My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Mengambil Keputusan Bagian 2


__ADS_3

Sebelum aku memutuskan pergi ke sana, aku menyempatkan diri mendatangi kantor Rian. Sekedar ingin menelepon Bik Ningsih sebentar.


"Halo, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Tepat sekali Bi Ning yang menjawab telepon.


"Siapa, ya, ini?" tanya Bi Ning di seberang telepon.


"Ini saya, Bi. Alma."


"Bu Alma, ya Allah, Bu. Ibu di mana? Saya khawatir sekali." Ia terdengar terkejut dan gelisah.


"Saya baik-baik saja, Bi. Saya hanya ingin menenangkan diri."


"Pulang, Bu. Bapak lima hari sakit. Tiap malam manggil-manggil nama Ibu terus."


Aku menghela napas. Tak kusangka Rey begitu peduli. Tapi, rasa sakit ini menjadikan rasa simpatiku padanya perlahan memudar. Aku hanya sedikit terkejut mendengarnya, tapi tidak khawatir sedikit pun.


"Saya akan pulang bila waktunya tiba, Bi."


"Ada masalah apa, Bu. Tolong jangan begini. Kasian Bapak. Makanan yang saya masak tak pernah dimakan, Bu."


"Lama-lama nanti juga akan biasa, Bi. Sudah, ya. Saya sibuk."


Aku meletakkan gagang telepon tanpa mengucapkan salam. Aku tak ingin berlama-lama mendengar penuturan dari Bi Ningsih. Pastilah hati ini akan goyah kembali.


Setelah selesai menelepon Bi Ningsih, aku melangkah ke tempat tujuan yang sebenarnya. Aku ke kantor Rian, sebenarnya juga ingin memberitahunya. Tapi, ia sedang ada meeting. Aku belum bisa menemuinya.


**


Satu jam sudah aku mengurus segala sesuatu yang aku perlukan. Perut terasa lapar. Rumah makan sederhana khas Sumatera yang terlihat oleh mata ini, rupanya juga menggoda perut. Tanpa berpikir panjang, aku lantas masuk ke sana. Mengambil sendiri makanan dan duduk sembari menonton tivi. Tivi berlayar cukup besar dan berada tinggi itu terlihat oleh siapa pun yang makan di sini.


Sedang asik menyantap makanan, tiba-tiba saja mataku menangkap pemandangan kurang enak di sana. Apalagi kalau bukan mobil keluaran terbaru dengan Rey yang tengah diwawancarai.


Selera makan hilang setengahnya. Niat hati ingin aku lahap habis makanan ini, namun, hanya berkurang setengah saja. Bayangan hal baik dan buruk muncul dan mengantri di otakku. Sampai tiada terasa aku menitikkan air mata ini tanpa seizinku. Segera aku sudahi acara pagi ini. Aku ingin segera menemui Rey.


Dalam perjalanan menuju rumah Rey, ponselku berdering. Tertera nama Dona di sana.


"Halo, assalamualaikum. Ada apa, Don?"


"Waalaikumsalam. Apa tadi kamu ke kantor, Al?" tanya Dona di seberang telepon.


"Ya. Cuma sebentar. Kenapa?"


"Em, sebenarnya aku mau ngomong sama kamu. Aku kangen lho sama kamu, Al."


Aku tersenyum mendengar perkataan Dona yang sedikit manja ini.


"Maaf, ya, aku tadi gak sempat temui kamu. Aku ada urusan."

__ADS_1


"Apa bisa kita ketemu sebentar aja?" pinta Dona.


"Please, ya."


Sebagai manusia yang tak tegaan, rasanya kadang aku sering merasa tidak nyaman dengan keadaan begini.


"Oke. Kita ketemu di kantor aja, ya. Aku mau merasakan angin sepoi di bawah pohon halaman kantor."


"Aku tunggu, Al."


Karena hari masih beranjak siang dan Rey juga pasti masih di kantor, aku memutuskan untuk menemui sahabatku dulu. Aku sengaja mencari waktu sampai petang supaya Bi Ningsih tak mendengarkan kami berbincang nanti. Mungkin akan ada drama sebentar lagi.


**


"Nih." Dona memberiku jus jeruk dingin.


"Sejak kapan kamu suka asam?" tanya Dona.


"Ini nggak asam? Coba?" Aku memberikan minuman ini agar Dona turut mencobanya. Namun, ia memandangku aneh dengan alis yang hampir menyatu.


"Ya, sudah kalau gak mau."


"Al." Dona memandangku lekat.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


Perlahan aku melepaskan sedotan dari bibirku. Menatap langit yang cerah dan mencoba merasakan angin yang berembus pelan.


Dona mengalihkan pandangan ke bawah sembari tangannya mengaduk minuman dengan sedotan miliknya.


"Kemarin, aku temui suami kamu, Al."


Aku melihat Dona. Kini, kami saling menatap.


"Kenapa kamu temui dia?"


"Awalnya aku mau marahin dia. Karena udah buat kamu seperti ini. Dia bahkan gak hargai usaha kamu yang rela menjadi gendut supaya bisa hamil anak dia. Dan seenaknya dia buat kamu sakit hati."


Aku masih menatap mata sahabatku dan mendengarkan ceritanya.


"Kamu tahu, Al. Dia bahkan gak marah sedikitpun waktu aku tampar pipinya." Dona berhenti. Mungkin kini ia menunggu respon dariku.


"Kalau gak marah, tampar pipi yang lain harusnya." Aku sedikit bercanda sambil menyeruput kembali jus jeruk ini.


"Aku udah denger semua dari suami kamu, Al. Suami kamu mengira, kamu pergi dari rumah adalah bujukan dari Rian. Karena ia sama sekali tak tahu tuduhanmu selama ini."


Bibirku naik sebelah menanggapi Dona. Seperti tak menghargai sedikitpun sikap Rey. Bahkan sampai detik ini, rupanya lelaki berkulit putih itu tak menyadari bahwa perempuan yang bersamanya di kantor itulah penyebab kemarahanku. Dia memang tetaplah Rey. Tidak mau mengaku salah meski bukti sudah di tangan.


"Al. Apa kamu pernah berfikir masalah kamu dengan Rey ini hanyalah salah paham?"

__ADS_1


Apa iya demikian?


"Maksud kamu?"


"Reyhan mencari kamu ke sini bahkan dengan wajah yang pucat, Al."


"Oh, jadi karena itu kamu jadi kasihan?"


Dona diam sejenak. Ia menyadari aku mulai merasa emosi saat ini.


"Kamu bahkan gak tahu betapa Reyhan menyayangimu, Al." Ia berjalan masuk ke kantor meninggalkanku.


Aku melihatnya kembali lagi ke sini. Ternyata ia hanya membuang gelas plastik minumannya di tempat sampah yang ada di depan kantor. Dona kemudian berjalan kembali ke sini.


"Al. Aku tetap mendukungmu. Apapun yang akan kamu lakukan. Semoga kamu bisa bahagia, apapun keputusanmu."


Kini Dona berjalan ke kantor. Ia benar-benar masuk ke gedung itu dan tak kembali lagi.


Sebenarnya apa yang Dona ketahui tentang Rey? Kenapa ia berkata seakan-akan mengetahui sesuatu?


Aku pergi ke apartemen karena merasa bimbang. Ternyata ini tak semudah apa yang aku bayangkan. Kenapa di saat keputusan sudah aku ambil, akhirnya aku goyah kembali? Aku menyadari bahwa aku sesungguhnya adalah orang yang benar-benar tidak tega.


Ting tung.


Seseorang menekan tombol bel di depan pintu apartemen ini. Aku segera melihat siapa itu.


"Pak."


"Kamu belum menemuinya?"


Aku menggeleng pelan. "Belum."


"Lebih baik kamu kembali bersama Reyhan, Alma. Bicarakan baik-baik dengannya masalah kalian."


Aku menatap Rian.


"Entahlah. Aku tak tahu."


Aku mulai goyah.


"Tapi, saya tetap pada keputusan awal saya. Saya tidak akan membiarkan hati saya tersakiti lagi. Saya siap berpisah dengannya," ujarku sedikit tak yakin.


Rian tersenyum memandangku.


"Sesungguhnya aku sangat menantikan perkataanmu itu, Alma."


Rian menunggu kepastian dari keputusanku. Ia tak mau aku menjadi abu-abu dalam hal ini. Setelah Rian pergi, aku berjalan keluar dengan membawa serta kertas ini. Kertas pertanda berakhirnya rumah tanggaku dengan Rey.


Bersambung....

__ADS_1


Yuk kasih like dan vote. Maaf ya agak telat.. 😊😊😊


__ADS_2