
"Akhirnya aku pulang juga." Aku sampai di rumah dan menjatuhkan badan ke ranjang.
"Hei," kejut Rey.
Aku terkejut dan melihatnya berdiri di ambang pintu.
"Segera bersiap-siap kita akan pergi."
"Iya."
Aku bangkit dengan malas. Meraih handuk dan melepas pakaian. Membasahi seluruh badan di bawah kucuran air begitu menyegarkan. Wangi sabun dan shampo sejenak membuat perasaan lelah hilang seketika.
Setelah beberapa menit bergulat dengan air, aku pun keluar sambil mengusapkan handuk di rambutku.
"Ha...!" Aku terkejut saat mendapati Rey duduk di ranjangku.
Aku memegang handuk kencang-kencang sambil melihatnya tengah menatap layar ponsel.
"Kamu? Sejak kapan di situ, Rey?"
"Sejak tadi."
Aku masih melihatnya aneh dan masih sedikit terkejut.
"Kenapa? Buruan ganti baju."
Aku mengerutkan kening dan meliriknya.
"Buruan. Kenapa, malu? Orang udah pernah lihat, kok," katanya santai.
Memang benar kata Rey. Untuk apa aku merasa malu, tapi meski begitu entah kenapa aku merasa aneh. Anggap saja aku sedang menggoda dia.
Baju sudah terpakai dengan indah. Kini, rambut yang hampir sepinggang ini masih basah. Rey melihatku mengeringkan rambut dengan handuk.
"Kapan keringnya kalau hanya memakai handuk?" Ia berjalan dan mengambil pengering rambut di laci meja riasku dan menacapkannya.
Pundakku ditarik agar aku duduk di kursi tepat di depan cermin. Rey yang membantu mengeringkan rambutku. Diam-diam, aku menatapnya lewat pantulan cermin. Ia begitu serius mengarahkan benda berwarna hitam dan mengobrak-abrik rambutku.
Aku tersenyum melihatnya. Aku sedikit yakin dia telah berubah menjadi lebih perhatian padaku.
"Lakukan sendiri." Ia menaruh pengering rambut di atas meja rias dan pergi begitu saja.
Dia ini benar-benar. Baru saja aku berfikir dia berubah, tiba-tiba acuhnya datang lagi.
Aku mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambutku sendiri. Cukup kesal memang, tapi mau apa di kata.
**
Pipi sudah merona, begitu juga dengan bibirku. Setelah aku mengambil tas dan sepatu, aku pun keluar.
Rey duduk di kursi depan dengan wajah bosan. Ia menguap sambil mengangkat kedua lengannya.
"Huam. Semut pun hingga tertidur karena menunggumu," ucap Rey.
Bukankah wajar bila seorang wanita berdandan itu selalu lama. Aku merasa bukannya ku saja yang seperti ini.
Kami berjakan dan masuk ke dalam mobil Rey. Sejujurnya aku tak mengetahui hadiah apa yang akan diberikan Rey. Atau ia hanya mengerjaiku saja, aku pun tak tahu.
Dua puluh menit mobil berjalan. Di kegelapan malam ini, Rey hanya sibuk memperhatikan jalan tanpa berkata apa-apa. Di kegelapan inilah aku juga menyembunyikan wajah kusut ini.
__ADS_1
Mobil sampai di sebuah showroom. Aku ternganga saat turun dari mobil. Dari sini, masih tampak cahaya lampu terang yang tembus melalui jendela kaca yang nyaris memperlihatkan keadaan di dalamnya.
Rey berjalan masuk dan aku pun membuntutinya.
"Selamat malam, Pak," sapa dua orang wanita cantik menyambut kami.
Aku berjalan mengikuti Rey sambil memperhatikan kedua wanita itu. Mereka berpakaian sangat rapi dan memakai rok di atas lutut. Badan mereka juga proporsional dan mempunyai wajah yang manis.
Aku beralih pandangan menatap Rey dari belakang. Jadi, selama ini dia bekerja di kelilingi dengan wanita-wanita cantik dan seksi. Mungkin suatu kesalahan aku mau Rey ajak ke sini. Meski mobil-mobil mewah terpampang di sekelilingku, aku sama sekali tak merasa senang.
Rey berhenti di depan sebuah mobil. Di sana juga ada sekrang wanita. Kini, ia tampak lebih tua dari dua wanita yang menyambut kami di depan.
"Silakan Bapak." Ia menunjuk mobil berwarna hitam di sebelahnya.
"Kamu suka?" tanya Rey. Dia menatapku yang masih memikirkan kedua wanita tadi.
"Hah?"
"Apa kamu suka mobil ini?" tanya Rey sekali lagi.
Aku masih diam mencerna perkataan Rey.
"Jujur saja. Aku tak tau selera mobil yang kamu suka."
"Kamu, kamu mau kasih aku mobil, Rey?"
"Iya."
"Aaaaaaaa!" Aku menjerit kegirangan.
Sangkingkan bahagianya, aku sampai memeluk Rey dan menciumnya berulang kali. Wanita di depan kami sampai tersenyum melihatku.
"Kamu suka atau tidak?"
"Apa mau yang benar-benar sama?"
"Hem."
Wanita di hadapan kami berjalan masuk. Aku dan Rey mengikutinya.
"Rey, dia mau kemana?"
"Kamu bilang mau yang sama denganku?"
"Oh." Aku berjalan dengan menggandeng lengan Rey. Setengah sadar aku melakukan ini karena merasa sangat bahagia.
"Ini, dia."
Mobil yang sama dengan milik Rey tertata rapi di hadapan. Mulai dari yang berwarna hitam, biru, abu, abu tua, merah, putih, dan lain-lain. Tentu saja mata ini tersihir melihat pemandangan mobil yang masih mengkilap di depan.
"Haaa, aku suka semuanya, Rey."
Rey melipat kedua lengannya dan melihatku masih kegirangan.
"Pilih satu saja," sahutnya santai.
"Hem, yang mana, ya? Merah atau putih? Kalau putih gampang kotor, hem atau hitam saja? Supaya kembar dengan Rey, tapi harus rajin membersihkan kalau tidak akan mudah berdebu. Ha, warna coklat manis."
"Aaaaaku bingung, Rey."
__ADS_1
Rey melirik arloji dan menghela nafasnya. Perlahan, ia berjalan mendekat dan berbisik, "Pilih yang merah saja, ya, Sayang."
Kata terakhir yang terucap memuat bunga-bunga di hatiku bermekaran.
"Karyawanku sudah waktunya pulang," sambungnya.
Bunga-bunga di hatiku tiba-tiba melayu seketika. Ha, kasihan sekali.
"Iya, yang merah saja," kataku dengan nada yang lemas.
"Rey, apa bisa mobil ini dibawa pulang?"
"Belum, tunggu kamu punya SIM."
Bibir meruncing seketika. Harus terima karena aku juga belum bisa menyetir. Sangat disayangkan apabila mobil yang masih mulus itu hancur bila aku memaksakan diri.
**
"Rey."
"Hem."
"Apa semua karyawan secantik kedua wanita yang menyambut kita tadi?"
"Mungkin."
Jawaban Rey benar-benar tak meyakinkan. Sampai detik ini aku percaya, dia masih belum banyak berubah.
"Kenapa?" Rey melirikku di sela-sela menyetir.
Aku diam sesaat.
"Aku, aku ... "
"Laper." Aku tersenyum melihatnya. Di balik remang-remang cahaya lampu jalanan, wajah Rey tampak jelas sedang menanti jawabanku.
Aku tak mungkin bilang kalau sebenarnya aku khawatir, cemas, cemburu setiap saat. Tapi, aku masih meyakini kalau Rey adalah lelaki yang baik. Meski aku belum benar-benar begitu mengenalnya.
"Dewasalah."
"Hah? Apa Rey."
"Kamu tau kalau kita sudah menikah. Aku tak mungkin mengecewakan Papa."
Aku mengalihkan pandanganku dari Rey. Sekarang aku tertunduk lesu. Sampai saat ini, Rey masih memikirkan perasaan Papanya, dan bukan aku. Sama sekali bukan aku.
Sampai mobil berhenti, perkataan Rey masih terngiang-ngiang di kepala ini. Kecewa sekali aku mendengarnya hingga tak sadar beberapa tetes air sudah mengalir dari mataku.
"Ayo keluar, aku sudah lapar."
Rey melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Aku meraih bajunya, namun tak sampai. Yang menyangkut di tanganku hanya dasinya saja.
Rey berhenti dan duduk kembali. Ia menatapku yang tengah terisak.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Rey sambil melepas paksa tanganku dari dasinya.
"Apa sebegitu tak perdulinya kamu padaku, Rey?"
Rey masih terdiam menatapku.
__ADS_1
Bersambung.....
Like, vote, n rate ya. Nanti aku feedback. Jangan lupa tulis komentar.