My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Acara Hari H


__ADS_3

"Nisa," sapaku padanya. Ia baru saja keluar dari kamar Ibu sambil membenahi kerudungnya.


"Eh, Mbak Alma." Ia tersenyum lebar sekali.


"Kamu ngapain dari kamar Ibuku?" selidikku.


"Oh, Nisa baru selesai salat, Mbak. Tadi, gantian sama Bu Mira. Nisa juga tadi masih nungguin oven. Takut bolunya gosong," jelasnya. Tak lupa dengan senyum indah kembali terpancar dari wajah teduhnya.


"Em, aku mau tanya sama kamu?"


"Tanya apa, Mbak?"


"Apa yang ngintip dari balik pintu tadi itu kamu? Aku pikir itu Kakak kamu, tapi dia kan, udah pindah ke Surabaya," selidikku kembali. Sebenarnya aku tahu kalau itu dia. Karena aku melihatnya sendiri, tapi aku hanya ingin tahu kira-kira dia akan berkata jujur atau tidak padaku.


"Iya, Mbak. Tadi aku sembunyi. Kebetulan aku cuma pakai baju lengan 3/4 dan aku juga lagi nyapu. Jadi, aku tunggu Mbak Alma dan Mas Reyhan masuk ke rumah. Saya malu kalo Mbak Alma lihat." Wajahnya sedikit memerah. Entah kenapa aku sedikit aneh dengan jawabannya. Tapi, tak apa. Setidaknya ia tak berbohong.


Aku mengangguk seraya berkata, "Oke. Oh, ya. Denger-denger kamu baru lulus ... ? E, apa itu namanya? Kalau sekolah negeri sama dengan SMA, itu ya."


"Madrasah Aliyah," jawabnya.


"Iya."


"Iya, Mbak. Aku mau coba ikut tes beasiswa di Mesir. Siapa tahu aku bisa masuk. Umi pengen aku bisa seperti almarhum Kakek. Bisa jadi ulama yang terkenal."


Memang keluarga Nisa dikenal sebagai keluarga yang taat agama. Kakek dan Pamannya pun bisa menjadi ulama yang terkenal.


"Jadi, kamu gak mikir nikah?"


"Hah? Nikah? Ya, mikirlah, Mbak. Tapi, aku belum siap. Aku masih mau sekolah dan mencari wawasan seluas-luasnya. Ya, meskipun seumur hidup pasti akan kurang untuk mencari wawasan seluruh dunia."


Tiba-tiba aku terkesima. Gadis yang beranjak dewasa ini, sungguh panjang cara berfikirnya. Meski ia anak bungsu yang kebanyakan manja, tapi berbeda dengannya. Sangat salah bila aku sampai membenci gadis baik seperti Nisa.


"Maafin aku, ya, Nis."


"Buat apa, Mbak?"


Aku tersenyum. "Buat aku yang berfikir buruk."


"Alma." Suara Ibu memecah pembicaraan kami.


"Iya, Bu."


"Sini sebentar."

__ADS_1


Aku berjalan menuju kamar Ibu. Wanita yang mulai keriput ini tengah duduk di ranjang sambil memegang kain.


"Coba, ini." Ia ternyata memegang baju. Lebih tepatnya gamis.


"Alma ada, Bu gamis."


"Gak papa. Ibu sengaja mau kasih kamu ini. Bagus gak? Ini mahal, lho. 250 ribu."


Bagi Ibu harga segitu mahal. Tapi, bagi Alma segitu biasa aja.


"Bu. Gamis Alma harganya 500 ribu."


Wajah Ibu berubah.


"Kamu gak mau gamis ini? Kalau gak mau, ibu kasih ke Nisa aja."


"Jangan dong. Aku mau kok." Aku merebut gamis berwarna coklat muda dari tangan Ibu.


"Bagus, kok, Bu. Aku suka."


"Gak terasa, anak ibu sudah mau jadi ibu." Ibu mendekat padaku.


Matanya berbinar menunjukkan ekspresi yang sulit aku artikan. Yang tampak jelas di sana adalah kesedihan. Atau bisa saja kebahagiaan.


"Ibu kenapa?"


"Dulu ibu ingat waktu ibu hamil kamu. Rasanya bahagia sekali. Ayah kamu selalu kasih apa yang ibu mau. Sampai waktunya kamu lahir, rambut Ayah ibu jambak sekencang-kencangnya karena merasakan sakit."


"Apa melahirkan itu sesakit itu, Bu?" tanyaku penasaran.


"Sakit. Mulesnya aja sampai 10 jam. Belum lagi kalau jalan keluar dijahit karena robek, dijahit gak dibius. Hem, sakitnya luar biasa. Tangan Ayah aja sampai ibu gigit. Tapi, Ayah kamu diam aja dan gak berani teriak kesakitan." Ibu tertawa di sela-sela ceritanya.


Agak seram mendengar penuturan wanita yang sudah melahirkanku ini. Apa benar melahirkan seorang bayi ke dunia sampai semengerikan itu?


"Alma jadi takut, Bu."


"Gak usah takut, Sayang. Setelah perjuangan kita dengan rasa sakit, nanti kamu akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira saat melihat bayi kecilmu."


Ibu memegang tanganku. Ia berusaha menyemangatiku meskipun aku masih tahap membayangkan apa yang ibu ceritakan. Tapi, aku yakin dan percaya. Kodrat seorang wanita adalah melahirkan. Juga termasuk hamil dan menyusui.


**


Acara sore ini telah usai. Ibu-ibu pengajian sudah berhamburan keluar setelah menikmati hidangan yang sudah kami buat sejak kemarin. Dari wajah mereka, tampak kepuasan yang tertera. Rata-rata piring pun terlihat kosong.

__ADS_1


"Wah, makanannya enak. Apa Bu Mira deliv?" tanya Ibu berjilbab berwarna dusty.


"Enggak, Bu. Itu Alma yang buat. Bolu keju."


"Enak, ya. Alma pinter buat kue," pujinya lagi.


**


Senyumku masih terpancar saat mengingat pujian ibu-ibu pengajian. Meski ada di antara mereka yang menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja, tapi aku cukup puas.


"Biar Nisa aja, Mbak," kata Nisa saat melihatku membawa piring kosong.


Nisa juga mengambil piring itu dariku dan membawanya ke dapur. Mungkin aku telah salah menilai Nisa. Sempat menyesal karena sudah berfikir dan berkata sedikit kasar pada gadis itu.


Setelah membereskan tikar dan menyapu lantai, aku melangkah ke kamar. Di dalam sudah ada suami yang menunggu. Tentu saja ia sibuk dengan benda pintarnya itu. Setelah aku mendekat, rupanya ia tengah berselancar di sosial media.


"Ayah lagi apa?"


"Gak papa. Cuma lihat-lihat grup."


Aku mengerutkan kening. "Kangen seseorang?"


Dia melihatku. "Maksud kamu?"


Aku melipat kedua lengan di depan dada. Sedangkan suamiku ini tersenyum tipis.


"Gak ada yang aku rindu sekarang. Aku cuma rindu, ingin cepat-cepat melihat anak yang masih lima bulan si alam kandungan ini." Ia mengelus lembut perutku. Tentu saja ia mengalihkan pembicaraan, tapi, selama itu bisa membuatku bahagia tentu saja tak masalah sama sekali.


Malam harinya setelah salat isya, kami berbincang bersama di ruang keluarga. Meski hanya beralaskan kasur lantai berwarna merah muda, kebersamaan ini benar-benar aku nikmati. Terutama Rey. Kebiasaan ayah yang tak ia ketahui, sekarang menjadi tahu. Termasuk lupa menutup pintu toilet saat selesai memasukinya.


Tertawa selama beberapa menit. Lalu, kembali mengobrol membuat hati ini merasa bahagia. Apalagi obrolan malam ini bisa membuat keluargaku dan Rey semakin dekat.


"Nak Reyhan. Kenapa Papa cuma sebentar? Apa dia sibuk?"


"Iya, Bu. Papa sedikit sibuk. Karna saya gak ada di kantor, jadi Papa semua yang ngurusin."


"Oh," jawab Ibu sambil mengangguk.


"Maaf, ya, Bu. Lain kali saya akan minta Papa mampir ke sini lagi."


"Gak papa, Nak. Ibu cuma tanya aja. Urusan kantor itu, kan, penting. Bukan cuma urusan uang. Tapi, juga urusan orang banyak. Urusan perut orang banyak. Mana bisa kalau ditinggal gitu aja."


Mata ini melihat ke arah ibu berada. Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulutnya, benar-benar berarti buatku. Selama ini aku hanya menilai, pekerjaan Rey hanya menyangkut dengan uangnya saja. Tanpa berpikir pegawai yang juga menggantungkan hidupnya di perusahaan.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf, maaf, maaf, baru up. Yuk bantu like dan vote. Author butuh semangat sayang. 😊😊


__ADS_2