My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Pria Misterius


__ADS_3

Setelah aku keluar dari toilet, aku langsung duduk di kursiku semula.


"Hai," sapa seseorang. Suaranya cukup besar, ketika aku menoleh, seorang pria telah duduk di kursi semula Rey duduk.


Aku melihatnya dengan sedikit menautkan alisku. Dia tampan, rambutnya hitam. Di bagian depannya berdiri dan dia nampak tersenyum kepadaku. Aku masih terdiam memandanginya. Kedipan mata bagian kanannya sontak mengejutkanku. Membuatku membuang muka terhadapnya dan meringis ngeri.


"Namaku, Rian. Kamu?" Dia mengulurkan tangannya kepadaku dengan tersenyum lebar.


Aku masih melihatnya dengan aneh. Terdiam sejenak lalu berkata, "Aku Alma." Aku tak menerima ajakannya untuk bersalaman denganku. Aku memang begitu dengan orang yang tak terlalu kukenal. Tak mudah akrab.


Senyumnya semakin lebar saat ia menarik kembali tangannya. Agak malu mungkin, lalu ia menggaruk kepala belakangnya.


"Sebenarnya aku tau. Aku tadi juga udah denger kamu nyanyi. Suara kamu bagus. Hampir sama dengan penyanyi gadis yang manis itu. Kamu juga nggak kalah manis," katanya merayu.


Alisku semakin menaut setelah mendengar rayuannya. Cukup risih sebenarnya. Karena Rey sendiri tak pernah memujiku. Pujian lelaki di depanku ini terdengar berlebihan.


"Makasih," sahutku singkat. Senyum terpaksa terpampang jelas di wajah ini.


"Kamu istri, Rey?"


Ni orang kepo rupanya. Kenapa juga nanya-nanya. Saudara bukan.


Aku hanya tersenyum, lalu memalingkan wajah.


"Rey rugi banget udah cuekin kamu. Wanita semanis kamu, malah ditinggal gitu aja. Demi bisa mengobrol dengan teman-temannya."


Memang, kalimatnya barusan cukup membuatku nyesek. Namun, aku hanya terdiam mendengarkannya bicara dari telinga kiri, lalu keluar dari telinga kiri lagi, alias mental.


Nafas kesal mulai keluar. Bicaranya mulai kurang enak didengar. Sepintas, aku melihat di kejauhan Rey melirik kami. Namun, ia masih di sana dengan teman-temannya tanpa berniat kembali ke sini, di mana aku berada.


Mungkin pesta sebagian orang atas memang begini. Mungkin juga akulah yang tak mengerti cara berfikir mereka atau memang benar, Rey mengacuhkanku.


"Boleh minta nomer ponsel kamu?" pintanya sambil memegang ponsel di depanku.


Rasa ingin marah menerpa. Di mana saat aku merasa kesal dengan Rey, lelaki ini justru membuat keadaanku semakin kacau saja dengan permintaannya. Aku kembali melihat Rey. Dia berjalan ke arahku. Reflek saja, aku langsung mengambil ponsel lelaki bernama Rian ini dan menulis nomer ponselku di sana.


Aku berpura-pura ramah dengannya hanya untuk mendapat simpati Rey.


"Ohh, iya. Itu tadi nomer ponsel aku. Telepon, ya," kataku.


Tapi, belum sempat habis kata-kata ini, Rey datang dan menarik lenganku. Wajahnya gusar. Matanya tajam dan sedikit memerah. Aku sampai harus mengimbanginya berjalan dengan kaki jenjangnya itu. Tentu cukup sulit apalagi kakiku tak sepanjang kakinya. Di tambah dengan sepatu hak tinggi yang aku kenakan.

__ADS_1


Aku berusaha melepas tangannya yang memegang lenganku cukup kuat karena mulai terasa sakit.


"Lepasin Rey. Tanganku sakit." Sambil melepaskan tangannya dengan tanganku yang lain.


"Ayo kita pulang!" perintah Rey.


Dia melepaskan tanganku saat sampai di depan pintu masuk.


"Kamu kenapa, Rey?" tanyaku heran.


"Apa kamu ngak tau malu, ngobrol berdua sama laki-laki bukan suami kamu?" cerca Rey. Tak pernah aku melihat Rey emosi seperti ini. Bahkan melebihi saat aku keluar malam itu.


"Terus aku harus gimana kalau kamu ngobrol sama temen kamu, Rey."


Dia berjalan ke arah lift dengan cepat sambil mengantongi kedua tangannya di celana. Aku mengikutinya dengan cepat agar tak tertinggal saat masuk lift.


Wajahnya masih terlihat gusar. Sebentar-sebentar, aku meliriknya yang fokus menatap ke depan. Nafasnya cukup cepat. Ia masih saja diam hingga lift sampai di lantai dasar. Dengan terburu-buru aku sedikit kesusahan mengimbanginya berjalan.


Mobil melesat cukup cepat meninggalkan parkiran. Entah mengapa, aku sedikit merasa bersalah karena Rey terlihat marah. Mungkin, ia masih menahan emosinya padaku.


Tiba-tiba saja, aku merasa mual. Pendingin mobil ini terasa menusuk tulang. Keringat dingin mengembun di dahi dan sekujur tubuh. Ulu hati juga terasa pedih.


Tangan kanan menahan mual sedangkan tangan kiri memegang perut. Tak lagi aku hiraukan Rey.


Kepala terasa berat secara tiba-tiba.


"Kamu kenapa?" tanya Rey. Ia menepikan mobil sejenak.


Rey menarik daguku dan melihat wajahku. Meski make up ini tetap on, tapi, Rey menyadari bahwa wajahku kini terlihat sedikit pucat.


"Pusing, Rey. Dingin, matikan AC-nya," sahutku sambil menggigil dengan mata sayup.


Rey lantas mematikan AC dan menjalankan mobilnya. Sebelum itu, dia terlebih dulu melepas jasnya dan menyelimuti tubuhku. Kaca dibuka sedikit agar udara bisa masuk.


Sepintas aku melihat Rey kegerahan di dalam sini meski ia membuka dua kancing atas kemejanya. Perut ini terasa sangat perih hingga aku hampir tak sadarkan diri.


Setelah beberapa puluh menit berkendara, mobil berhenti di sebuah klinik. Tanpa disangka, Rey turun dan langsung menggendongku menuju ke dalam klinik. Ia terlihat tergesa-gesa dengan keringat menetas bergantian dari wajahnya.


Tampak ia sangat serius dengan keadaanku. Cemas, khawatir juga tergambar jelas di wajah tirus nan manis itu. Senyum masih bisa aku tunjukkan untuknya meski ia masih saja fokus dengan langkah kakinya itu untuk segera sampai di ruangan gawat darurat.


Seorang perawat datang setelah aku diletakkan Rey di tempat tidur.

__ADS_1


"Istrinya kenapa, Pak?" tanya perawat.


"Dia bilang perutnya sakit," sahut Rey.


"Sebentar, ya, Pak. Dokter akan segera kemari." Selagi menunggu dokter, perawat itu mengecek tekanan darahku. Sedangkan aku masih memegang perut yang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum ini.


Sesekali bibir kugigit karena menahan sakitnya. Rey tampak gelisah. Ia memegang tanganku dan berkata, "Tahan, ya."


Aku mengangguk pelan. Dokter yang ditunggu-tunggu pun datang. Ia langsung memeriksa perutku.


"Sakit sekali, Bu?" tanya Dokter.


"Iya," jawabku lirih.


"Ibu tadi makan apa? Telat makan nasi, ya?" tanyanya lagi.


"Minuman itu..."


"Coktail," sela Rey.


"Wah, kalau belum makan nasi, jangan minum minuman seperti itu. Lebih baik kalau air putih hangat saja."


Perawat datang dan memasang infus. Ia memperlihatkan secarik kertas kepada Dokter.


"Darahnya juga rendah. Nanti setelah pasang infus, dan minum obat, baru boleh pulang," terang Dokter.


"Iya, Dok," sahut Rey.


Rey melepas tangannya dariku dan berjalan menjauh.


"Mau kemana, Rey?" tanyaku.


"Beli nasi bungkus. Kamu, kan, belum makan."


"Jangan lama-lama, ya, Rey."


Rey hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar ruangan. Aku melihat pergelangan tangan kiriku. Ada selang infus di sana. Bahkan sakit tusukan jarum saat mencari nadi di lenganku tak begitu sakit di banding sakit di perut ini.


Tak lama kemudian, Rey datang membawa makanan.


"Rey, jangan telepon Ibuku, ya."

__ADS_1


Rey melihatku dengan binar yang penuh tanya.


Bersambung...


__ADS_2