
Di tengah kebahagiaan kami ternyata memang tak luput dari masalah. Dua bulan menjelang persalinan, kami mendapat masalah di kantor.
Sore itu suamiku pulang dengan wajah yang muram. Ia langsung berjalan menuju kamar kerja dan membanting tas. Saat aku menyadari suasana hatinya tengah kacau, aku lantas menghampirinya.
"Hem, adek gak disapa," kataku sambil berjalan menuju suamiku. Ia tengah berbaring di ranjang.
Napas panjang keluar dari mulut Rey.
"Ada masalah di kantor." Ia masih pada tempat semula tanpa bergerak sedikitpun.
Aku duduk perlahan di ranjang sambil mengelus perut. Tangan ini lantas berpindah mengelus rambutnya. Aku berharap lelakiku ini mau bercerita denganku. Siapa tahu saja, dengan menunjukkan perhatianku, ia mau mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Pagi tadi gudang terbakar. Lima mobil yang baru datang, hangus."
"Sabar, ya."
Suamiku memiringkan badan dan menghadap ke arahku. Kini tangan kanannya mengelus lembut di mana anaknya berada.
"Rekan kerja dari Jepang batal datang. Semua karyawan bahkan sudah mempersiapkan kedatangannya dari tiga hari yang lalu. Semua kecewa. Termasuk ayah."
"Sabar." Hanya kata itu saja yang bisa aku ucapkan saat ini.
"Mau mandi?" tanyaku. Ia hanya mengangguk perlahan.
Saat aku ingin beranjak, ia masih mencegahku dan merapatkan pelukannya. Kepalanya kini semakin dekat dengan perutku. Ciuman hangat mendarat di sana.
"Kuatin ayah, Dek."
"Iya, Ayah. Sabar, ya. Oh, ya. Bi Ning besok bawa teman ke sini. Katanya dia bisa nginap."
"Hem. Iya."
Aku membaringkan kembali badan suami tampanku ini dan membuka kemejanya. Menyuruhnya mandi karena hari semakin sore.
**
Gerak-gerik suamiku masih terlihat malas saat kami makan malam. Sayur dan lauk hanya ia mainkan di atas piring. Pandangannya kosong seperti tong. Setelah aku perhatikan, bahkan hanya beberapa sendok saja yang masuk ke dalam mulutnya.
"Masih galau?" tanyaku saat memasuki kamar.
"Enggak," jawabnya singkat.
"Udah, pasti nanti ada solusinya, kok."
__ADS_1
**
Pagi ini aku bangun dengan malas. Bukan apa-apa, rasanya beranjak bangun membawa badan ini sudah cukup membuatku lelah. Ternyata menjadi ibu hamil bukan perkara yang mudah.
"Ayah, bangun. Udah mau subuh."
Ia hanya menggeliat sedikit dengan mata yang masih terpejam. Aku tak berhenti sampai di sini. Dengan semangat aku goyangkan badannya hingga ia benar-benar tersadar.
"Ayah ngantuk. Jam satu baru bisa tidur."
"Yah, justru saat sedang ada masalah inilah kita bisa mencurahkan isi hati dengan Yang Maha Kuasa."
Aku beranjak setelah memastikan ia sudah membuka mata. Aku berharap ia bangun dan bisa salat ke mushola. Semoga saja ia mengerti bahwa bukan hanya sedang merasa senang atau beruntung saja kita mendekat, bahkan saat sedih atau jatuh kita juga tetap harus mendekat kepada Yang Kuasa.
Saat aku keluar dari toilet, Rey sudah tak ada di ranjang. Kopiah dan sajada yang biasa ia pakai tak ada. Senyum merekah saat memulai salat.
**
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aku berjalan ke depan saat ada suara seseorang mengucapkan salam.
"Bi. Ayo masuk," ajakku.
Seorang perempuan ada di belakang Bi Ningsih. Ia lumayan cantik dengan dandanan khas Jawa. Kebaya lengan setengah dengan bawahan rok batik di bawah lutut. Aku bahkan sempat berpikir bahwa ia adalah penjual jamu gendong.
"Bu," sahut Bi Ningsih cepat. Ia juga menyenggol lengan perempuan itu.
"Iya, Bu. Maaf. E, nama saya Poniyem. Panggil saja iyem, Bu." Suara medok jawanya membuat bibir ini tersenyum saat mendengar ia berbicara.
"Iya. Oh, ya. Apa kamu muslim?"
"Enggeh, Bu." (Iya, Bu).
"Tolong pakai jilbab, ya. Kamu mau, kan?"
"Enggeh, Bu."
Aku menyuruh Bi Ningsih dan Iyem masuk ke dalam dan meletakkan semua barang-barangnya ke kamar yang sudah disiapkan. Sepertinya Iyem adalah orang yang baik, tapi aku belum tahu dia benar-benar orang yang baik atau tidak. Mudah-mudahan saja, ia orang yang rajin dan pekerja keras.
"Wah, ini foto Bu Alma dan suaminya, Bi?" Aku mendengar samar-samar ia bertanya kepada Bi Ningsih saat berjalan melewati lorong menuju kamarnya. Rupanya ia melihat foto pernikahanku yang tertempel di dinding.
"Iya, itu Pak Reyhan namanya."
__ADS_1
"Genteng, yo, Bi. Aduh, aku, ya, mau e punya suami ganteng kaya suamine Bu Alma." Iyem berjalan pelan sambil melihat foto itu.
Senyum yang masih ia tampakkan dan pikiran yang fokus, bahkan ia tak menyadari bahwa aku kini sudah berada tepat di belakangnya.
"Ehem." Aku berdehem. Hal ini tentu saja membuat bahu Iyem naik dan turun dengan cepat karena terkejut.
"Bu. Maap, saya lihat fotonya Ibu sama Bapak. Bapak ganteng, yo, Bu," katanya. Dengan cepat Bi Ningsih menyenggol bahu Iyem. Wajahnya sedikit marah saat ini.
"Ngapa, to, Bi. Wong saya ngomong jujur sama Bu Alma. Emangnya saya ndak boleh muji majikan sendiri?"
"Gak papa, Bi. Bukan cuma Iyem yang bilang Pak Reyhan itu ganteng. Bahkan penjual jamu langganan saya juga bilang gitu." Sekarang aku bisa menilai Iyem. Ia ceplas-ceplos dan jujur. Aku sama sekali tak keberatan bila ia mengagumi suamiku asalkan tak ada hal buruk yang akan ia timbulkan kepada keluargaku.
"Kamu ke kamar saya, ya, Yem. Saya akan pilihkan beberapa daster yang masih layak, tapi sudah tak muat untuk badan saya. Dan beberapa jilbab yang bisa kamu pakai sehari-hari. Ingat, setiap hari kamu harus bangun jam empat pagi dan memakai jilbab saat bertemu dengan suami saya. Mengerti?"
"Enggeh, Bu. Saya ngerti. Oh, ya, gaji saya berapa, ya, Bu?"
Bi Ningsih memegang kepalanya seperti orang yang sedang pusing. Mungkin itu ia lakukan setelah mendengar pertanyaan dari Iyem.
"Delapan ratus ribu. Nanti kalau anak saya sudah lahir, kamu akan jadi pengasuhnya. Gaji kamu saya naikkan dua kali lipat. Itu tidak termasuk biaya makan, biaya membeli sabun, biaya sakit, dan THR."
"Wah, akeh, Bi." (Wah, banyak, Bi). Wajahnya sedikit sumringah mendengar penjelasanku.
"Oh, ya. Nanti juga ada bonus bila kamu rajin bekerja."
"Enggeh, Bu. Saya paham. Matur suwun, Bu, terima kasih. Saya sudah boleh kerja di sini. Saya ini anak yatim piatu. Tapi, sudah sampai tua begini ndak ada yang mau adopsi saya."
"Umur kamu berapa?"
"Dua puluh tahun, Bu."
"Oke. Saya harap kamu tidak mengecewakan saya."
"Iya, Bu. Saya pasti akan kerja dengan giat dan tidak akan mengecewakan Bu Alma."
"In syallah."
Iyem hanya tersenyum. Ia lantas membereskan beberapa tas dan langsung masuk ke kamarku. Beberapa daster yang masih beberapa bulan lalu dibeli sudah tergeletak di lantai. Kurang lebih ada enam baju yang akan aku berikan kepada Iyem. Ada juga beberapa jilbab sejak aku masih gadis yang sudah tak kupakai.
"Ini. Baju yang akan kamu pakai. Cuma enam. Nanti saya akan kasih kamu uang dan kamu akan belanja sendiri daster seperti ini di pasar. Mengerti?"
"Enggeh, Bu," jawabnya singkat.
Iyem lantas pergi ke kamarnya. Aku juga langsung menyuruhnya memakai baju dan jilbab itu agar saat Rey pulang, ia tak melihat lekukan tubuh yang cukup aduhai milik gadis berlogat Jawa itu.
__ADS_1
Bersambung....
Like dan vote yaa..😊😊😊