
KLANG!!! bunyi pedang yang saling berbenturan memenuhi udara.
Kazuma mengadu perangnya dengan sosok yang tak asing dihadapannya. Sosok Ksatria Kekaisaran yang kemarin kemarin pagi mendatanginya. Ia terlihat berbeda dari sebelumnya, saat ini ia terlihat tenang dan tidak sekhawatir sebelumnya.
"Ini bukan pertama kalinya kita bertemu bukan? Aku mengingat wajahmu. Kau tampak seperti orang yang tidak memiliki harapan hidup pagi itu." ujar Kazuma sambil terus mengayunkan pedangnya. "Ternyata kau cukup kuat."
Gilbert menangkis setiap tebasan pedang yang diberikan oleh sang Jenderal.
"Tetapi menangkis tidak akan membawamu pada kemenangan, kau tahu itu bukan?" Kali ini sang Jenderal menebas dengan lebih kuat.
Gilbert tetap menangkis tebasan sang Jenderal, walau kali ini pergelangan tangannya terasa sakit setelah menerima tebasan.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa daritadi hanya menangkis?" Kazuma memberi tekanan pada pedangnya yang sedang ditangkis oleh Gilbert.
Kazuma kemudian melihat ke sekelilingnya, pasukan yang dipimpinnya sama sekali tidak terlihat seperti mereka sedang mengalami kesusahan. Setiap tebasan yang dilakukan oleh pasukannya, Pasukan Kekaisaran selalu menangkisnya. Mereka sama sekali tidak memberikan serangan balik.
Semuanya tampaknya sudah menyadari permainan yang sedang dimainkan oleh pasukan Kekaisaran.
Gilbert kemudian memberikan tekanan pada pedangnya. "Hanya sejauh ini yang bisa kami lakukan untuk membantu pasukanmu."
Kazuma mengernyitkan dahinya tetapi kemudian ia memahami maksud perkataan Gilbert. "Kalau begitu setidaknya biarkan kami memberikan sedikit goresan pada diri kalian."
__ADS_1
Gilbert tersenyum memamerkan giginya. Ia kemudian melangkahkan kaki kanannya maju dan dengan sengaja membiarkan dirinya terjatuh.
Setelah Gilbert menjatuhkan dirinya, Kazuma menghunuskan pedangnya ke tenggorokan Gilbert. Gilbert mengangkat kedua tangannya dan meletakkan pedangnya di tanah. Kemudian, pasukan kekaisaran lainnya mengikuti tindakan Gilbert.
"PASUKAN KERAJAAN GINRYU MAJU DAN TANGKAP SINDIKAT PERDAGANGAN MANUSIA!!!" Kazuma berteriak sembari belari menuju pintu masuk tambang.
"WOOOOOOOOOOOOOO!!!!!" Pasukan Kerajaan Ginryuu berteriak dengan semangat dan kemudian mengikuti pemimpin mereka.
*****
Sementara itu di markas sindikat perdagangan manusia ...
"Ketua Argan, pasukan Kerajaan Ginryuu telah melewati pertahanan pasukan Kekaisaran dan sedang dalam perjalanan menuju markas dan tempat para tawanan berada!!!" Seorang penjaga markas dengan pakaian serba hitam berlari terengah-engah memasuki ruang ketua sindikat.
'Bagaimana bisa pasukan Kerajaan Ginryuu menerobos pertahanan Kekaisaran dengan sangat cepat?!'
Sang penjaga tadi kemudian segera berlari keluar ruangan dengan tergesa-gesa.
"AAAAAAAARGH!!!!" tiba-tiba terdengar raungan kesakitan dan bunyi tebasan pedang.
Ketua sindikat cepat-cepat mengambil belati dari dalam lacinya dan mengarahkannya ke arah pintu masuk. 'Apa mereka sudah sampai kesini?!'
__ADS_1
Kemudian seorang laki-laki bertudung dengan pedang di tangannya muncul dari balik pintu. Matanya menyala dalam kegelapan, mata berwarna merah yang seolah-olah siap untuk memangsa siapapun yang menghalangi jalannya. Dari telapak tangan kanannya keluar banyak darah tetapi ia sama sekali tidak terlihat kesakitan karenanya.
Baru setelah sosok tadi mendekat, sang ketua sindikat menyadari bahwa darah yang ada di telapak tangannya merupakan sumber senjata yang sedang dipegangnya. Ia pernah beberapa kali mendengar hal ini tetapi ia sama sekali belum pernah melihatnya.
Seni senjata darah. Seni berkelahi yang hanya dimiliki segelintir orang dari Kerajaan Ginryuu. Seni yang dilakuakn secara turun temurun oleh orang dengan darah biru mengalir di dalam tubuhnya. Dengan kata lain, laki-laki yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Ginryuu.
'Apa yang sedang bangsawan dari Kerajaan Ginryuu lakukan di tempat ini?'
"Ja-Jangan mendekat!!!" ucap sang ketua sindikat dengan suara bergetar.
"Kau sungguh berpikir aku akan mendengarkanmu?" tanya sosok bertudung.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!!!"
Sosok bertudung tadi tertawa keras. " HAHAHA!!! sudah tertangkap basah masih saja mengelak. Benar-benar lucu."
Ia kemudian menggoreskan pedangnya ke telapak tangan kirinya. Seketika setelah darah mengalir, tiga buah mata pisau kecil muncul dari telapak tangannya. Ia kemudian melemparkan mata pisau kecil itu hingga mengenai kedua kaki sang ketua sindikat.
"AAAAAAAARGH!!!"
"Kau berisik sekali. Haruskah kubungkam mulutmu dengan pisau ini?" tanyanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Sang ketua sindikat langsung membungkam mulutnya dan tubuhnya bergetar karena rasa takut dan sakit menjadi satu. Ia menggelengkan kepalanya terus menerus seolah-olah ia sedang memohon agar nyawanya diampuni.
"Hmm... aku berubah pikiran." ujar sang sosok bertudung. Setelah itu ia menendang wajah sang ketua sindikat sampai ia pingsan. "Ini jauh lebih baik."