My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Penculikan berencana


__ADS_3

Ketika malam tiba dan semua orang tertidur, seseorang berpakaian serba hitam memasuki tenda Suiren. Ia masuk dengan begitu hati-hati agar tidak membangunkan penjaga yang berjaga didepan tenda Suiren. Hampir seperti bayangan.


'Penjaga macam apa yang berjaga kemudian tertidur?' pikir sang bayangan.


Sosok bayangan tadi mendekati ranjang Suiren, dimana ia tertidur diatasnya dengan nyenyak. Kemudian, sosok bayangan tadi menyenggol tangan Suiren dengan pedang yang ia bawa.


“Hoam…” Suiren menguap. “Siapa?”


“Selamat malam Lady Suiren.” sosok itu bersuara seperti seorang remaja laki-laki yang berusia lima belas tahun.


Suiren langsung terbangun dan kemudian mengusap-usap kedua matanya. “Apakah Jenderal Kazuma Enkai mengutusmu?”


Sosok tadi mengangguk kecil.


“Aku khawatir tanda yang kuberikan terlalu kecil untuk dilihat. Tetapi sepertinya itu tidak menjadi masalah.” Suiren tertawa pelan.


“Tanda yang kau berikan sangat membantu, Lady Suiren.” sosok tadi berbohong. Sebenarnya tanpa tanda itupun ia dapat dengan mudah mengetahui keberadaan Suiren.


“Mmm… baiklah. Biarkan aku berganti pakaian sebentar. Karena tentunya tidak akan nyaman bergerak menggunakan gaun malam.” Kemudian Suiren bergegas ke balik tirai kayu untuk berganti pakaian.


Setelah itu ia berjalan kearah kasurnya dan mengacak-acak kasurnya, melemparkan selimut beludru kearah tanah dan menjatuhkan meja disamping kasurnya dengan perlahan.


“Ini supaya aku terlihat benar-benar diculik.” Ucap Suiren sembari menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya.


'Aneh sekali orang ini,' Pikir sosok yang menyerupai bayangan tadi.


Kemudian Suiren mengambil belati seukuran tiga jarinya dari laci penyimpanannya dan memasukkannya itu di dalam rongga sepatu boots longgarnya. Setelah itu ia duduk diatas kasur yang tadi ia tiduri dan menatap sosok bayangan.


“Jadi, apakah aku akan berjalan kaki atau..?” tanya Suiren dengan wajah mengantuk.


“Maafkan saya, Lady Suiren. Tetapi akan lebih baik kalau anda dalam keadaan tidak sadarkan diri.”


Suiren mengangkat kedua alisnya tetapi kemudian ia tersenyum. “Baiklah, buat aku tidak sadarkan diri.”


Sosok bayangan tadi mendekati Suiren dan menarik pedang dari pinggangnya tanpa membuka sarung pedangnya. “Ini mungkin akan terasa sakit sedikit, tetapi anda tidak akan mengingat apapun setelah itu.”


Suiren terlihat tegang tetapi ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Baiklah. Kalau begitu dalam hitungan ketiga.”

__ADS_1


Sosok bayangan tadi mengangguk.


“Satu.”


“Dua.”


Belum sampai dihitungan ketiga, secepat kilat sosok bayangan tadi memukulkan ujung tumpul pedang ke pelipis Suiren. Setelah itu Suiren tidak mengingat apapun dan iatidak sadarkan diri.


*****


Keesokan paginya...


Makanan yang disajikandidepannya nyaris menjadi dingin. Ia telah menunggu putrinya untuk sarapan bersama selama kurang lebih lima belas menit, dan putrinya tidak menunjukkan tanda-tanda kemunculan.


Ketika kemarin Suiren tidak ikut sarapan bersana, Jenderal Themisree bisa memahami alasannya. Mungkin putrinya itu kelelahan setelah melalui tujuh jam perjalanan darat melewati jalan pegunungan yang terjal. Tetapi hari ini Jenderal Themisree tidak bisa memikirkan alasan mengapa putrinya tidak kunjung datang.


Jenderal Themisree menyesap teh chamomile yang sudah setengah dingin dengan wajah gusar. Ia benci meminum teh dengan keadaan dingin. Seperti ia benci memakan makanan dalam keadaan dingin.


Tiba-tiba tenda dibuka. Gilbert muncul dengan ekspresi wajah suram, sekspresi yang berteriak ‘aku membawa kabar buruk’. Antara rasa takut dan rasa khawatir menjadi satu. Ekspresi yang sama ketika Gilbert menemukan Suiren dalam posisi basah kuyub tergeletak di pinggir danau.


Tanpa perlu mendengar apapun dari mulut Gilbert, Jenderal Themisree mengatahui bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Sesuatu yang berkaitan dengan Suiren.


Tendanya berantakan. Kasur yang teracak-acak. Selimut di tanah. Meja kecil disamping tempat tidur yang jatuh. Pemandangan ini berbicara seribu kata.


“Apa maksud dari semua ini Gilbert?” walau suaranya tenang, hati Jenderal Themisree berdetak kencang


dan cepat.


Gilbert tidak berani menjawab tuannya. Akhir-akhir ini, ia merasa tugas menjaga putri Jenderal Themisree menjadi lebih susah dari biasanya. Semua dimulai ketika Suiren tenggelam di danau sampai kejadian saat ini.


“Lady Suiren tidak bisa ditemukan dimana-mana, Jenderal Themisree.” Ujarnya setelah menelan ludah.


“Cari diseluruh sudut dan tempat. Bahkan jika kau harus melewati perbatasan wilayah kekaisaran sekalipun.”


Mendengar itu, Gilbert bergegas menjalankan perintah tuannya itu. Ia tidak berani mengatakan kepada Jenderal Themisree bahwa ia sudah mencari diseluruh sudut kamp militer kekaisaran, ia berharap dengan mencari sekali lagi keajaiban akan terjadi.


“Kumohon, Lady Suiren. Kuharap anda hanya sedang berjalan-jalan pagi dan tersesat.” bisik Gilbert dibalik nafas beratnya.

__ADS_1


BRAK!!!


Gilbert menabrak seseorang.


“Agak terlalu pagi untuk membuat suasana hati seseorang hancur, bukan begitu Kapten Trancy?” Kyrie Wisteria berkata dengan senyum sarastiknya.


Gilbert bergegas melewati Kyrie tanpa menjawab pertanyaannya. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih saat ini, dibenaknya hanya ada nona yang dilayaninya itu.


“Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Kapten Trancy?” Kyrie menarik lengan bagian atas Gilbert dengan kencang.


“Maafkan saya, Duke Wisteria. Tetapi ada hal yang harus saya lakukan.” Balas Gilbert dengan nada kesal.


Ketika keduanya bertukar pandang, mereka terlihat seperti ular dan harimau yang sedang bersiap-siap untuk berkelahi.


“Sejujurnya, Kyrie. Ini terlalu pagi untuk mengajak seseorang berkelahi.” Seseorang berkata memecahkan ketegangan diantara Kyrie dan Gilbert.


Mendapati Putra Mahkota Frederick sedang berjalan mendekat diikuti dengan pengawal pribadinya, baik Kyrie ataupun Gilbert kemudian menghentikan ketegangan yang terjadi diantara mereka dan memberikan hormat kepada sang Putra Mahkota.


“Apakah semua baik-baik saja disini?” tanya Frederick.


Gilbert ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi ia tidak memiliki waktu untuk berdiam berlama-lama. “Lady Suiren tidak dapat ditemukan di mana-mana, Yang Mulia.”


Frederick mengangkat alisnya.


“Apa kau bilang?” tanya Kyrie. Raut wajahnya yang tadi gusar berubah menjadi bingung.


Gilbert tidak mengulang kembali perkataannya.


“Apakah mungkin Lady Suiren tersesat?” Frederick mencoba berpikir positif.


Gilbert menggeleng. Sejujurnya ia berharap Suiren tersesat, tetapi ia telah mencari sampai ke dalam hutan dan tetap tidak menemukan tanda-tanda apapun mengenainya. Satu-satunya tempat yang belum ia cek adalah kamp militer Kerajaan Ginryuu, dan saat ini mungkin ia sudah sampai di tempat tersebut kalau Duke Wisteria tidak menghambatnya.


Kyrie bergegas berlari menuju tenda tunangannya itu dan mendapati bahwa Jenderal Themisree berdiri sembari menatap keadaan tenda yang berantakan.


“Apa yang terjadi disini?” tanya Kyrie.


Jenderal Themisree tidak merespon.

__ADS_1


Segera setelah itu, Frederick memasuki tenda bersama dengan Claudia.


Dengan sekilas saja ketiganya dapat menyimpulkan sesuatu dari keadaan tenda gadis yang keberadaannya tidak diketahui ini. Mereka bukan orang bodoh atau orang yang mudah untuk dibodoh-bodohi dan mereka bisa menyimpulkan bahwa pemandangan yang berantakan dihadapan mereka ini hanyalah rekayasa.


__ADS_2