
"Bu, Ibu mau langsung pulang?" tanyaku ketika Ibu dan aku berada di depan pintu depan.
"Iya. Kamu sama Reyhan kan, mau bekerja. Buat apa Ibu sendirian di sini?"
"Kan Ibu sama Ayah. Ada Bik Ning juga. Kasian Ibu capek di jalan."
"Gak papa, Ma. Ini demi kalian."
Aku menatap mata Ibu. Ada kelegaan yang tersirat di sana. Aku cukup senang walau hanya sebentar Ibu di sini. Setidaknya ada yang membimbing kami dan memberi kami saran untuk lebih memperhatikan pasangan. Mudah-mudahan saja, Rey bisa mengerti.
"Ya, sudah Ibu pulang, ya."
Ibu berjalan keluar setelah mengucapkan salam. Kali ini aku meminta Pak Joni mengantarkan Ibu dan Ayah. Sementara aku akan diantar oleh Rey.
**
Kotak hadiah tak lupa aku bawa. Meski sedikit gemetar karena takut ketahuan, aku bisa mengontrol diri ini.
Aku sekarang di sini. Berdua di dalam mobil bersama Rey. Rasa canggung melanda. Tiba-tiba saja, terasa gerah di sini. Rey ternyata merasakan apa yang aku rasakan. Ia menaikkan volume AC mobil.
Aku menahan tawa dengan jari-jariku berada di depan mulut. Sampai mobil sampai di kantor pun, kami hanya diam. Aku pun menjadi ragu untuk turun dari mobil karena Rey tak kunjung bicara.
"Rey."
"Alma."
Kami bicara bersamaan. Senyum tak bisa kami sembunyikan. Kini aku dan Rey pun saling menatap satu sama lain. Pipi ini pasti memerah karena aku merasakan hangat di sana.
"Maaf, Rey," ucapku lirih.
"Hem. Aku juga." Kami tersenyum lagi.
Kami juga tak tau kenapa keadaan menjadi sangat canggung seperti ini.
"Apa kamu akan lembur lagi?" tanya Rey.
"Aku belum tau. Kenapa?"
"Aku ada surprise kecil buat kamu."
Sumpah demi apa. Seneng banget denger Rey bilang ini.
"Nanti aku kasih tau, ya. Biasanya suka dadakan juga."
"Oke."
"Aku masuk dulu, ya, Rey." Rey tersenyum.
"Keluar," sahutnya.
Aku tersipu. "Iya maksud aku keluar dari mobil dan masuk ke kantor."
"Hem. Hati-hati, ya."
Aku mengangguk pelan. Meraih tangannya dengan ragu. Kami masih cukup canggung hingga kini. Tapi, Rey tiba-tiba saja mendaratkan kecupan manis di keningku. Pandangan dan senyum itu rasanya sudah cukup lama tak aku lihat.
__ADS_1
Aku keluar dari dalam mobil dengan senyum bahagia.
**
"Wah, ada aura-aura kebahagiaan, nih," tebak Dona.
"Enggak kok. Biasa saja," balasku.
Baru saja aku meletakkan tas, Dona sudah datang menghampiriku. Perbincangan kami terputus sesaat ketika pria lajang lewat. Ia cuek-cuek cool. Wangi parfum menyapu wajah ini seketika. Aku hanya menunduk tat kala ia melirikku sambil membenahi jasnya.
Tak dapat dipungkiri, sebagai wanita siapa yang tam terpesona oleh ketampanan parasnya itu. Meski kulitnya tak seputih Rey, ia cukup keren sebagai lelaki berstatus duda.
"Ha, wanginya," kata Dona.
"Inget anak suami, ya."
"Jangan diingetin kenapa." Dia manyun sepanjang kereta menuju Surabaya.
**
Aku memberanikan diri masuk ke ruangan Rian. Tentu dengan jantung yang dentumannya naik seketika. Sambil mengambil kotak hadiah, aku berjalan pelan dan masuk.
"Permisi, Pak."
"Iya, masuk."
Aku terus berjalan meski dengan menundukkan kepala. Memegang erat kotak hadiah ini, takut bila tiba-tiba terjatuh karena aku terlalu gerogi.
"Maaf, saya mengembalikan ini, Pak." Aku meletakkan kotak itu di atas meja dan masih menunduk. Tak berani mantapnya langsung.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."
"Saya kurang cepat."
"Ya." Tak sengaja aku melihatnya lantas.
menunduk kembali.
"Reyhan Mahendra. Lelaki yang sangat beruntung bisa mendapatkan wanita yang baik sepertimu. Meski bisa saja kamu berkhianat, tapi kamu tetap bisa menjaga kehormatanmu. Apa kau tak tergoda sedikitpun denganku?"
Aku menelan ludah. Menggigit bibir dan melirik kesana kemari. Bingung mau berkata apa.
Dia tertawa kecil.
"Saya harap, kamu tetap bekerja di sini tanpa menghiraukan saya."
Aku menaikkan pandangan dan menatapnya dari tempatku berdiri.
"Anda salah apabila menyukai wanita yang mirip dengan mendiang istri anda. Saya turut berduka atas meninggalnya istri Anda, tapi, sudah waktunya Anda melihat wanita sebagai diri mereka sendiri. Bukalah diri Anda kepada siapa saja. Mulai menata hati dan menyiapkan lembaran baru. Masa depan Anda masih panjang."
Lelaki dihadapanku terdiam. Kini, ia yang mengalihkan pandangannya. Mungkin ia tak menduga bahwa aku akan berkata demikian.
"Maafkan saya, tak seharusnya saya berkata seperti itu kepada Anda."
"Saya semakin menyukaimu, Alma."
__ADS_1
Aku terkejut. Sangat terkejut sampai aku memelototi Rian. Kini aku yang tak menduga ia akan berkata itu. Apa ia sedang mempermainkanku, aku juga tak mengetahuinya.
"Saya permisi, Pak." Aku berbalik badan.
"Saya selalu ada untukkmu, Alma. Bahu saya selalu tersedia untukmu."
Aku tersentak hingga aku berhenti melangkahkan kaki ini. Sungguh, lelaki ini tak pantang menyerah. Aku jadi tak nyaman berada di sini. Bagaimana mungkin aku akan lupa dengan segala kata demi kata yang keluar dari bibirnya sedangkan aku selalu melihatnya? Hal yang cukup mustahil.
Aku menutup pintu dan masih menyandarkan diri di pintu ini. Berusaha menstabilkan dentuman di dalam dada.
Baru kali ini aku bertemu dengan lelaki yang begitu blak-blakan dengan perasaannya. Ia bahkan merasa tak gengsi sedikitpun.
"Alma." Panggilan Dona mengejutkanku.
"Apa?" Aku berjalan ke arahnya.
"Kamu ngapain berdiri di situ?"
"Gak kenapa-kenapa."
Semakin tak enak hati. Aku jadi ragu sendiri, akankah bisa aku terus menahan diri ini agar tak tertarik dengan Rian. Manusia itu kan, bisa khilaf juga.
Ya Allah, ampuni hmbamu.
**
Beruntunglah karena tamu bulanan sudah selesai berkunjung. Karena aku merasa tak tenang, aku memutuskan untuk pergi ke mushola kantor dan melaksanakan salat dua rakaat. Karena masih cukup pagi, aku meniatkan salat duha.
Aku mengulanginya sebanyak tiga kali hingga hati ini benar-benar merasa tenang. Untuk sejenak, lelaki berparas tampan itu memikat hatiku. Andai aku lajang, aku tak mungkin menolak dia.
**
Aku meregangkan otot lengan dan bahu yang sedikit terasa kaku. Selama seharian pikiran terbagi antara tugas kantor, Rey, dan Rian, benar-benar menguras emosi dan tenaga. Aku masih beruntung karena Rey sudah mulai bisa dijinakkan. Semoga saja, ia tak lagi menumpahkan air mataku yang berharga ini.
"Da, Alma."
"Da," balasku.
"Kenapa kamu yang jemput? Mana Pak Joni?"
"Dia di rumah."
Akhirnya, setelah seharian aku menanti kejutan apa yang akan Rey berikan kepadaku, datang juga. Suara bahagia tergambar jelas saat aku menelponnya karena aku tak lembur hari ini.
"Nih." Ia memberiku kain hitam panjang.
"Untuk apa, Rey?"
"Tutup mata kamu."
Hem, Rey sekarang, kaya ada manis-manisnya.
"Oke." Aku menutup mataku sendiri dengan kain yang diberikan Rey. Aku menghargai usahanya untuk menyenangkan hatiku. Semoga saja, ia bersungguh-sungguh memberiku kejutan. Bukannya prank atau semacamnya.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk bantu like da vote. Ajak juga teman lain baca novel ini yaa.. 😊😊😊