
"Rey, apa kita jadi ke Bali?"
"Lain kali aja. Kamu kan, lagi hamil."
Kecewa. Berlibur di pulau Dewata yang dijanjikan Rey gagal. Tentu saja aku bisa menebak ini. Naik mobil saja seperti kura-kura lomba lari, apalagi naik pesawat pasti tak akan boleh.
"Besok aja kalau anak kita udah lahir." Rey mencoba menenangkanku.
Aku hanya bisa mengangguk perlahan. Walau bagaimanapun, aku harus menghargai kekhawatirannya. Meskipun aku benar-benar kecewa.
**
"Wah, Ibu sudah pulang. Bagaimana, Bu?" tanya Bi Ning di teras. Tangannya masih memegang gagang sapu.
"Positif, Bi."
"Wah, selamat, Bu. Saya ikut senang. Mudah-mudahan Ibu dan bayinya selalu sehat."
"Aamiin."
"Saya sudah masak, Bu. Apa Ibu sudah sarapan?"
"Sudah, Bi. Roti bakar. Tapi, aku udah laper lagi."
Kami masuk bersama. Bi Ning segera menyiapkan makan untukku.
"Bi. Saya hamil, kok, gak mual, ya?" tanyaku sambil menikmati makan pagi ini.
"Gak semuanya mual, Bu. Itu namanya hamilnya ngebo kalo kata orang Jawa."
Aku sedikit mengangguk. Padahal aku tak terlalu mengerti.
"Terus saya gak nyidam aneh-aneh, ya. Gak kaya artis-artis atau orang lain gitu. Malah ada yang sama sekali gak mau makan gara-gara mual. Sampai diinfus di rumah sakit, Bi."
"Kalo bisa jangan sampai, Bu. Anak di kandungan itu kan, butuh vitamin. Saya dulu juga ngebo sama kaya Ibu. Kalo nyidam aneh-aneh juga enggak. Paling cuma mau mangga muda yang baru dipetik dari pohon."
Sempat heran juga karena seingatku aku hanya ingin minum jus jeruk. Dan jadi suka sambal matah. Tak ada hal aneh lainnya.
"Ayah kerja dulu, ya," kata Rey yang baru saja datang. Ia sudah rapi dengan jasnya.
"Udah jam berapa, mau berangkat?" tanyaku.
"Iya. Ada meeting mendadak. Besok-besok, ayah libur, ya."
__ADS_1
Tak lupa Rey mengelus perut dan mencium keningku. Manis. Sangking manisnya sampai Bi Ning menahan tawa.
"Wah, Bapak jadi sayang sama Ibu."
Aku melirik Bi Ning. "Begitulah. Mungkin agak lebay, Bi."
"Bersyukur, Bu. Teman saya hamil dicuekin sama suaminya karena dia mabuk parah. Nyaris nggak turun dari tempat tidur. Nyidam gak pernah dituruti. Dia marah-marah terus tiap hari karena kerjaan rumah gak pernah beres.
Aku merasa iba. Tiba-tiba saja, bersyukur dengan sikap Rey yang sedikit berlebihan. Setidaknya aku masih sedikit beruntung dibandingkan ibu yang diceritakan Bi Ning.
Setelah selesai makan, aku berjalan ke kamar. Betapa terkejutnya aku melihat kamar Rey yang berantakan. Buku-buku memenuhi ranjang dan meja kerjanya. Selimut tidak terlipat dengan rapi. Bahkan beberapa kertas berserakan di lantai.
Aku memegang kepala karena terasa sedikit pusing. Tanpa menunggu lama aku berjalan masuk ke kamar Rey. Sudah beberapa bulan kamar ini tak ditempati oleh pemiliknya. Hanya dipakai untuk mengerjakan tugas kantor saja.
"Bu. Ibu sedang apa?" tanya Bi Ning saat melihatku memunguti buku-buku. Ia lalu masuk ke kamar dan membantuku membereskan kamar.
"Maaf, Bu. Saya lupa membereskan kamar ini. Tadi di teras banyak kotoran cicak. Jadi, saya langsung bersihin teras. Lupa mau beresin kamar Bapak."
"Gak papa, Bi. Saya risih aja lihat kamar ini berantakan. Entah kenapa di kepala gak nyaman."
Bi Ning mengambil alih membersihkan dan membereskan kamar. Sedangkan aku melangkah ke ruang tengah dan menonton tivi.
"Bi. Setelah ini tolong kupaskan buah."
Hari ini, aku begitu bahagia. Berulang kali aku mengelus lembut perutku. Membayangkan bayi di dalamnya lahir, membuatku tak sabar.
"Bi. Kalau anak pertama enaknya cowok apa cewek?" Aku bertanya setelah Bi Ning datang membawa irisan buah.
"Kalau pertama, sih. Menurut saya cowok, Bu. Kalau kedua baru cewek."
"Kenapa gitu, Bi. Kata orang cewek cowok sama aja?"
"Iya bener, Bu. Tapi, kalau orang kampung kaya saya, kalau anak pertama perempuan akan lebih cepat dapat cucu."
Aku mengerutkan alis. Sementara satu potong apel sudah berhasil kukunyah.
"Kenapa gitu?" tanyaku dengan buah yang siap ditelan.
"Ya, karena orang kampung, kan, gak punya biaya untuk anaknya melanjutkan kuliah. Jadi, anak perempuan kampung itu kalau tidak bekerja, ya, nikah."
Aku mengangguk mengerti. Ternyata tak jauh beda denganku. Hanya saja, aku yang memutuskan tidak melanjutkan pendidikan.
"Tapi, bukannya orang tua itu suka, ya, Bi kalau anaknya hamil. Ngomongin orang tua ... .Astaugfirullah, aku lupa telepon Ibu."
__ADS_1
Aku berjalan mengambil ponsel di dalam tas. Segera aku mencari kontak bertuliskan Ibuku sayang dan meneleponnya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Gimana kabarmu, Nak. Udah dua hari kamu gak nelpon?" tanya Ibu diseberang telepon.
"Baik, Bu. Oh, ya. Alma punya kabar baik buat Ibu."
"Kabar apa, Nak?"
"Alma hamil, Bu."
"Alhamdulillah. Ayah, Ayah. Cepat sini. Ayah di mana, sih!" Ibu sedikit berteriak hingga membuatku sedikit menjauhkan ponsel dari telingaku.
"Ibu. Nanti aja ngomong sama Ayah."
"Iya, Nak. Gak tahu, tuh, Ayah kamu di mana."
Aku tersenyum.
"Jaga kesehatan, ya, Nak. Jangan capek-capek, istirahat cukup, dan jangan marahin Reyhan."
"Hah, Ibu. Yang hamil kan, Alma. Bukan Rey, Bu."
"Iya, tapi bawaan bayi kan, gak sama. Bisa aja kamu jadi gampang perasaan sama Reyhan. Terus kalau nyidam jangan aneh-aneh. Kalau mau minta apa, siang aja. Jangan malam. Kan, kasian Reyhan kalau nyari sesuatu malam-malam."
Ibu, masih aja khawatir sama Rey. Padahal kan, anaknya yang hamil. Andai dia tahu malam kemarin aku suruh Rey keluar malam-malam buat beli tespek, pasti dia marah-marah.
"Iya, Ibu. Alma gak nyidam aneh-aneh, kok. Ya seengakknya buat beberapa hari kedepan. Gak tahu kalau minggu atau bulan depan."
"Ibu yakin, Reyhan pasti sayang sama kamu. Apalagi sekarang kamu hamil. Jadi, gak ada alasan buat kamu repotin dia. Kasihan dia itu udah capek kerja di kantor."
"Iya, Ibu."
**
Setelah 20 menit mengobrol dengan Ibu, aku memutuskan mengakhiri telepon. Terkadang, telinga ini cukup panas saat Ibu membela Rey. Tapi, aku masih bersyukur. Rey tahu kalau Ibu sangat sayang dengannya. Tapi, dia tidak mau memberitahu perihal aku minggat dari rumah. Andai Rey menceritakan semuanya, entah alat bantu apa yang Ibu pakai untuk memukulku. Aku ingat saat aku dipukul dengan sebatang kayu berukuran jempol karena tak mau mengaji di musolah.
Ibuku itu juga cukup sulit ditebak. Apalagi kalau suasana hatinya sedang tidak baik. Marah dengan Ayah pun, aku juga akan terkena imbasnya. Tapi, meski begitu, ia juga teman yang baik untuk diajak curhat. Bahkan mungkin satu-satunya teman yang bisa mengerti diriku dan menyayangiku dengan setulus hati.
Bersambung....
Bantu vote ya. Makasih😚😚
__ADS_1