My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Naois Dianthus


__ADS_3

Keesokan harinya, Suiren memutuskan untuk pergi ke Pusat Kota Birmin untuk mencari udara segar dan suasana baru. Ia harus bangkit dari kesedihannya, karena sementara ia bersedih-sedih, dunia tetap berputar.


“Sergei, kuharap kau mau menemaniku hari ini sebagai teman. Bukan sebagai pengawal pribadi.” Ujar Suiren kepada Sergei.


Sergei tersenyum dan menganggukan kepalanya. “Tentu saja, Lady Suiren.”


Keduanya berjalan menyusuri kota Birmin dan melihat-lihat ke setiap toko yang terlihat menarik.


Suiren merasakan perbedaan sejak terakhir kali ia kesini, disaat tidak ada satupun orang yang mengenalinya. Saat ini, kemanapun ia melangkah, ia selalu merasakan tatapan orang-orang ditujukan kepadanya dan bisikan-bisikan kecil. Bukannya Suiren merasa tidak nyaman, hanya saja ia lebih menyukai ketika tidak ada yang mempedulikannya.


“Sergei, aku ingin mampir ke café itu dan membeli beberapa kue untuk Kyrie.” Ujar Suiren sembari menunjuk kearah sebuah café dengan desain interior yang didominasi dengan warna biru muda.


“Apakah saya bisa menunggu diluar, Lady Suiren? Saya tidak pernah suka dengan aroma kue yang begitu manis menyengat.” Ujar Sergei dengan wajah eneg.


Suiren menatap pengawalnya itu dengan tatapan tidak percaya. “Tidak akan ada yang percaya bahwa kau membenci makanan manis dengan wajah seperti itu.”


Sergei hanya tertawa dengan nada yang terpaksa.


Ketika masuk ke dalam café itu, bau vanilla semerbak memenuhi ruangan. Bau manis yang sangat menyenangkan yang membuat air liur siapapun bisa menetes.


Suiren mendekati etalase toko dan memindai setiap hidangan penutup yang ditampilkan. Semuanya berbentuk cantik dan elegan, membuat kue-kue ini terlihat sayang jika harus dimakan.


"Lady Themisree?" Seseorang memanggil Suiren ketika ia sedang sibuk memilih kue mana yang harus ia bawa pulang untuk Kyrie.


Ketika menoleh, Suiren menemukan sosok familiar.


"Sir Dianthus." Balas Suiren dengan senyuman kecil di wajahnya.


"Suatu kebetulan bisa bertemu dengan anda disini." Ujarnya sambil mengambil tempat di samping Suiren.


Suiren kembali memfokuskan diri pada kue-kue yang dipajang dihadapannya.


"Apakah anda sedang memilihkan kue untuk Duke Wisteria?" Tanyanya.


Suiren menganggukan kepalanya.


"Mmm... kalau begitu, sepertinya anda harus mencoba kue cokelat dan pai lemon. Ah! Mungkin Duke Wisteria juga akan menyukai madelline." Ujar Naois sembari menunjuk kearah kue-kue yang ia sebutkan tadi.


"Bagaimana dengan pai apelnya?" Tanya Suiren. Sedari tadi ia merasa tertarik dengan pai apel yang terlihat sangat cantik dan menggugah selera.


Naois mengernyitkan dahinya dan mencoba mengingat-ingat. "Aku tidak akan merekomendasikannya, terakhir kali aku memakan pai apel mereka, rasanya terlalu didominasi oleh kayu manis."

__ADS_1


Suiren mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian ia meminta kepada penjaga toko untuk membungkus kue-kue yang disebutkan oleh Naois tadi ditambah dengan Pai Apel yang terlihat sangat menggiurkan itu.


Naois tertawa kecil. "Sepertinya anda tidak mudah percaya terhadap orang lain, ya?"


Suiren tersenyum mengiyakan kepada Naois. "Terima Kasih, Sir Dianthus atas rekomendasinya."


"Tolong, panggil saya Naois." Naois kemudian membuka pintu cafe dan mempersilahkan Suiren keluar terlebih dahulu.


Keduanya berdiri didepan toko untuk berbincang sejenak.


"Ah, Sir Naois. Aku harus meminta maaf kepada anda. Sepertinya pertanyaan saya kepada anda waktu itu menempatkan anda di posisi yang kurang menyenangkan. Waktu itu saya belum tahu bahwa anda adalah calon suami Lady Narcissus." Suiren membungkukkan kepalanya.


"Tidak, tidak! Itu sama sekali bukan masalah besar." Naois terlihat tidak nyaman dengan sikap Suiren. "Tolong angkat kepala anda, Lady Themisree."


Setelah itu Suiren menaikkan kepalanya.


"Kalau begitu, Saya permisi dulu." Suiren berkata sembari membalikkan tubuhnya.


"Lady Themisree tung-"


Naois mengulurkan tangannya kearah rambut Suiren tetapi sebelum ia berhasil meraih rambutnya, seseorang menghentikan tangannya. Sosok itu mengenggam tangan Naois dengan erat sampai-sampai Naois merasa mati rasa di pergelangan tangannya.


"ACK!!!" rintih Naois.


Suiren membelalakkan matanya atas apa yang terjadi di hadapannya saat ini.


"Aku hanya mencoba mengambil dedaunan yang menempel di rambut Lady Themisree!!!" Naois memekik sembari menahan rasa sakit. Wajahnya yang tadinya terlihat ceria menjadi pucat seolah-olah nyawanya berkurang karena perbuatan Sergei.


"Sergei, sir Naois adalah temanku!" Suiren mencoba menghentikan Sergei mematahkan pergelangan tangannya.


Setelah itu, Sergei melepaskan cengkeramannya dan kemudian memberi Naois tatapan tajam.


"Maafkan saya atas kesalahpahaman ini, Lady Suiren." Ujar Sergei.


"Sir Naois saya benar-benar minta maaf! Saya sudah membuat anda tidak nyaman dua kali padahal anda sudah membantu saya." Suiren berulang kali membungkukkan tubuhnya dihadapan Naois.


"Kalau begitu, sebelum ada kesalah pahaman lagi. Sebaiknya saya pergi dulu " setelah itu Suiren menarik lengan Sergei dan berjalan menjauhi Naois.


Suiren dan Sergei berjalan menjauhi café tadi dan melewati beberapa toko untuk menuju kereta kuda.


"Sergei... kau terlalu overprotektif..." ujar Suiren sembari menatap mata hijau muda Sergei.

__ADS_1


"Itu adalah tugasku, Lady Suiren."


Suiren menghela napas. "Haa... sepertinya Sir Naois juga kelewat ramah. Ia seperti tidak memedulikan batasan."


Ia menoleh kebelakangnya dan melihat bahwa mereka sudah sama jauh dari lokasi awal tadi.


Setelah itu keduanya menaiki kereta kuda untuk kembali ke kediaman Themisree.


***


Di kediaman Wisteria...


"Aku tidak begitu menyukai pai apel ini." Ujar Kyrie. "Rasanya seperti memakan kayu manis."


Suiren tidak dapat menunggu sampai makan malam untuk meminta Kyrie mencoba kue-kue yang ia beli dari siang tadi.


"Haa... sepertinya apa yang dikatakan sir Naois benar." Gumam Suiren.


"Sir Naois?"


Suiren mengangguk dan menyuapkan potongan kue cokelat ke mulutnya. "Aku tidak sengata bertemu dengannya di pusat kota, dan dia merekomendasikan kue-kue ini kepadaku."


Kyrie menyingkirkan kotak berisi kue-kue yang dibawa oleh Suiren untuknya. "Sergei bersama denganmu kan?" Tanyanya.


Suiren mengangguk. "Tentu saja." Ia tidak ingin menceritakan kejadian yang terjadi sebelumnya. Entah apa yang Kyrie akan lakukan jika ia mendengar kejadian itu, ia pasti akan salah paham.


“Aku telah meminta Madame Rosalind untuk datang kesini dalam dua hari.” Kyrie mengulurkan ibu jarinya kearah bibir Suiren dan mengusap sisa kue cokelat yang menempel di ujung bibirnya. “Untuk mengukur tubuhmu.”


Suiren mencoba tidak bereaksi dengan apa yang dilakukan Kyrie. “Mengukur tubuhku?”


“Pesta pernikahan Lady Narcissus akan diadakan kurang dari 2 minggu lagi, dan kau tidak memiliki gaun untuk acara itu.”


Suiren mengangguk dan kemudian mengusap bibirnya dengan sapu tangan supaya Kyrie tidak lagi harus membersihkan remahan kue dari bibirnya.


“Apakah Madame Rosalind terkenal di Birmin?”


Kyrie tertawa kecil. “Madame Rosalind terkenal di seluruh Kekaisaran, tetapi selama ini pelanggannya hanyalah wanita bangsawan. Masuk akal jika kau tidak pernah mendengarnya.”


Suiren menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia berdiri dan bersiap untuk kembali ke ruang tidurnya.


“Sampai ketemu saat makan malam nanti.” Kyrie berkata sebelum Suiren pergi dari ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2