
Lengkungan bibir Rey terpancar saat aku menoleh melihatnya. Walau hanya sekilas dan hanya sebentar, sudah cukup membuatku seperti terbang di angan-angan.
"Assalamamualaikum." Aku meraih tangan Rey dan mencium punggung tangannya. Aku sematkan senyum terindahku untuk suami tercinta saat turun dari mobil.
Aku berjalan masuk saat mobil itu tak terlihat dari pandangan. Aku masih memegangi pipi kananku yang membekas bibir Rey di sini. Rasanya seperti mimpi saja. Dia melakukan itu dengan sengaja. Sepertinya bunga di hatiku ini sedang bermekaran.
Aku membuka pintu bening di depanku dan melangkah masuk.
"Ada yang bisa dibantu, Kak?" tanya pelayan butik.
"Mau beli baju pesta, Mbak," jawabku.
"Oh, iya. Mari," ajaknya. Pelayan di butik itu menyuruhku duduk sementara ia memilihkan beberapa potong baju untukku.
"Biar saya pilih sendiri, Mbak," pintaku.
"Nggak usah, Kak. Biar saya saja. Kakak istrinya Kak Reyhan, kan?" tanya pelayan itu.
"Iya."
Apa-apaan ini, kok aku jadi kaya ratu gini disuruh duduk dia yang ambil bajunya. Nggak puaslah kalo nggak pilih sendiri. Hem.
"Ini, kami ada baju cople, cuma ada lima pasang di Indonesia, Kak. Kakak mau?" tawarnya.
"Mana?" tanyaku.
Dia berjalan entah kemana dan mengambil sepasang baju berwarna cream. Berjalan kembali ke arahku dengan santai.
"Ini, Kak." Dia meletakkan baju pria di sebelahku dan membuka baju wanita untuk memperlihatkannya kepadaku.
Sumpah demi apa, ni baju sangat biasa banget. Kenapa sih Rey suruh belanja di sini. Ampuun.
Aku melirik bandrol di leher baju itu. Aku terkejut bukan kepalang saat melihat deretan nol sebanyak tujuh digit di belakang angka satu. Aku sampai melihatnya dari dekat untuk memastikan mataku ini masih normal.
Sepuluh juta. Seharga sepeda motor Ayah.
Raut wajahku benar-benar berubah.
Ah, uang segitu cuma untuk satu potong baju. Hiks. Jiwa ngiritku kok tiba-tiba meronta, ya.
"Sebentar, ya, Mbak. Aku telepon Rey dulu." Aku tersenyum kaku sambil berjalan ke depan toko.
Aku segera menelepon Rey. Pakai video supaya bisa melihat raut wajah yang mungkin menyepelekan uang sepuluh juta.
"Halo, assalamualaikum, Rey."
"Waalaikumsalam, kenapa?" Wajahnya masih datar.
"Rey, aku pulang aja, ya. Nggak jadi, deh beli bajunya," kataku sambil menyatukan alis.
__ADS_1
"Emang ada apa?" Masih datar.
"Mahal, Rey," jawabku lirih. Takut saja, kan tiba-tiba pegawai butik mendengar bicaraku.
"Berapa emang?" tanyanya.
"Sepuluh juta bajuku aja."
"Ya udah nggak papa, udah ya. Aku lagi kerja." Dia menutup telepon seenaknya. Aku hanya melongo.
Sangat benar kalau uang segitu mungkin tak berarti di mata Rey. Oh, aku mulai bisa memahaminya sekarang. Aku menelan ludah dan berjalan masuk ke dalam butik itu.
Dengan sangat terpaksa aku menerima baju itu. Pegawai butik segera melipatnya dan memasukkannya ke dalam kotak dan menyerahkannya kepadaku. Kini saatnya aku membayar.
"Totalnya, 16 juta, Mbak," kata kasir butik.
Aku mengambil ATM dengan lemas dan cemas. Lalu menyerahkannya kepada kasir. Saat kasir mau mengambil ATM dari cengraman tanganku aku masih memeganginya erat. Raut wajah kasir yang tadinya tersenyum jadi sedikit kesal karena tingkahku. Sampai di berdehem. "Ehem."
Akhirnya terlepas. Kartu itu sudah tergesek di mesin kecil di meja kasir.
16 juta, hilang. Oh.
Aku keluar dengan raut wajah yang benar-benar sulit dijelaskan dengan kata-kata. Desah nafas menyesal berulang kali keluar dari mulutku.
Harusnya aku nggak mau pas Rey suruh aku ke butik. Ya Allah, 16 juta aku udah bisa bawa pulang motor bebek. Haah.
Sesaat, aku mengingat kejadian tadi pagi di mobil, Rey. Masih malu rasanya diri ini. Berharap dapat ciuman darinya.
Haa, tak apa. Dia sudah mendaratkan bibirnya di pipiku. Itu saja sudah cukup membuat hati ini ditumbuhi bunga.
Tiinn... Klakson mobil mengejutkanku. Aku mengerutkan kening melihat sopir membuka kaca depan.
"Jangan melamun, di sini, Mbak," katanya.
Aku berjalan dan membuka pintu mobil.
"Lama bener, Mas?" tanyaku.
"Nanti aku nggak jadi langganan, lo, sama, Mas. Kalo telat terus," tambahku.
"Maaf, ya, Mbak. Tadi bannya kempes. Jadi, dilihat dulu bocor atau enggak. Ternyata enggak, jadi cuma tambah angin, aja," katanya membela diri.
Bolehlah ngelesnya.
"Mbaknya kok cemberut. Nanti cantiknya ilang, lo," godanya.
"Jangan goda-godain sembarangan, ya. Ditampol ama yang punya tau rasa."
"Hehe, iya, Mbak, maaf." Dia tertawa kecil sesaat.
__ADS_1
Aku mengambil ponsel dan memotret belanjaan ini, lalu memberikannya kepada Rey.
Aplikasi hijau sudah tercentang dua biru, tanda bahwa fotoku yang baru saja kukirim sudah dilihat Rey.
[Komen, dong, Rey] Aku mengirim chat supaya Rey memberi respon atas fotoku.
[Aku lagi kerja] balasnya.
Wajah cemberut kembali menyelimuti wajahku. Aku memandang sejenak belanjaan yang ada di sebelahku dan membuang nafas kembali.
"Mbak, kenapa? Kok kayaknya sedih?" tanya supir.
Ni orang kepo amat, sih. Ampun.
Aku menyipitkan mata melihatnya dari belakang.
"Bukan urusan, Mas, ya," jawabku jutek.
"Wah, Mbaknya lagi PMS, ya. Maaf, Mbak sekali lagi, maaf."
"Mas, buat apa ada polisi kalau, Mas bisa minta maaf?"
Supir itu cuma diam seribu bahasa.
"Jangan ngomongin polisi, Mbak. Serem," elaknya.
Aku menyandarkan punggung ke sofa mobil. Memandang luar jendela mobil yang mulai memasuki komplek rumahku.
Ting... Satu pesan hijau muncul di ponselku.
[Udah aku transfer uang ke rekening kamu. Aku tambahin nominalnya. Jangan cembetut lagi, ya] Emot tersenyum di akhir kalimat.
Mau bagaimana lagi, toh uang itu sudah hilang. Tak ada gunanya juga disesali. Toh uang itu tidak akan kembali.
[Ya] Dengan emot bibir dan mata datar.
Tak berselang lama, mobil akhirnya sampai di depan rumah. Setelah membayar, aku turun dengan membawa belanjaan yang super mahal itu.
Aku membuka pintu pagar dan menutupnya lagi. Aku lantas duduk di kursi teras. Mengipas-ngipaskan tangan ke arah leher. Cuaca menjelang siang ini cukup membuat keringat mengembun di dahiku.
Aku melangkah ke arah pintu dan memutar kunci. Lantas membuka pintunya dengan malas. Pintu kembali ku tutup dan melangkah ke kamar untuk mencoba baju yang baru dibeli.
Ini baju super mahal. Berasa makai motor bebek di badan.
Ukurannya pas. Tidak terlalu melekat di badan juga tidak terlalu kedodoran. Mungkin begini rasanya menjadi kalangan atas. Pernah, sih, lihat artis manja-manja nentengin tas super mahal. Bahkan ada yang harganya bisa buat beli mobil. Itu sama sekali bukan gayaku sebenarnya.
Ting... Satu pesan datang lagi.
[Aku pulang cepat] Aku tersenyum lebar saat membaca pesan Rey. Entahlah, hari ini suasana hatiku berubah-ubah dengan cepat. Seperti cuaca yang bisa saja berubah dan sama sekali tak bisa ditebak.
__ADS_1