
Aku terlelap dengan sebuah buku kecil tergeletak di atas dadaku. Buku itu tadi kupakai untuk memberi angin kepada tubuh ini yang mulai berkeringat karena keadaan sangat panas di sini.
Aku tersadar di saat sudah terlelap tidur. Aku merasakan ada sesuatu di sampingku.
Ini pasti Rey. Tapi, kenapa dia empuk banget?
Aku membuka mata perlahan.
Hah, guling?
Aku melihat di atas ranjang sebelum aku tidur ada sosok suamiku. Saat tak sengaja aku melihat ke arah bawah, dia sedang tidur di lantai dengan bad cover cadangan.
Kenapa Rey tidur di bawah sih?
Listrik sudah hidup saat aku terbangun. Aku turun dan menutup jendela, serta mengecilkan AC.
Diam-diam aku menyusul ke tempat dia tidur. Memandangnya dari arah dekat. Keisenganku muncul kembali melihat Rey tidur sangat nyenyak. Aku mengambil bantal dan berbaring di sebelah suamiku perlahan-lahan.
Walau mulutnya sedikit terbuka, dia tetap kece badai. Ihihihi. Nyenyak banget ya. Sampe nggak sadar aku udah lingkarin tangan kiriku di atas perutnya.
Sampai beberapa menit aku masih memandaginya. Mengusap rambut yang sedikit menjuntai di keningnya dan berusaha menutup mulutnya. Aku sedikit terkiki saat bibir tipis itu kembali terbuka.
Mataku tiba-tiba saja terfokus dengan bibir itu. Aku membuang muka sekejap dan menghadap langit-langit kamar ini. Berkedip cepat dan berusaha mengembalikan kesadaran yang beberapa detik tadi hilang.
Aku sedang apa? Nanti kalau Rey tau aku di sini, bisa marah-marah dia.
Ketika aku hendak bangkit, Rey rupanya berbelok dan menghadapku.
Guling mana guling. Aku disangka guling. Tolong... gawat mukanya dekat banget lagi sama mukaku.
Deg. deg. deg.
Aku benar-benar tercekat saat tangan kanan Rey melingkar di perut atas membuatku sedikit sesak. Kakinya terangkat dan melingkar juga di kakiku. Aku diam sesaat walau napasku sudah kembang-kempis karena tertindih lengan Rey. Aku tak ingin pergerakanku mengejutkan dan membangunkannya dari tidur.
Aku menoleh ke arahnya. Napas terus masuk dan keluar di telingaku. Membuatku sedikit bergidik geli karena aku tak pernah sedekat ini dengan lelaki. Rey kemudian mengeram dan merapatkan dekapannya. Napasku semakin sesak dibuatnya.
Saat lengan atasnya menyenggol benda kenyal milikku, rupanya ia tersadar. Ia mencoba membuka mata lalu ia terkejut. Rey menjauh saat sadar aku di sebelahnya.
"Kamu kenapa di sini?" tanyanya terkejut.
Aku bangkit dan duduk. "Uhug.. uhug.. uhug.." Aku terbatuk-batuk karena menahan tindihan tangan Rey.
"Ini," kata Rey sambil memberiku segelas air putih. Aku lekas meninumnya hingga habis.
"Maaf Rey, uhug."
"Kamu ngapain tidur di bawah?" tanya Rey lirih.
"Aku cuma..." Aku memandang Rey yang agak sedikit marah.
"Maaf Rey," ucapku memelas padanya.
Setetes air bening ini tiba-tiba terjatuh. Aku menunduk sementara Rey masih memandangku.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Rey sambil memegang kedua pundakku.
"Aku sedih Rey. Kenapa belakangan ini kamu cuek sama aku?" Sambil sesegukan
"Aku nggak mau kamu suka sama aku," jelasnya. Aku mengangkat kepala dan memandangnya.
__ADS_1
"Aku suka denganmu dari dulu Rey. Terlambat kalau kamu bilang itu sekarang."
"Sssttt, jangan keras-keras. Nanti Papa denger." Jari telunjuk Rey ada di bibirku. Aku terdiam sesaat dan kami beradu tatapan kali ini.
"I love you so much, Rey."
Jarinya ia tarik kembali dan napas panjang yang keluar dari mulutnya.
"Aku belum bisa melupakan Vina."
Air bening ini tumpah kembali seiring nama itu keluar dari mulutnya.
"Bagaimana caranya supaya kamu suka sama aku? hiks, hiks, huaaa..."
"Hup." Telapak tangan Rey mendekap mulutku yang mulai berteriak. Sangkingkan semangatnya, ia juga mendorong tubuhnya hingga aku jatuh tertidur terhimpit olehnya.
"Jangan berteriak." Dia melihat ke arah pintu kamar.
Aku sibuk memandangi Rey dari arah bawah. Jantung ini semakin berdegup kencang saat Rey melakukan ini. Spontan saja kedua lenganku melingkar di leher Rey dan aku berhasil mencium pipinya. Pipi yang masih basah oleh air mata, kini di selingi oleh senyum merekah karena berhasil mendapatkan pipi Rey.
Aku mendorong tubuh Rey hingga kini kami bersebelahan. Aku memeluknya dari samping dan tidur di lengan kakannya.
"Sampai kapan aku bisa dapetin hati kamu, Rey."
"Kalau kamu cinta beneran sama aku, buktikan," kata Rey
"Hah, gimana caranya?"
"Ya terserah. Suka-suka kamu."
Bukan jawaban. Sambil manyun.
"Maaf kenapa Rey?" tanyaku masih memandang ke arahnya dari samping. Sementara ia memandang langit-lagit kamar ini.
"Waktu kamu tidur di kamarku, aku udah cium kamu." Rey melihatku. Kami bertatap dari jarak yang cukup dekat.
Tuh, kan beneran Rey yang cium aku. Aku memang berasa seperti nyata.
"Kamu kenapa minta maaf, Rey? Bahkan jika kamu melakukan lebih pun tak apa."
Ngarep..
Napas berat keluar dari mulutnya. "Aku belum siap. Jujur saja aku belum siap dengan ini semua. Lima tahun kebersamaan dengan Vina bukan waktu yang singkat."
"Vina kenal aku juga seperti kamu. Dia suka denganku, tapi aku acuhkan. Setelah lama, aku mulai bersimpati dengannya."
"Apa harus bertahun-tahun untuk bisa dapetin hati kamu, Rey?" Aku meliriknya.
"Ya tergantung."
"Mati, dong."
Rey tersenyum tipis. Aku senang bisa melihat senyum Rey
"Rey, kamu tau nggak?"
"Nggak."
Hem.
__ADS_1
"Sejak aku sekolah sampai aku nikah, aku nggak pernah pacaran."
"Iyalah. Cowok mana yang mau sama cewek absurd kaya kamu."
"Maksud kamu Rey?"
Rey tersenyum.
"Jawab Rey." Aku menghadapnya dan mencubit kedua pipi tepos Rey agar ia menjawab pertanyaanku.
Ia berusaha dengan keras melepas cubitanku.
"Sakit. Apa seperti ini kamu mau ambil hatiku?" tanya Rey.
Aku langsung mengelus kedua pipi Rey dengan telapak tanganku.
"Maaf, suami tercintaku."
"Oh, ya. Papa tadi bawa buah. Katanya biar aku cepet hamil."
Sontak kelopak mata Rey sedikit melebar melihatku. Entah mengapa tatapan Rey mulai menajam. Ia bangkit dan posisiku kini jadi terhimpit olehnya.
"Kamu mau apa Rey?" tanyaku saat Rey mulai mendekat padaku.
"Bukankah kamu menginginkan ini?" tanya Rey dengan tatapan tajam.
"Aku nggak maksa kamu kalau kamu belum siap." Aku terus menatapnya karena sorot mata itu semakin tajam bak singa yang siap menerkam mangsanya.
"Terus buat apa kamu beri tahu soal buah yang dibawa Papa, katanya supaya kamu cepet hamil?" tanya Rey mulai memojokkanku.
Aku menelan ludahku hingga berbunyi keras. "Aku cuma mau ngasih tau kamu, Rey. Itu aja."
Kenapa Rey tiba-tiba berubah? Sebenarnya aku suka dengan ini, aku menginginkan ini, tapi kenapa kesannya menjadi terpaksa untuknya.
Ia mulai mendekatkan wajahnya kepadaku, napas ini sesak karena harus berebut oksigen dengan Rey. Saat bibir itu mulai mendekat, azan subuh berkumandang. Aku yang terbawa suasana, tiba-tiba berhenti dan mencoba menjauh dari Rey.
"Kamu mau kemana?" tanya Rey.
"Sudah azan, Rey. Aku mau salat dan memasak," jawabku.
"Kamu harus tanggung jawab."
Dan Rey pun menunaikan kewajibannya. Waktu yang sempit ini ternyata bisa membangkitkan semangat Rey. Tapi, tetap saja aku merasa marah. Kenapa sudah subuh baru dia bergejolak. Sementara semalam suntuk dia biasa saja.
**
Aku memasak dan dia ada di kursi meja makan dengan jas yang sudah rapi. Sementara Papa, masih mandi.
"Kenapa manyun? Bukannya kamu udah dapat yang kamu mau?" tanya Rey.
Dia nggak tau aja aku manyun karena durasinya amat pendek. Oh mengapa..
"Emm, kalo gitu berarti kamu udah cinta dong Rey sama aku?"
"Belum?" jawab Rey dengan enteng.
Bisa-bisanya dia bilang belum? Lalu yang dia lakuin di kamar tadi apa? Sebenarnya yang absurd ini aku atau dia, sih.
Bersambung....
__ADS_1
Wahh, ternyata mereka duo absurd ya.. 😁😁