
Hidup merupakan suatu misteri. Akan bagaimana esok, tiada satu manusia yang tahu. Akan menghadapi keadaan yang baik atau buruk, kita juga tak tahu. Allah memberi kita cobaan di luar pengetahuan sebagai hamba-Nya. Hal yang menurut kita berat, itu adalah bukti bagaimana Allah menyayangi kita.
Cobaan inilah yang tengah menimpaku. Satu bulan menjalani keromantisan bersama Rey, aku dikejutkan dengan perilakunya yang sedikit berubah. Mungkin ia tak menyadarinya bahwa aku merasa ada yang lain dalam dirinya. Sampai aku bertemu dengan Vina siang itu.
"Makasih, ya, Al. Kamu udah temenin aku belanja. Hari ini aku borong baju diskonan karna baru gajian. Lumayan bisa hemat pengeluaran," ujar Dona.
Aku baru saja menemani Dona berbelanja.
"Iya. Sama-sama. Sini aku bantu bawain. Kamu kok kaya kesusahan gitu." Aku mengambil beberapa kantong plasik yang tengah Dona bawa.
Sebagai teman tentunya aku harus membantu karena ia cukup kesulitan membawa belanjaannya sendirian.
Saat kami berjalan menyusuri trotoar, tak sengaja kami bertemu dengan Vina. Dengan gaya modisnya itu ia berjalan meliuk-liukkan tubuhnya dengan tas berwarna merah menyala yang menggantung di lengan kirinya.
"Alma," sapanya. Mata itu memandangiku penuh cibiran. Apalagi saat ia melirik ke kantong plastik yang tengah aku bawa.
Ia tersenyum sebelah seraya berkata, "Nyonya Reyhan Mahendra belanja diskonan?" Matanya sedikit melebar.
"Apa urusanmu?" Aku balik bertanya.
Dia tersenyum kembali. "Tidak ada. Aku hanya heran saja. Apa Rey tidak memberimu cukup uang?"
Aku maju satu langkah. "Heh. Kamu pikir meskipun ini pakaian diskon, tapi tak layak dipakai manusia? Kami beli, bukan mencuri."
Ia kembali tersenyum sambil memainkan rambutnya. "Kamu sudah berani, ya."
"Aku. Aku selalu berani. Kamu manusia, kan. Kamu makan beras dan roti, kan. Bukan besi atau paku. Buat apa aku takut," sabutku cepat.
Mata kami beradu tatap beberapa saat. Sampai ia terkejut dengan jawabanku. Sontak ia merasa kesal.
"Nyonya Reyhan. Saya menyarankan Anda untuk mengikuti perkembangan perusahaan suami Anda melalui sosial media. Karena saya melihat Anda kurang update soal hal itu." Ia kembali tenang. Namun, dengan nada yang sedikit memancing.
"Aku Nyonya Reyhan, aku tak perlu saran darimu." Aku meraih lengan Dona dan berjalan.
Kali ini dengan sengaja aku menerobos jalan karena Vina berada tepat di hadapanku. Ia tampak kesusahan karena barang yang kubawa cukup banyak. Aku dan Dona berjalan cepat meninggalkan Vina yang terdengar mengumpat di belakang. Tak kupikirkan lagi ia.
"Wah, kamu keren, Alma." Dona bertepuk tangan kecil sambil menatapku.
Aku membuang napas dan kemudian kembali berjalan santai seperti sebelum bertemu Vina.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Aku sebenarnya tak tega dengannya." Aku menatap Dona.
"Memang kamu terlalu baik untuk melakukan itu."
"Hem."
Aku sama sekali tak berharap bertemu dengannya. Rasa kesal dan jengkel pasti naik sampai ke ubun-ubun.
**
Saat ini, aku di rumah. Tepat di depan tivi sambil mengutak-atik ponsel. Rasa penasaran membuatku mengikuti saran Vina. Sebenarnya setengah iseng saja aku membuka sosial media berinisial F dan mengikuti grup perusahaan Rey. Menelusirinya. Namun, tak ada yang aneh di sana. Sampai aku menemukan akun Vina.
Rasa kepo ini menjalar jauh hingga aku berhasil membuka akun miliknya dan mengintip foto yang ada di dalam galeri. Beberapa fotk tak asing. Ya, ada Rey di sana. Bahkan beberapa foto bersama pria dan wanita luar negeri. Mungkin foto saat mereka masih di Amsterdam dulu.
Rasa cemburu ini menyeruak saat foto kedekatan mereka di beberapa lokasi wisata. Bagiku, mereka adalah pasangan sempurna. Apalagi saat foto tangan yang saling berpegangan memakai sarung tangan dengan latar belakang salju.
Tak terasa setitik air dari mata ini sudah meluncur sempurna jatuh melewati pipiku.
Langkah kaki terdengar dari dalam. Aku segera menekan tombol home. Dengan cepat ponsel keluar dari aplikasi.
"Maaf, ya. Aku ada meeting mendadak."
"Hari minggu?" tanyaku.
Aku menunduk dan merasa tak percaya. Baru kali ini aku temui hari libur tetap bekerja.
"Maaf, ya."
Aku mengangguk terpaksa. "Tak apa, Rey."
Rey mengecup keningku dan berlalu. Tak berapa lama, ia sudah memakai jas dan menenteng tas. Aku masih diam memandanginya sampai mobilnya pergi.
**
Saat aku membuka lemari es, tak sengaja aku melihat tepung dan bahan-bahan membuat kue. Untuk mengusir rasa jenuh, aku mengintip video tutorial membuat kue. Roti bolu keju. Akan aku buat rasa yang lebih gurih dan tak terlalu manis. Jadi, akan cocok di lidah Rey.
Meski rasa sakit karena masih teringat foto-foto itu, aku berusaha menghibur diri. Kebahagian saat aku sedang bersama Rey tiba-tiba terlintas.
Andai dia di sini pasti akan lebih indah.
**
__ADS_1
Tak terasa, dua jam sudah aku berkutat di dapur. Bik Ning yang sudah pulang sejak satu jam yang lalu menjadikan diriku harus membereskan dapur ini sendirian.
Setengah loyang sudah berhasil masuk ke perutku. Aku masih saja menunggu Rey sambil sesekali melirik jam dinding. Padahal sudah jam delapan malam. Tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan Rey.
Aku teringat sesuatu saat mengusap layar ponselku. Grup perusahaan. Segera aku membuka aplikasi dan mengintip apa yang terjadi di kantor. Bisa saja, admin mengunggah agenda hari ini.
Perkiraanku benar. Baru beberapa menit unggahan sudah muncul. Ada foto Rey dan beberapa orang. Dan foto Rey bersalaman dengan pria putih berkaca mata.
Mata ini tersita dengan pandangan yang sedikit mengganggu. Vina. Wanita itu ada di sana. Dengan percaya diri yang tinggi ia ikut berfoto dengan Rey dan beberapa orang di sana.
Apa mungkin aku harus membiasakan diri dengan ini? Karena kesal, aku sampai melempar ponsel ke ranjang. Aku juga menjatuhkan diri di sana. Rasa lelah dan kesal.
**
"Huaem."
Hah, sudah pagi.
Aku melangkah dengan cepat menuju kamar Rey. Dan ia tampak masih tertidur. Aku menggigit bibir mendapati Rey tidur di kamarnya. Rasa curiga terbesit di kepalaku. Aku merasa keanehan terjadi. Aku juga tak tahu jam berapa Rey sampai di rumah malam kemarin.
**
"Pagi, Bu," sapa Pak Joni. Ia tengah mengelap mobil.
"Pagi, Pak."
"Apa Bapak belum bangun?"
"Belum. Kenapa, Pak Jon?"
"Mungkin dia masih mengantuk karena malam tadi pulang jam satu, Bu."
Deg.
"Apa benar, Pak Jon?"
"Benar, Bu. Bapak gedor-gedor kamar saya minta dibukakan pintu depan. Waktu saya tanya kenapa tidak membangunkan Ibu, katanya kasian sudah tidur."
Penjelasan Pak Joni cukup membuatku naik darah pagi itu. Dengan rasa kesal yang memuncak, aku membanting pintu kamar dengan keras.
Bersambung...
__ADS_1
Wahh, ada apa lagi nih sama Rey, ya. Yuk author gak bosan ngingetin buat kalian sematkan jempol dan poin ya.. 😊😊😊😊