudian memasukkan pedang miliknya ke masing-masing sarung dan mengancingkan seragam resminya.
Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari tenda dan berjalan menuju kerumunan.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang jelasnya bukan bagian dari pasukan yang sedang dipimpinnya sedang berlutut. Di kedua sisinya, anggota pasukan yang dipimpinnya saling menghunuskan pedang di depan laki-laki tadi membentuk huruf ‘x’.
laki-laki itu terlihat pucat dan khawatir. mata cokelatnya terlihat penuh kekhawatiran dan rambut cokelatnya terlihat acak-acakan.
“Katakan urusanmu.” Perintah Kazuma. Walau tanpa mendengar alasan laki-laki ini ia sudah memiliki gambaran jelas dibenaknya. Sejujurnya ia mengasihani laki-laki dihadapannya ini.
“Seorang gadis…” dari tatapan matanya jelas terlihat bahwa laki-laki ini sangat khawatir. “Apakah ada seorang gadis yang melewati perbatasan baru-baru ini?”
“Tidak.” Jawab Kazuma. Karena memang tidak ada gadis yang melewati perbatasannya. Tidak ada yang melewati perbatasannya tanpa sepengetahuannya.
Kazuma berhenti untuk menambahkan kesan dramatis. “Mereka membawa seorang gadis masuk kedalam markas mereka.”
Laki-laki tadi memiliki tatapan horror diwajahnya. Ia seperti sedang melihat mimpi buruk terdalamnya.
__ADS_1
“Bahkan jika gadis itu adalah sosok yang kau maksud, tidak ada yang bisa dilakukan bukan?” lanjutnya. "Kalian bahkan menutup mata walau mengetahui bahwa di dalam tambang emas kekaisaran merupakan markas sindikat perdagangan manusia"
Kemudian Kazuma memberikan gestur tangan yang menyuruh kedua bawahannya untuk membawa laki-laki tadi pergi dari hadapannya. Kemudian ia berbalik dan mulai berjalan kembali kearah tendanya.
“Tu-tunggu!” ucap laki-laki tadi, menolak untuk dibawa pergi. ia melepaskan cengkeraman dua orang penjaga dari lengannya.
“Apakah anda mengetahui karakteristik gadis itu?” tanyanya tetapi dari nadanya terdengar bahwa ia tidak ingin mengetahui kebenaran pertanyaannya itu.
Kazuma memutar lehernya sebesar empat puluh lima derajat dan menatap laki-laki tadi dengan mata cokelatnya. “Ah, sepertinya mata-mataku mengatakan bahwa gadis itu memiliki potensi pasar yang sangat tinggi.”
Kazuma melanjutkan perkataannya. “Karena gadis itu berambut perak dan bermata emas.”
Mendengar hal itu, wajah laki-laki tadi berubah menjadi pucat. Warna di wajahnya menghilang dan nyawanya seakan-akan pergi meninggalkan tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang harus kami lakukan kepada penyusup ini, Jenderal Enkai?" tanya salah satu penjaga.
"Kembalikan dia ke tempat asalnya. Ia harus mengabari pemimpinnya bahwa salah satu rakyatnya telah menjadi korban sindikat perdagangan manusia tepat di depan matanya." Jawab Kazuma sembari berjalan kembali menuju tendannya.