
Kadang menghabiskan waktu itu hal yang cukup membingungkan. Untuk sekedar bermain ponsel menurunkan dan menaikkan layar kadang juga membuat diri ini merasa bosan. Alhasil, hanya rebahan yang bisa aku lakukan setelah menjajal baju seharga motor Ayahku ini.
Desah nafas menyesal kembali kaluar tatkala melihat modelnya. Sungguh selera orang atas benar-benar tak terduga.
Tercetus ide di kepala ini untuk mencari cara memakai make up yang lagi nge-trend saat ini. Aku melirik meja hiasku sesaat setelah aku bangun dari rebahan di ranjangku. Hanya ada fuondation, bedak, lipstik dan beberapa warna blush on. Terlalu biasa memang. Karena aku tak terlalu suka yang terlalu mencolok. Bagiku hanya make up saat pernikahan saja yang harus on.
Aku iseng-iseng mengintip aplikasi video bagaimana cara memakai make up yang terlihat natural. Ha, masih sangat kurang ternyata make up yang aku punya. Oke, aku buka aplikasi belanja online dan bermaksud memesan alat make up. Ahh, aku lupa. Make up itu bisa saja datang beberapa hari lagi, sedangkan pestanya besok.
Sedang berpikir bagaimana mendapatkan alat make up cepat, terdengar bel pintu di tekan.
Ting.. Tung..
Aku segera berlari ke dapan. Aku melihat sosok bayangan suamiku lewat jendela dan mobil yang sudah terparkir di garasi.
"Assalamualaikum." Dia mengucapkan salam setelah aku membuka pintu.
"Waalaikumsalam, kebetulan Rey. Aku mau keluar sebentar, kamu mau, ya temenin aku." Aku memasang wajah memelas agar ia mau menemaniku.
Beberapa kedipan mata dan seuntai senyuman masih terpasang saat ini. Aku masih berdiri di ambang pintu sementara Rey melihatku aneh. Mungkin dia pikir, saat ini aku adalah anak kecil yang sedang meminta es krim.
"Keluar kemana?" tanyanya santai sambil masuk ke dalam rumah.
"Ke toko kosmetik," jawabku ragu-ragu.
Rey berbalik sambil memegangi dasinya yang hendak ia lepas.
"Ganti bajumu," katanya, lalu ia berbalik lagi berjalan ke kamarnya.
Senyum keraguan, kini berubah menjadi senyum penuh kebahagian. Aku berlari ke arah Rey sebelum ia masuk ke kamarnya. Aku memeluknya dari belakang hingga membuatnya cukup terkejut.
"Makasih, Rey." Aku langsung berbalik dan masuk ke dalam kamarku lantas berganti baju dan memakai hijab.
"Ayo cepetan!" seru Rey dari luar kamarku.
"Iya, sebentar. Sabar, ya. Tinggal pakai hijab, kok," kataku sambil menyematkan jarum pentul di dagu.
"Aaa...!" Aku berteriak karena jarum ini menyerempet daguku.
"Kenapa?" tanya Rey.
"Nggak papa, Rey," jawabku cepat.
Aku keluar sambil memegangi daguku. Inilah akibatnya bila aku terlalu terburu-buru.
__ADS_1
"Ayo Rey," ajakku. Aku mengunci pintu setelah Rey keluar. Ia langsung masuk ke dalam mobil sementara aku membuka pintu gerbang.
Setelah memastikan semua terkunci, kami berangkat menuju tempat tujuan. Aku melirik Rey yang fokus dengan setirnya.
"Jangan lupa kedip, Rey," kataku sedikit menggodanya.
"Hem," jawabnya singkat.
Dia ini mau nyanyi kali ya. Hem, hem, hem.
Hari mulai gelap. Lampu ruko dan gadung-gedung yang menjulang tinggi mulai hidup seiring mobil melewati jalanan kota yang cukup sibuk ini.
Tak berapa lama, mobil Rey berhenti di depan toko kosmetik yang cukup besar. Setidaknya ada tiga lantai tepat di depan kami. Rey masuk terlebih dulu dan aku mengikutinya seperti anak ayam mengikuti induknya.
"Pak, Rey. Selamat malam," sapa pelayan toko. Pelayan itu berdiri dan membukakan pintu untuk Rey. Rupanya ayu, bajunya sangat rapi hingga aku berpikir, ia adalah pramugari. Ternyata pelayan toko.
Aku kira dia itu pramugari. Super rapi.
Aku melirik dari belakang. Rey nampak gagah dengan jas hitam bergaris putih kecil yang menghiasi setiap sudut jas yang nampak pas itu.
"Mari, Mbak ikut dengan saya," kata pelayan itu. Ia terus saja tersenyum kepadaku.
Aku mengikutinya yang berjalan masuk ke dalam toko. Mata ini langsung terpana melihat poster besar wanita dan gadis yang memakainya make up. Mulai dari make up yang tipis sampai yang sangat tebal. Dari make up American sampai Asian.
"Mbak mau beli make up seperti apa?" tanya pelayan.
Mana aku tau nama-namanya. Astaga..
"Emm, make up yang lengkap aja, Mbak. Saya pingin dandan seperti Mbak Nisa, penyanyi gambus itu lo," terangku.
Ia lantas berjalan ke arah meja yang terdapat beberapa koper di sana. Ada koper hitam dan koper perak. Aku masih mengerutkan alis ini karena belum mengerti maksud pelayan ini.
Kenapa di sini juga jual koper. Setahu aku ada di toko pakaian atau butik. Ternyata di sini juga ada.
Pelayan itu lantas membuka katup koper dan mengangkatnya. Betapa terkejutnya aku melihat isi koper itu. Di sana ada cermin dan alat-alat make up yang super lengkap. Juga berbagai kuas dan spons untuk mengaplikasikan make up.
"Ini, Mbak. Kalau mau yang lengkap," kata pelayan itu.
Aku mendekat dan melihatnya dari jarak yang dekat. Sungguh bagus sekali untuk ukuran wanita sepertiku.
Pasti ini kopernya artis-artis, nih. Apa pantas kalau aku punya ini?
"Mbak?" panggilan pelayan mengejutkanku.
__ADS_1
"Kalau, Mbak mau ini, bisa dipakai untuk make up seperti yang Mbak mau. Artis-artis yang di poster itu juga bisa," katanya.
Benar saja aku sudah terbujuk rayuan pelayan. Rupanya dia ini cukup pintar meraih hati pelanggan di sini.
"Iya, deh," jawabku.
Dengan tersenyum lega, pelayan toko membawa koper itu berjalan ke arah kasir. Aku melihat Rey sedang duduk di sofa sebuah ruangan di seberang ruang make up. Ia duduk santai sambil memainkan ponselnya. Beberapa saat, ia melirikku yang tengah berdiri di depan kasir.
Rey bangkit dan berjalan ke arahku. Beberapa orang wanita di dalam toko ini, terpaku melihat Rey berjalan dengan percaya diri bak model red karpet. Ia sampai di depanku dan mengambil dompet di saku belakangnya.
Rey memberikan kartu ATM kepada kasir.
"Jumlahnya tiga juta rupiah," kata wanita yang selesai menggesekkan ATM Rey.
Hah? Tiga juta.
Raut wajahku berubah seketika. Terkejut mungkin, tapi, harga itu sebanding dengan barang yang aku pegang ini. Sekali lagi, aku masih belum terbiasa dengan ini. Kehidupan yang masih asing di mataku. Make up kecil di pasar saja mungkin tak sampai seratus ribu. Oh benar, kehidupan orang kalangan atas memang tak bisa aku bayangkan. Nanti, entah apa lagi yang akan membuatku terkejut.
Rey berjalan keluar bagitu juga denganku. Aku membuka pintu belakang dan meletakkan make up di sana.
"Sudah, mau belanja apa lagi?" tanya Rey saat aku baru saja masuk ke dalam mobil.
Aku menggeleng dan menjawab, "Enggak Rey. Kita pulang aja."
Rey menjalankan mobilnya. Aku masih memandanginya di sini. Dari tempat dudukku.
"Kamu kenapa nggak pake supir, Rey?" tanyaku.
"Males, mungkin nanti kapan-kapan. Toh aku masih sehat buat nyetir sendiri, kan."
Aku mengangguk dan melihat ke depan.
"Apa kamu butuh aisten rumah tangga?" tanya Rey.
"Enggak usah. Aku biasa kok di rumah juga ngerjain semua walaupun gantian sama Ibu."
"Nanti pasti ada saatnya kamu butuh," tambahnya.
"Ya. Oh, ya, Rey. Mumpung kita di luar, sekalian makan malam, yuk," ajakku.
"Oke," jawabnya singkat.
Mobil melaju ke tempat makan. Mungkin, kali ini perutku yang akan menyesuaikan diri.
__ADS_1
Bersambung...