My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Cemburu?


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya datang. Acara empat bulanan yang akan diselenggarakan di rumah Ibu, tinggal dua hari lagi. Ibu sengaja memilih hari minggu karena menginginkan menantu tampannya bisa turut membantu.


"Kita berangkat besok pagi aja, ya. Biar bisa bantuin Ibu masak dan beres-beres rumah," kataku pada Rey malam ini.


"Iya. Bawa buku dan laptopku, ya. Biar aku bisa kerja di sana."


"Masih kerja?"


Ia tersenyum. "Ngertiin, ya."


"Oke."


Aku lantas keluar kamar dan mengambil dua buku yang masih baru serta laptop di kamar kerja.


"Buku ini belum kamu baca, kan?"


"Iya, itu aja."


Sementara aku menyiapkan barang yang akan kami bawa, Rey asik bersandar di punggung ranjang sambil bermain dengan ponselnya.


Satu jam sudah aku bergulat dengan pakaian. Mulai dari daster, pakaian dalam, piyama, sampai gamis yang akan aku pakai di acara sudah siap. Begitu juga dengan pakaian suamiku.


Tak sengaja mata ini melirik arah ranjang. Suami tercintaku sudah terlelap.


"Gawat." Aku menepuk jidat.


"Kalau dia tidur duluan, alamat aku gak bisa tidur."


Ternyata benar apa yang aku ucapkan beberapa saat tadi. Mata ini sangat sulit dipejamkan.


"Rey. Rey. Eh, Ayah. Bangun." Aku menggoyang-goyangkan bahunya.


"Em." Ia menggeliat dan membuka matanya perlahan.


"Bangun."


"Kenapa?"


"Aku gak bisa tidur."


Rey lantas memiringkan badannya dan memelukku. Ia lantas membuatku tidur membelakanginya dengan tangannya mengelus perutku.


"Bobok, ya, Dek. Kasian Bunda," ucapnya lirih.


Tak lama kemudian, ia tak terdengar bicara. Tangannya pun sudah tak mengelus perutku lagi. Rupanya hal ini akhirnya bisa membuatku terlelap.


**


"Bu, berapa hari di sana?" tanya Pak Joni.


"Tiga hari, Pak. Bapak pulang aja, ya. Kasian kalau sendirian di sini."


Wajahnya tampak sedikit sedih.


"Baik, Bu. Tapi, saya tidak dirumahkan, kan, Bu?"


Aku tersenyum. "Enggak, Pak. Setelah saya pulang, kan, Pak Joni bisa kerja di sini lagi anterin suami saya kerja."


"Iya, Bu."


Barang-barang sudah selesai masuk bagasi. Beberapa barang pesanan Ibu juga sudah siap berangkat. Setelah berpamitan dengan Pak Joni dan Bi Ningsih, kami pun berangkat.

__ADS_1


"Panas, ya, Yah?"


"Enggak, kok."


Pendingin mobil memang sengaja tak dihidupkan olehnya.


"Hidupin aja AC yang di depan kamu itu. Kan, aku gak kerasa."


"Enggak usah, deh."


"Pelan banget jalannya. Ini kan, masih sepi."


"Gak papa. Pelan-pelan asal selamat."


Ya sudahlah. Daripada kesal melihat spidometer mobil tak naik, lebih baik aku buka ponsel dan nonton drama Asia.


**


"Bunda, bangun."


Ha, aku ketiduran. Perlahan aku membuka mata dan mengingat apa yang terjadi. Tidur ini benar-benar seperti di rumah saja.


"Udah sampai, ya, huaaem." Sambil menguap.


"Udah."


"Alma," sapa Ibu yang baru saja keluar dari rumah.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaukimsalam. Kenapa gak masuk?" tanya Ibu sambil menurunkan beberapa barang dari bagasi.


Kami bertiga masuk. Rey dan Ibu membawa barang sedangkan aku hanya menenteng tas kecil di bahu. Saat berjalan masuk ke rumah, samar-samar aku melihat seorang perempuan tengah mengintip di balik pintu yang setengah terbuka.


Di rumah yang berwarna hijau itu aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri. Siapa perempuan itu?


"Pesanan Ibu sudah dibawa?" tanya Ibu saat kami berada di dalam rumah.


"Ada tadi. Oh, ya. Udah bersih, Bu rumahnya?"


"Iya, tadi anaknya Bu Siti bantuin Ibu beres-beres rumah. Lumayan, anaknya rajin."


"Siapa, Bu?" tanyaku sambil duduk di kursi makan.


"Itu si Nisa. Dia baru pulang dari pesantren minggu kemarin. Katanya satu minggu lagi mau ikut ujian beasiswa ke Mesir. Hebat, ya, anaknya Ibu Siti. Ibu ikut bangga."


Napas panjang keluar dari mulutku. Rasanya mendengar Ibu memuji anak tetangganya, tiba-tiba aku merasa tak rela. Padahal biasanya saat aku masih sekolah, Ibu sering membeda-bedakan aku dengan Kakak perempuan Nisa. Namanya Riska. Ia tak kalah pintar. Ia juga anak pesantren terkenal di tanah Jawa. Terdengar kabar bahwa ia sudah menikah dengan seorang Syeikh dari Mekkah.


Aku baru menyadari sesuatu. Ternyata perempuan yang mengintip dari balik pintu tadi adalah Nisa.


**


"Assalamualaikum." Terdengar suara perempuan mengucap salam dari pintu belakang.


"Waalaikumsalam."


Aku dan Ibu menjawab salam sambil melihat siapa yang datang. Ternyata perempuan cantik yang baru saja kami bicarakan.


"Nisa. Udah dateng?" tanya Ibu basa-basi.


"Iya, Bu Mira. Tadi selesai buatin makan siang Umi sama Abi terus langsung ke sini." Senyum ramahnya tak tertinggal dari wajah manis itu.

__ADS_1


"Selamat, ya, Mbak Alma udah hamil."


"Hem, ya, makasih."


"Mau buat kue apa, Bu Mira?"


"Bolu aja gimana buat besok. Soalnya Ibu ngundang Ibu-ibu pengajian satu RW."


"Nisa bisa buat bolu?"


"Insya allah bisa, Bu."


Ibu lantas pergi ke ruang tengah. Tak lama kemudian ia kembali lagi dan membawa tepung, gula, telur, dan bahan lainnya untuk membuat kue bolu.


Mereka berdua asik menyiapkan bahan sambil berbincang-bincang. Aku yang tengah duduk di kursi yang tak jauh dari mereka, seakan hanya sebuah patung. Mereka tertawa dan bercanda berdua saja.


"Ternyata ada dua nyamuk yang asik bercanda," ujarku setelah menengguk air putih.


"Dan ada obat nyamuk yang hanya duduk melihat mereka," tambahku.


"Alma. Kamu ngomong apa? Sini, bantuin olesin mentega di loyang."


"Bu. Kalau cuma buat bolu kenapa harus panggil dia, sih?" Aku melipat kedua tangan di depan dada.


"Kamu ngomong apa, sih. Nisa ini udah mau ke sini bantuin ibu. Kamu kok gitu ngomongnya?"


Entah kenapa aku merasa kesal. Buat apa sih perempuan ini ngintipin kami? Apa dia sempat terpana oleh ketampanan suamiku?


Aku bangkit dan berjalan ke toilet. Hamil ini membuatku cukup sering ke toilet.


"Nak Reyhan. Mau makan siang? Biar ibu siapkan," kata Ibu. Suaranya yang cukup keras terdengar hingga dalam toilet.


"Nanti aja, Bu. Saya tunggu Alma."


Aku buru-buru keluar dan menghampiri suamiku.


"Yah. Kenapa? Mau makan?" tanyaku dengan wajah yang sangat manis.


"Nanti aja, kita makam sama-sama."


"Oh, iya, deh." Aku melirik ke arah perempuan yang tengah memegang mikser.


Aku sempat melihat saat aku baru keluar dari toilet, ia mencuri pandangan ke pada Rey. Entah hanya melihat biasa atau ada sebuah kekaguman. Aku berharap perempuan ini tak menyimpan rasa untuk suamiku.


Aku dan Rey lantas berjalan ke kamar. Sambil mendorong tubuhnya agar cepat sampai di ruang pribadi kami.


"Jangan keluar, ya," pintaku.


"Kenapa?"


"Nanti banyak yang naksir kamu."


"B-b-hahahahaha." Aku menutup mulutnya dengan cepat. Tentu saja, Rey menyingkirkan tanganku dari mulutnya.


"Kenapa ketawa?"


"Kamu cemburu?"


Bersambung...


Jangan lupa like dan vote ya. 😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2