
Mobil terdengar berhenti. Karena mata ini tertutup kain, aku jadi merasa mengantuk sepanjang perjalanan.Tapi, setelah Rey memegang tanganku dan menyuruhku keluar, aku kembali terjaga. Dengan hati-hati ia menuntunku berjalan. Tak terdengar apa-apa di sini. Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang tak jauh dari tempatku berada.
Aku terus berjalan mengikuti arahan Rey. Aku benar-benar tak tahu tengah berada di mana dan akan Rey tunjukkan apa. Setelah beberapa saat berjalan, tibalah akhirnya Rey menyuruhku duduk. Terasa sebuah jemari tengah membuka ikatan kain hitam yang masih menutupi mata ini.
Perlahan aku membuka mata. Pandangan agak buram sedikit. Dan di saat aku benar-benar membuka mata dengan lebar, aku melihat meja-meja kosong. Kami seperti sedang berada di sebuah resto. Tetapi, semua meja kosong dan hanya ada aku dan Rey di sini.
"Kita di mana, Rey?"
"Kita sekarang ada di resto hotel Star," sahut Rey.
Aku masih bingung dengan keadaan ini. Di tengah kebingunganku, beberapa palayan membawa makanan dan minuman. Meja yang cukup besar ini, kini telah dipenuhi makanan dan minuman yang enak. Aku sampai tak berhenti menelan ludah karena memang sudah lapar sejak sepulang dari kantor tadi.
"Ayo, makan."
"Kamu suruh aku makan semua ini, Rey? Berat badan aku akan jadi berapa nanti."
Rey tersenyum.
"Kalau kamu gendut, gak ada lagi yang suka sama kamu. Jadi, aku gak perlu khawatir."
Rencana busuk.
"Gak gitu juga, Rey."
Karena makanan sudah terlanjur dipesan dan datang segini banyak, apa boleh buat. Aku dan Rey terpaksa menghabiskannya.
Dulu, aku pernah ingat saat Ayah dan Ibu tidak punya uang, aku sampai harus memecahkan celengan ayamku demi untuk membeli beras. Keadaan ekonomi keluarga kami pada saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, memang cukup sulit. Apalagi pada waktu aku masih berumur empat tahun. Karena pada waktu itu, negara ini tengah dilanda krisis moneter. Krisis yang berdampak langsung pada kehidupan kami. Bahkan karena terkena dampak yang cukup pelik ini, keluarga kami batu bisa kembali bangkit empat tahun setelahnya.
Dari kejadian itulah, aku yang baru berumur empat tahun, dipaksa mengerti akan arti krisis. Segala macam rupa kebutuhan rumah tangga harus dihemat. Bila aku mengingat kejadian itu, rasa kasihan pada Ayah dan Ibu karena harus bergantian mencari nafkah demi keluarga.
Bersyukur karena setelah dewasa ini, aku mendapat jodoh lelaki yang mapan. Soal makan saja, tak terlalu diambil pusing.
Di tengah lamunanku mengenang masa kecil, tiba-tiba saja ada beberapa orang lelaki membawa alat musik dan memainkannya untuk kami. Musik ini begitu indah meski lirik lagunya berbahasa Inggris.
**
"Rey."
"Hem."
"Aku gak mau pakai lingerie ini," ujarku sambil menenteng pakaian super mini ini dihadapannya.
"Kenapa? Itu aku pilihin yang ukurannya paling besar."
"Aku udah kaya ikan buntal begini kamu suruh pakai itu. Lagian ngapain sih, ngabisin uang buat nginap di hotel satu kota sama rumah kita. Itu namanya pemborosan, Rey." Aku menyilangkan lengan di depan dada.
"Bukannya kamu yang terus ngajakin aku bulan madu?"
"Udah telat! Udah setengah tahun baru bulan madu. Lagian ini pasti idenya Papa atau Ibu, ya."
"Bukan. Ini murni ideku. Kalau kanu gak mau, kita bisa pulang sekarang."
"Jangan. Udah tanggung kan kita di sini, kamu malah ngajak pulang."
Aku mendekat kepada Rey yang duduk bersandar di pangkal ranjang. Ia masih sibuk dengan ponselnya. Terkadang, aku sangat ingin tahu isi ponsel itu. Tapi, aku harus memendam rasa ingin tahuku karena Rey menguncinya dengan foto wajahnya.
__ADS_1
"Rey."
"Hem."
"Aku mau tau hubungan kamu sama Vina."
"Kamu mulai."
"Apa aku salah?"
"Enggak."
"Badan aku semakin ngembang Rey. Kek adonan donat. Kata Vina aku tak enak dipandang, ap iya, Rey?"
"Biasa aja," sahutnya cepat.
"Jelasin yang panjang dong."
"Apa iya Vina bilang gitu?" Rey menatapku.
"Iya. Aku ketemu dia dua kali di kantorku."
"Untuk apa dia ke sana?"
"Mana aku tau."
"Aku semakin risih saja dengannya."
"Risih kenapa?" Aku semakin dekat kepada Rey sambil menatapnya dalam.
"Dia itu tahu kalau karyawan di kantor mayoritas muslim, tapi cara dia berpakaian sama sekali tak sopan."
"Tergoda? Siapa yang tak tergoda melihat tumbuhnya yang sengaja diekspose? Dengan belahan dada rendah dan belahan paha tinggi."
Aku memalingkan muka.
"Jangan-jangan kamu macam-macam dengannya?"
"Mana mungkin. Gini-gini, aku tau dosa. Lagian, ada yang boleh diapain geratis dan dapat pahala juga. Ngapain pilih neraka kalau bisa bebas masuk syurga."
Rey meletakkan ponsel itu dan memelukku. Adegan selanjutnya tentu saja di skip.
**
Bau yang begitu wangi membangunkanku. Samar-samar aku melihat Rey sudah duduk menghadap jendela sambil menyeruput secangkir kopi. Ia juga memakai handuk kimono berwarna putih. Bau wangi khas tubuh Rey masih tercium bebarengan dengan wangi-wangi lainnya.
Aku tersenyum di balik selimut.
"Jam berapa?" tanyaku.
"Jam setengah tujuh," jawabnya santai.
"Hah, aku bisa telat ke kantor, Rey. Gawat." Aku segera bangkit dan berlari kesana kemari mencari pakaian tadi malam. Sedangkan Rey masih duduk dengan santainya.
"Rey. Ayo kita pulang."
__ADS_1
"Aku masih mau di sini."
"Rey." Aku berusaha menggeret lengannya. Namun, apa daya, tenaga ini terlalu lemah bila dibandingkan dengannya.
"Alma. Coba kamu lihat dulu ponsel kamu."
"Rey bukan waktunya."
Dengan cepat Rey meletakkan cangkir di atas meja, lalu mengambil ponselnya. Dia mengarahkan layar di depan wajahku.
"Hai apa?"
"Minggu. Hehe." Nyengir kuda. Malunya diri ini.
Aku lantas duduk di kursi yang ada dihadapan suamiku. Memakan beberapa roti yang ada si atas meja dan meminum secangkir teh.
"Aku laper, Rey."
"Belum ada jam tujuh, udah laper?"
"Aku kan, baru lembur. Wajar aja aku laper. Hem."
"Yang kerja bukannya aku?" Rey melirik tajam. Setajam silet.
"Ya, ya, aku ngaku kalah deh."
"Payah."
"Payah kenapa?" Aku mengrenyitkan dahi.
"Apa gak ada yang bisa kamu lakuin selain pasrah?"
"Bukannya berhubungan itu cuma itu-itu aja, ya?"
Rey tersenyum. Ia tampak sedikit menahan tawa. Dia seperti tengah menertawakan.
"Rey."
"Apa?" Dengan setengah tertawa.
Pipi ini menghangat. Pasti berubah menjadi merah sekarang. Sejujurnya, aku amat bodoh bila membicarakan hal mengenai berhubungan. Aku hanya berfikir, bukannya wanita itu hanya menerima? Tapi, mendengar pernyataanku, Rey malah tertawa.
"Rey, jangan-jangan kamu?" Aku mendekatkan wajahku dan menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk.
"Iya. Apa kamu tak pernah menonton film dewasa?"
"Itu dosa, Rey."
"Bukan intinya, hanya pengetahuan tentang bagaimana cara-cara yang aman dalam berhubungan."
"Oh, emang ada, ya, Rey?"
"Ada. Mau praktek sekrang?" tanyanya penuh semangat.
Mulut ini menganga dengan pertanyaan Rey. Bisa-bisanya ia bertanya demikian saat masih pagi begini.
__ADS_1
Bersambung...
Bantu like dan vote ya teman-teman. 😊😊