My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Konflik 2


__ADS_3

Terdengar sebuah mobil berhenti di halaman rumah Ibu. Aku mengintip dari jendela kamarku, Rey turun dari mobilnya. Dengan jas yang ia letakkan di lengan kakan dan tas kerja yang ia tenteng di tangan kiri.


Mata ini mulai berkaca-kaca saat memori otak berproses ketika aku melihat Rey bersama Vina. Sebetulnya, Rey sangat serasi dengan gadis yang tinggi semampai, serta rambut indahnya itu. Tapi, kenapa Allah


mempertemukan Rey denganku? Orang yang sama sekali tak membuat Rey tertarik.


"Assalamualaikum," sapa Rey.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu.


Kreeek..


Terdengar pintu dibuka. Aku berjalan ke arah lemari dan buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipiku.


"Sudah pulang, Rey," sapaku basa-basi.


Aku berbalik dan tersenyum kepada Rey.


"Apa kamu tadi ke kantor? Kata karyawan, kamu tadi ke kantor."


"Iya, aku tadi ke kantor. Abis aku bosen di rumah. Tapi, pas karyawan kamu bilang kamu udah keluar, ya aku langsung ke sini." Aku tersenyum padanya. Spontan tangan ini melepas dasi Rey.


Entah mengapa, melihat wajah Rey, aku menjadi luluh. Kesedihanku hilang, walau dengan jelas mata ini melihat dia bergandengan dengan gadis itu.


"Ini, kamu pakai kaos olahraga dan trening punyaku aja, ya. Kamu, kan, nggak bawa ganti." Aku memberikan baju serta handuk pada Rey.


Rey mengambil baju itu dari tanganku. "Lain kali, kalau mau ke kantor, telepon aku dulu."


"Iya, Rey. Sana mandi, bauk." Rey berjalan keluar.


Ketika pintu itu tertutup, air di dalam kelopak mata ini kembali tak terbendung. Sebisa mungkin aku menahan ini. Aku mencoba berhusnuzon pada suamiku. Mungkin saja ia hanya makan siang biasa dengan Vina.


Aku mengambil ponsel dan berusaha mencari hiburan. Membuka aplikasi biru berinisial F. Tak sengaja aku melihat orang yang kukenal di sana. Dia teman SMA-ku. Aku membuka profil karena aku belum berteman dengannya. Aku menekan tombol berteman dan langsung ia terima permintaan pertemananku.


Tak lama setelah itu, pesan M-ku menerima satu pesan.


[Hai, ini Almaira Syafitri ya?] isi pesan itu.


[Iya, kamu Dara The Virgin ya, ehh salah, Dara Muslihah, ya?] tanyaku berbasa-basi.


[Iya bener, ya ampun lama banget kita nggak konek. Kamu kemana aja?]


[Di sini, di rumah aja. Iya, lumayan lama sejak lulus]

__ADS_1


[Ihh, aku kangen deh sama kamu]


[Minta nomer WA kamu dong]


Aku mengirim nomer telepon kepada Dara teman SMA-ku. Dengan cepat ia menghubungiku di aplikasi hujau.


Aku bercanda dengannya sebentar sampai aku sedikit lupa dengan kesedihanku. Rey masuk kamar pun aku tak menyadarinya.


"Kenapa ketawa-ketawa?" tanya Rey yang baru saja datang.


"Ini, aku ketemu sama teman aku. Dia itu temen SMA-ku yang sama konyolnya kaya aku dulu," jelasku pada Rey. Namun, mata ini masih fokus memandang layar ponsel.


Rey mengeringkan rambutnya. Ia juga meraih ponsel miliknya. Ponsel itu ia taruh di sembarang tempat, aku sempat ingin membuka ponselnya, tapi sayang, ia mengunci dengan foto Rey. Jadilah aku urungkan niatku. Apa dayaku yang mengunci ponsel ini dengan usap saja. Pernah aku coba memberi pola atau nomer, tapi aku lupa sampai ponsel ini harus menginap di ruang gawat darurat konter.


Aku santai saja bila Rey diam-diam membuka ponsel ini. Karena memang tak ada apa-apa di dalamnya.


"Ahahahaha." Tiba-tiba aku tertawa dan merasa geli dengan isi chat Dara yang mulai menggelitik perutku.


Dia adalah teman SMA yang paling setia. Mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Sialnya kami selalu satu kelas, membuat kami dijuluki duo konyol dengan teman-teman yang lain. Sangat rindu rasanya ingin bertemu teman yang satu.


[Eh, pengen ketemu nih aku] kataku dalam pesan.


[Kamu aja ke rumah aku. Kamu enak belum punya bocil, aku kan repot kalo mau keluar-keluar. Ini anakku kalo sebentar nggak liat emaknya udah mewek dj] jelasnya.


[Kapan aja siap. Yang penting jangan tengah malam, yak]


[Ya elah, tengah malam juga si aku lagi bocan kelesss]


[Oh iya, pengantin baru aku lupa, hahaha]


Begitulah kiranya isi chat yang cukup membuat perutku berasa digelitikin.


Saat asik berkirim pesan, azan magrib berkumandang. Aku meletakkan ponsel dan pergi ke toilet untuk berwudhu lalu salat. Aku tak menghiraukan Rey yang masih siuk dengan ponselnya. Ia nampak sedikit bosan di sini. Mungkin karena rumah Ibu kecil dan kamarku juga kecil.


Setelah selesai, aku mengajaknya makan malam bersama.


"Rey. Ayo makan malam." Sambil membereskan mukena yang baru aku pakai.


Rey beranjak dan berjalan keluar. Ibu dan Ayah sudah menunggu di ruang makan. Rey menarik kursi lalu didudukinya.


"Ini, buat Reyhan." Ibu mengambil nasi di piring dan memberikannya untuk Rey.


"Aku mana, Bu."

__ADS_1


"Kamu ambil sendiri, dong," kata Ibu.


Aku hanya mengerucutkan bibir dan melirik Ibu.


"Alma, kamu jangan sering-sering ke rumah Ibu. Kamu, kan, harus mengurus suami kamu."


"Iya, Bu," jawabku singkat.


Bisa-bisanya Ibu bilang gitu sama aku. Hem.


Aku melahap makan malam ini dengan cepat agar aku bisa kembali ke kamar. Aku harus mengerti kalau Ibu sama sekali tak mengetahui masalah kami. Ia hanya melihat kami baik-baik saja.


Tiba-tiba mood-ku kembali buruk. Entah karena ocehan Ibu atau karena aku sendiri. Sebenarnya aku tak ingin Ibu tau masalah rumah tanggaku. Bisa-bisa, aku yang dia salahkan setelah melihat perlakuan Ibu dengan Rey seperti itu.


Aku selesai terlebih dulu dan masuk ke kamarku.


Aku harus bercerita dengan siapa? Papa, nggak mungkin. Bisa-bisa, jantungnya kambuh lagi.


Mungkin saat ini, aku akan menyimpan masalahku ini sendiri. Sambil menghadapi Rey setiap hari. Aku harus kuat demi orang-orang yang kusayangi.


**


Malam tiba. Aku masih sibuk dengan ponselku. Pengisi daya menancap sementara aku masih sibuk dengan video yang masih kutonton.


Aku menoleh dan melihat Rey. Dia sudah terlelap rupanya. Saat aku manatap Rey, seketika air mata ini kembali meluap. Mengingat lengan suamiku digandeng oleh gadis yang bukan siapa-siapa Rey.


Terbesit di pikiran untuk menyerah dan berpisah, tapi, yang kuingat pertama adalah Papa. Ibu, dan Ayah. Bagaimana kelanjutan hidup kami kalau saja aku berpisah dengan Rey.


Mulutku semakin kuat bersuara. Telapak tangan menutup mulut agar suara tangis ini tak terdengar oleh Rey.


Saat aku tengah melihat Rey tertidur, dengan cepat ia menarik tanganku. Aku pun tertarik dan terjatuh di atas dadanya.


Tangis ini berhenti seketika.


"Apa kau mau Ibumu mendengar tangismu ini?" bisik Rey.


Aku hanya menggelengkan kepala.


"Menangislah saat di rumah nanti."


Sembil sesegukan aku mengangguk tanda mengerti perkataan Rey.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2