My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Diantar Bos


__ADS_3

Aku membereskan meja dan bergegas pulang. Kantor sudah cukup sepi. Aku merasa kacau hari ini. Pekerjaanku membuat kepala ini sedikit sakit. Aku berjalan lemas hingga keluar dari lift. Mata ini sayup karena lelah. Entah apa yang akan terjadi di rumah nanti.


Sial sekali, karena aku lupa memesan taksi online langgananku. Jadilah aku berdiri di pinggir jalan menunggu taksi atau bus lewat. Aku berjalan pelan sambil menunggu taksi.


Tiinn... Bahuku terangkat cepat setelah mendengar klaskon mobil di belakangku.


Aku berbalik dan melihat mobil berwarna putih berhenti. Supir keluar dari sana.


"Ayo, saya antar," ajak Rian.


Aku sebetulnya tak menyangka bila itu dia, karena jarak kami keluar dari kantor cukup lama, tapi, hari mulai gelap. Haruskahbaku menolak ajakannya?


Dengan ragu-ragu aku berjalan mendekat.


"Nggak, Pak, terima kasih." Senyum terpaksa.


Desah nafas letih keluar seiring langkah kaki berjalan kembali. Sesekali mata melirik ke jalanan yang cukup ramai, tapi sialnya lagi, tak ada taksi yang lewat.


"Hei, halte bus masih jauh." Rian ternyata mengikutiku yang belum jauh dari sempat semula.


Ia melihat sekeliling dan benar saja, masih belum ada taksi yang lewat. Aku mengigit bibir bawahku. Mungkin kali ini saja aku mau menerima tawarannya.


Aku menarik nafas. "Baiklah."


Wajah sumringah diantara pergantian siang dan malam terlihat jelas olehku. Senyum itu terukir sembari berjalan menuju mobil. Aku mengikutinya sambil menunduk. Perasaan ini bagaikan gado-gado yang bercampur aduk.


Aku membuka pintu belakang dan masuk setelah Rian juga masuk ke dalam mobil. Ia menyadari aku duduk di kursi belakang. Bukan apa-apa, walau bagaimanapun aku sudah bersuami. Meski ia tak ada di sini, sebisa mungkin aku menjaga kehormatanku.


Lelaki di depan menghidupkan mesin mobil dan menjalankaknnya. Ia tak bertanya mengapa aku duduk di sini. Sebenarnya tak enak hati juga karena menganggapnya seperti supir taksi, tapi, salah dia juga yang sedikit memaksaku agar mau ikut dengnnya.


"Rumahmu?"


"Masih jauh," selaku.


Setengah kesal juga saat ingat kejadian di kantor.


"Apa jalannya benar?"


"Iya."


Mobil melaju terus dengan kecepatan sedang. Waktu tempuh 20 menit terasa jauh dengan menaiki mobil ini. Tak seperti bersama Rey.


"Stop."


Mobil menepi di bahu jalan.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?"


"Rumahku sudah tak begitu jauh. Sampai di dini saja, Pak." Aku membuka pintu dan berjalan pulang.


Hanya tinggal beberapa rumah lagi sampai di rumahku. Entah kenapa aku begitu takut bila Rey melihataku bersama Rian. Meski ia mungkin merasa cemburu, tapi kali ini bila ia memergokiku, pastilah aku yang bersalah.


Ting... Tung...


Aku menekan bel rumah. Hari telah gelap. Mungkin saja, Rey sudah pulang.


Kreekk...


Rey membuka pintu lantas berjalan ke arah kamarnya. Aku juga masuk ke arah kamar dan ingin sekali membersihkan badan yang lengket ini.


Ada buket bunga mawar di ruang tivi. Mata ini terbuka lebar saat aku menyadari ada kehadiran sosok merah nan wangi di atas vas bunga. Aku mendekat dan mencium wanginya. Aroma ini membuat moodboster membaik seketika.


"Rey, ini buat aku? Makasih, ya, Rey," ucapku sumringah.


"Bukan. Itu dari kolegaku di kantor. Ucapan selamat untuk peluncuran mobil terbaru."


Down langsung mendengar perkataannya. Apalagi saat aku menyadari ada secarik kertas bertuliskan congratulation. Sial sekali rasanya mengapa tak kusadari sedari tadi. Tubuh ini kembali lemas karena perkataannya.


Kenapa Rey tak mau berbohong untuk menyenangkan hatiku?


Aku muncul ke permukaan dengan perasaan semakin tak karuan. Gelisah tak kunjung hilang. Harus kepada siapa aku mencurahkan kegalauan ini?


Setelah mengenakan piyama, aku beranjak ke kamar Rey. Pintu terbuka sedikit membuatku bisa mengintipnya dari luar. Dia masih sibuk dengan leptopnya.


Aku mengelus perut yang mulai bergetar. Kaki melangkah ke arah dapur dan mencari makanan. Hanya ada mie instan. Aku tak sempat memasak, tapi, Rey tak bertanya makan malam. Mungkin ia sudah makan di luar.


Lima belas menit berlalu, dan mie instan sudah berpindah ke dalam perutku. Ingin sekali aku masuk ke sana. Kamar Rey. Tapi, aku terlalu takut untuk berbuat itu. Jadilah aku pergi ke kamar dan mengutak-atik benda pipih teman setiaku.


Sekali-kali menonton drama favorit menghibur diri. Drama kali ini bergenre komedi, tapi ketika berganti dengan adegan romantis, bayanganku berganti dengan Rey. Membayangkan andai saja Rey bisa bersikap seperti actor di drama itu. Romantis, perhatian, tak terduga.


Haa, alangkah beruntungnya andai Rey semanis dia. Mungkin hanya mimpi saja.


Kantuk pun melanda. Sesekali kepala sudah jatuh ke kanan atau ke kiri. Namun, masih bisa kutahan. Pintu kamar belum tertutup sempurna, tapi rasa malas melanda diri.


**


Nit... Nit... Nit...


Alarm berbunyi di pagi ini. Aku segera bangkit dan beranjak untuk mematikan jam kecil di atas laci.


Sedikit heran karena semalam aku tidur dengan ponsel di tangan.

__ADS_1


HP-ku di atas laci? Kenapa aku tidur rapi banget? Padahal tadi malam aku tidur serampangan. Apa Rey masuk dan...


Aku melihat pintu yang tertutup rapat.


Rey masuk ke sini.


Aku loncat kegirangan karena menyadari hal ini. Rasa senang bukan main. Sontak saja aku berlari keluar ke arah kamar Rey.


"Rey, buka, Rey. Buka pintunya." Aku menggedor pintu jam lima pagi.


Lama pintu tak dibuka. Jelas saja, jam segini Rey pasti belum bangun. Aku urungkan niat dan berjalan ke dapur.


"Ada apa?" tanya Rey saat beberapa langkah dari pintu kamarnya.


Rambut yang sedikit berantakan serta mata yang belum terbuka sempurna ia membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya.


"Rey." Aku mencubit kedua pipinya.


"Apa kamu tadi malam masuk kamarku, hem?"


"Enggak," jawabnya singkat.


"Kamu bohong, ya, Rey."


Dia melepas cubitanku dan berkata, "Enggak!"


Brakkk...


Pintu ditutup sedikit keras hingga mataku berkedip karena suaranya.


"Rey, jangan berbohong, ya. Nanti digigit kambing ompong, lo."


Aku melangkah ke dapur dengan riang. Aku tau, Rey pasti berbohong. Raut wajah datarnya memang tak bisa ditebak, tapi, aku benar-benar yakin kalau dia tengah berbohong.


Aku memasak dengan senyum yang tak hilang sedikitpun. Bayangan aneh kadang muncul begitu saja. Aku sudah menikah, wajar saja kalau pikiran ini membayangkan hal-hal yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan menikah pada umumnya.


Apalagi tat kala aku mengingat adegan romantis di drama yang tiap malam aku tonton, rasanya tiba-tiba aku menghayal menjadi si wanita.


"Waaa...!!!" Aku berteriak sekeras mungkin.


"Kenapa?" Rey setengah berlari ke arah dapur di mana aku berada.


Bersambung...


Like, vote, n rate ya. Nanti aku kembalikan.

__ADS_1


__ADS_2