
Karena secarik kertas itu, malam ini aku susah tidur. Cincin ini aku kembalikan ke dalam kedua kotak dan mengikatnya kembali dengan pita berwarna perak itu dengan rapi. Meski kertasnya hilang, anggap saja aku tak menerima permintaan Rian. Wajahku mirip dengan mendiang istrinya. Namun, aku tak tahu Rian bersungguh-sungguh dengan perkataannya atau tidak.
**
Pagi ini, aku bangun lebih awal. Menyiapkan sarapan bersama Bik Ning. Sesekali kami bersenda gurau di dapur. Tanpa kusadari, Rey telah duduk di kursi makan. Aku dan Bik Ning diam seketika. Sedikit canggung.
"Apakah kemarin kamu lembur?" tanya Rey. Ia menatapku yang tengah menyiapkan sarapan.
"Iya. Maaf, aku tak izin dulu denganmu. Kemarin kamu berangkat lebih dulu, Rey."
Rey tengah minum segelas air putih.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Jam sebelas."
Sebenarnya lebih sedikit.
Rey melangkah ke toilet dapur. Suara gemericik air terdengar dari sini. Saat ia keluar, wajahnya masih basah dengan air. Di bawah sinar pantulan dari jendela, air di wajahnya menetes membasahi lantai yang ia lalui. Rey lantas mengelap pada handuk yang tak jauh dari dapur.
Ia duduk kembali di kursi semula. Kali ini dengan ponsel di tangannya. Sedikit fokus kepada benda pipih di tangannya itu.
"Eh,ada kue, Bu. Kue siapa, ya, ini?" tanya Bik Ning setelah ia membuka lemari pendingin.
Kue itu ditutupi oleh beberapa wadah. Dan entah kenapa, tak terlihat olehku saat mengambil sayuran dari sana.
"Mana, Bik? Tadi saya juga buka kulkas, tapi saya gak lihat itu ada di sana?"
"Ketutup sama toples besar ini, Bu."
Kue itu dikeluarkan oleh Bik Ning dari dalam kulkas. Kue yang pinggirannya penuh dengan coklat. Ada beberapa bunga di atasnya membuat kesan indah kue itu.
"Ibu beli ini? Saya cobain, ya?" Bik Ning hendak mengiris kue itu.
"Saya gak beli kue ini kok, Bik."
Aku melihat Rey bangkit dengan cepat dan berlari lantas mengambil kue itu. Ia membawanya ke meja makan.
"Ini saya yang beli. Jangan dimakan. Saya belum mencobanya," kata Rey.
Aku mengerutkan alis dan memandang Rey.
"Sejak kapan kamu suka manis, Rey?"
Mata Rey bergerak kesana kemari. Ia tampak cukup bingung dengan pertanyaanku.
"E-e-aku suka kue ini." Ia sedikit gelagapan.
Aku tersenyum sembari mengelap piring dan gelas.
"Dari mana kamu tau kamu suka. Dicoba aja belum?" Aku menahan tawa. Sementara Bik Ning juga terdengar menahan tawanya.
"Aku suka." Rey lantas mengambil garpu di dekatku. Ia mengiris sedikit kue itu dan memakannya ragu-ragu.
Tak berapa lama kue itu berada di dalam mulutnya, Rey segera meminum air putih. Begitu juga dengan suapan kedua, ketiga, dan seterusnya. Dirasa kasihan, aku lantas menghampiri Rey.
"Kalau gak doyan, jangan dimakan," kataku sambil mengambil sepiring kue tart di depannya.
Rey memandangku sejenak. Ia kini berlari ke toilet sambil menutup mulutnya. Aku dan Bik Ning tertawa lepas saat ia berada di dalam sana.
__ADS_1
Sembari menunggunya keluar, aku memakan kue ini. Kue tart yang dibeli Rey ini sangat enak sekali. Meski harus membuat Rey mengeluarkannya kembali.
Rey kini keluar dari toilet. Ia terlihat lega.
"Sejak kapan kamu tak suka manis, Rey? Bukannya dulu kamu pernah makan coklat pemberianku?" tanyaku sambil memakan kue ini.
"Sejak kuliah. Makanan dan minuman terlalu manis membuatku susah berpikir," jawab Rey. Ia tampak sedikit gelagapan juga.
Mungkinkah Rey berbohong?
"Oh. Hem, kamu tau, ya, kalau aku kamarin ulang tahun? Mana hadiahku?" Aku mengulurkan tangan.
"Tidak. aku hanya iseng saja membeli kue itu."
Aku tersenyum.
"Akting kamu jelek Rey."
Rey lantas pergi ke kamar. Wajahnya sedikit memerah. Ia juga memasukkan satu tangannya ke kantong celana pendeknya.
"Hahahahahah." Aku dan Bik Ning tertawa sangat kencang setelah Rey pergi.
Pagi ini aku cukup bahagia karena Rey terlihat tak marah lagi denganku. Aku cukup lega melihat ia tersipu malu seperti itu.
"Bu. Sudah matang. Silakan sarapan," ucap Bik Ning.
"Iya, Bik. Bibik siapkan dulu makanannya. Saya mau nyusulin Bapak."
"Iya, Bu."
Aku berjalan menuju kamar Rey. Rupanya ia tengah membaca buku sambil bersandar di kursi kerjanya.
"Rey."
"Mana hadiahku, Rey." Kini aku merengek di dekat Rey.
"Gak ada," jawabnya cepat.
"Gak mungkin gak ada. Buktinya kamu beli kue buat aku. Hem."
"Kamu mau minta apa? Nanti aku belikan."
"Hadiah itu maunya kamu dong, Rey. Bukannya aku."
**
Setelah beberapa menit tak berhasil merayu Rey, ia lantas kembali ke meja makan untuk menyantap sarapan pagi. Aku meliriknya berulang kali karena merasa kesal. Namun, ia santai saja sambil menikmati sarapan.
"Jam berapa Ibu akan datang?" tanya Rey.
"Entah!" jawabku sambil memanyunkan bibir ini.
"Hem, apa kemarin Ibu meneleponmu, Rey?"
"Iya."
Apa yang Ibu katakan kepada Rey? Apakah mungkin Ibu memarahi anak lelakinya ini sama seperti ia memarahiku?
"Assalamualaikum." Terdengar seseorang mengucapkan salam di luar.
__ADS_1
Bik Ning lantas berjalan cepat dan membuka pintu.
"Alma, Reyhan?"
Aku mengenalinya. Pasti itu suara Ibu.
"Ibu." Aku berdiri hendak menyambutnya. Namun, Ibu sudah sampai di dapur sebelum aku sempat berjalan menemuinya.
"Wah. Lagi sarapan? Reyhan, sudah lakukan apa yang Ibu minta?"
"Sudah, Bu."
"Ibu suruh Rey apa?"
"Ibu bilang. Kalau kemarin kamu ulang tahun Jadi, ibu kasih saran dia beli hadiah atau kue."
"Tapi, dia gak beli hadiahnya, Bu. Cuma kue aja."
"Udah. Minta aja lain kali. Yang terpenting itu hubungan kalian. Hadiah kok, diributin."
"Kalian udah nggak marahan, kan?"
"Apaan Ibu, emang anak kecil, marahan."
"Emang siapa coba yang telepon ibu kemarin. Cerita begini begitu sampai hampir nangis."
"Kan, hampir, Bu."
Ibu terlalu mendramatisir.
**
"Sini, duduk di bawah," titah Ibu. Rupanya kami sedang disidang di ruang tamu. Sedangkan Ayah asik menonton tivi sendirian sambil memakan camilan.
Aku dan Rey duduk di lantai beralaskan karpet. Sementara Ibu duduk di kursi.
"Kalian itu sudah dewasa. Bila ada masalah, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Ibu di sini tak membela Alma ataupun Reyhan. Kalian sama-sama bersalah karena terlalu mementingkan ego masing-masing. Kalian itu punya kewajiban, sudah seharusnya pasangan kalian yang kalian utamakan. Mengerti?"
"Ya, Bu," jawab kami serentak.
"Utamakan yang ada di dalam rumah. Kalau kalian sudah memiliki anak, utamakan anak kalian juga. Jangan orang lain di luar sana. Apalagi kamu Alma. Kamu perempuan sudah punya suami. Walaupun kamu tak berbuat apa-apa dengan Bos kamu, orang lain yang melihat kamu akan berpikir macam-macam karena kamu berdua dalam satu mobil."
Aku menunduk. Merasa diri ini begitu bersalah. Ya, orang lain tak bisa melihatku saat sedang di dalam mobil bersama Rian. Mereka hanya melihatku berada satu mobil dengannya.
Aku melirik Rey.
"Reyhan juga sama. Jangan buat orang berpikir macam-macam karena kamu satu mobil dengan wanita cantik."
"Ya, Bu," sahut Rey. Ia juga menunduk. Entah merasa bersalah atau tidak.
"Mulai sekarang. Kalian tetap bekerja sepeti biasa, tapi, kalian tidak boleh satu mobil dengan lawan jenis kecuali mahram kalian, mengerti?"
"Iya, Bu."
"Bu, tapi Alma kan, kalau pergi ke kantor diantar sama Pak Joni? Sama berduaan juga, kan?" tanyaku.
Ibu melihatku sambil menyipitkan matanya. Ia tampak seram sekali dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.
"Iya, Bu. Maaf. Alma minta ampun."
__ADS_1
Bersambung...
Yuk like n vote.. Kasih author semangat yaa.. ðŸ˜ðŸ˜