
Suiren masih mengikuti arus pergerakan manusia yang membawanya kepada terowongan demi terowongan gelap. Mereka jalan begitu jauh seakan-akan mereka tidak punya tujuan selain kegelapan.
Hanya terdengar suara para penjaga yang berteriak agar orang-orang ini bergerak dengan cepat dan suara langkah kaki yang tidak ada semangat.
Sebuah tangan dingin menyentuh lengan Suiren. Ia menoleh untuk melihat siapa orang yang menyentuh tangannya.
Anisha. Ia terlihat takut dengan teriakan para penjaga dan Suiren tidak bisa menemukan ibunya didekatnya. Didalam kegelapan, Suiren bisa melihat bekas air mata mengalir dari kedua ujung mata Anisha. Mengering dan membekas di kedua pipinya.
“Dimana Ibumu?” tanya Suiren dengan pelan. Mencoba untuk tidak menarik perhatian.
Anisha hanya menggeleng.
Diantara kericuhan ini, ia pasti telah terpisah dengan ibunya. Sendirian di tempat ini bersama orang-orang yang tidak ia kenal, apa yang menantinya di masa depan juga tidak jelas.
Baru saat itu Suiren tersadar sepenuhnya. Bahwa rencana yang ia lakukan ini bisa saja berakhir tidak baik. Apa yang dikatakan Kaen bisa saja terjadi, dan setelah ini mungkin ia akan terdampar di antah berantah. Menjadi Budak bagi siapapun yang sanggup membelinya.
Suiren menelan ludah dan kemudian mengepalkan jemarinya. Berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Setelah berjalan begitu lama, di ujung terowongan terlihat sekelebat cahaya dan Suiren bisa merasakan angin berhembus melewatinya. Sebuah aroma familiar. Aroma asin dan matahari tercium di hidungnya.
Ketika semakin mendekati ujung terowongan, terang yang tiba-tiba membuat Suiren susah membuka kedua matanya. Ketika ia berhasil beradaptasi dengan sinar terang yang datang secara tiba-tiba itu, dihadapannya terbentang pemandangan berwarna biru yang berkilau seperti perhiasan.
Laut.
'Jadi tambang ini bermuara di laut….' Ucap Suiren dalam hati.
Di tepi dermaga yang terbuat dari kayu, beberapa kapal sudah berjejer. Kapal kecil terbuat dari kayu yang kira-kira hanya muat jika ditumpangi oleh lima orang.
Penyergapan yang tiba-tiba pasti membuat sindikat perdagangan manusia tidak siap. Mereka seharusnya baru berangkat dua hari kemudian, tetapi karena pasukan Kerajaan Ginryuu telah menyerang perbatasan Kekaisaran mereka mau tidak mau harus memindahkan barang dagangan mereka dengan cepat.
“CEPAT NAIK KE DALAM PERAHU!” para penjaga mulai mendorong orang-orang dan menyuruh mereka untuk naik ke dalam perahu.
__ADS_1
Kerumunan orang-orang perlahan terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil.
Anisha tetap menggenggam tangan Suiren dengan erat begitu juga sebaliknya.
"Anak kecil berkumpul menjadi satu!" Seorang penjaga berteriak dari ujung dermaga.
Genggaman Anisha semakin menguat. Ia menatap Suiren dengan tatapan memohon agar Suiren tidak melepas genggamannya.
Ketika mereka berdua sampai di ujung dermaga, seseorang menarik Anisha.
"Apa kau tidak bisa dengar?! Anak kecil berkumpul menjadi satu di kapal yang itu." Teriaknya sambil menunjuk kearah kapal yang berukuran sedikit lebih besar. Anak-anak kecil berderetan menaiki kapal itu satu persatu.
"A-Aku tidak ingin berpisah dari kakakku." ujar Anisha dengan suara bergetar.
"Tolong biarkan ia bersamaku!!!" pinta Suiren.
Mereka berdua menghambat masuknya korban lain ke dalam perahu dan saat ini, itu adalah hal terakhir yang anggota sindikat perdagangan manusia inginkan.
Penjaga tadi menatap Suiren dengan murka dan kemudian menjambak rambutnya dan mengangkat tubuhnya dengan tangan kasarnya. Ia kemudian melemparkan Suiren ke dalam perahu yang sudah terisi empat orang.
"Perahu sudah terisi penuh, cepat jalan!" penjaga tadi menendang perahu dan mengisyaratkan agar dua orang penjaga yang sudah menaiki perahu bisa mendayung dengan cepat.
Setelah itu, perahu bergerak menuju laut lepas mengikuti gelombang pantai.
Tiba-tiba, terdengar bunyi derap langkah kaki yang berasal dari dalam tambang emas.
Suiren memalingkan wajahnya kearah suara gemuruh.
Dari dalam tambang emas, pasukan bersenjata lengkap dengan seragam berwarna merah tua bermunculan. Merke langsung menyerbu penjaga sindikat yang berpakaian hitam. Pertarungan terjadi.
Ditengah-tengah kericuhan itu, Suiren menyadari bahwa perahu yang ditumpanginya bergerak lebih cepat menuju laut lepas. Kedua orang yang mendayung perahu terlalu fokus untuk melarikan diri.
__ADS_1
Salah satunya membelakangi korban yang menumpangi perahu dan yang satunya membelakangi laut lepas.
Suiren perlahan-lahan agar tidak menarik perhatian mengeluarkan belati yang masih tersimpan di dalam sepatu bootsnya. Setelah berhasil mengeluarkannya, ia kemudian melepaskan belati dari sarungnya.
Ia menarik napas panjang dan membuangnya. Tangannya berkeringat. Tetapi ia harus melakukan sesuatu agar perahu yang ia tumpangi ini tidak berlayar lebih jauh lagi.
'Satu'
'Dua'
'Tiga!!'
Pada hitungan ketiga, Suiren menusukkan belati yang ia pegang kearah pinggang penjaga yang membelakanginya.
"ARGHHHHH!!!" penjaga itu meraung kesakitan. Darah keluar mengalir dari tempat Suiren menancapkan belatinya.
"KAU!!!" penjaga yang satunya berteriak kearah Suiren dan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Suiren mencabut belati yang tertancap di pinggang penjaga sebelumnya dan kemudian berdiri dengan kedua kakinya. Akibat pergerakannya yang tiba tiba itu perahu menjadi tidak stabil dan bergoyang.
Ia mengarahkan belatinya itu kearah penjaga. Walau begitu ia tidak tahua paakh ia akan bisa melawan penjaga itu disaat ia sedang tidak lengah.
Perlahan-lahan, penjaga tadi mendekati Suiren.
Goyangan di perahu membuat Suiren berdiri dengan tidak stabil dan hembusan angin kencang juga tidak membantu sama sekali.
Suiren menghunuskan belatinya dan menerjang kearah penjaga tadi, berharap bahwa ia akan mengenai tubuhnya. Tetapi sayangnya keberuntungan tidak datang dua kali, penjaga tadi menghindar dan berhasil menghindari tusukan dari belati Suiren.
Secepat kilat, penjaga tadi menepis belati yang dipegang Suiren sampai terjatuh ke dalam laut. Ia kemudian menarik Suiren ke dekat tubuhnya dan mengalungkan lengannya di leher Suiren.
Suiren menutup kedua matanya, berharap apapun yang sedang penjaga ini lakukan kepadanya tidak akan sakit.
__ADS_1
Tiba-tiba Suiren mendengar bunyi benda yang menancap di dekat telinganya. Ketika membuka mata, sebuah panah menancap di kepala sang penjaga.
Suiren masih berada dalam dekapan sang penjaga dan setelah itu bersama dengan jatuhnya tubuh penjaga tadi, ia pun ikut terjatuh ke dalam laut.