My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Siap Menghadapi Kenyataan


__ADS_3

Saat ini, ingin rasanya aku membenamkan wajah ini pada bantal dan menjerit keras.


Rey berjalan dan berhenti tepat di depan benda merah ini. Benda yang membuatku sangat malu saat ini. Ia berjongkok untuk memastikan benda apakah itu.


Dia tampak menahan tawa setelah paham benda misterius yang kini tergeletak si lantai. Sedangkan aku hanya menundukkan kepala.


"Pipi kamu warnanya sama dengan isi kotak ini," katanya dengan beberapa jari di depan bibir. Terlihat sekali ia menahan tawa.


Bagaimana keadaanku sekarang? Tentu saja ingin berteriak sambil menangis. Menahan malu ini di depan Rey.


**


Dua jam lamanya aku mengurung diri di kamar. Duduk menyudut di pangkal ranjang dengan menekuk lututku. Entah kenapa aku merasa seperti ini.


"Hei," sapa Rey setelah ia membuka pintu. Hanya kepalanya yang tampak olehku.


"Aku lapar."


Napas panjang keluar begitu saja. Dengan langkah berat aku turun dari ranjang. Setelah melirik jam dinding, ternyata memang sudah waktunya makan siang. Dengan lengan seperti diseret, aku berjalan lemas. Seperti kehabisan tenaga.


Rey makan sendirian di dapur. Sementara aku membawa beberapa roti dan sekotak susu ke kamar. Ternyata Rey memperhatikanku.


"Kamu kenapa?"


"Aku malu. Kamu pasti berpikir bahwa aku sengaja memesan itu kepada Ibu," jawabku setelah berhenti melangkah.


"Kenapa malu?"


Aku menoleh ke arah Rey perlahan sambil menggigit bibir bawahku.


"Pakaian dalam yang belum kamu pakai saja malu. Bagaimana dengan yang masih kamu pakai?"


Aku mengerutkan alis. Berpikir sejenak perkataan Rey. Aku melihat diri ini. Membayangkan kata sensitif yang ia ucapkan. Lalu, aku mengerti apa maksudnya.


"Tapi pemberian Ibu itu terlalu berlebihan Rey. Bahkan aku baru pertama kali melihatnya."Aku menunduk.


"Kalau tak nyaman, tidak usah dipakai." Ia melanjutkan makannya.


Benar. Aku memang tak nyaman. Jangankan berniat memakainya, melihatnya saja sudah membuatku merinding disko.


"Tak apakah, Rey?"

__ADS_1


"Menurutmu? Inti sebenarnya itu ada padamu. Bukan pakaian apa yang kamu pakai. Mau kamu pakai gaun seindah apapun, akan dilepas juga."


Benar. Benar sekali apa kata Rey. Mungkin benda merah itu hanya pelengkap saja. Tapi, Rey tak suka berbelit-belit.


Aku jadi serba salah sekarang. Karena keraguan inilah, aku berbalik badan dan duduk di depan Rey. Membuka bungkus roti dan meminum susu di sana.


"Tidak jadi ke kamar?"


Aku menggeleng.


"Nggak. Aku udah lapar."


"Rey."


"Hem."


"Kata dokter. Minggu depan aku akan disuntik hormon. Kalau aku gendut, bagaimana Rey?"


Rey menatap mataku. Kami berhenti melakukan aktifitas makan sesaat dan saling menatap.


"Itu yang Ibumu mau. Cepat mendapatkan cucu, kan."


Aku kembali mengunyah roti. Kini aku membuang pandanganku dari Rey. Sebenarnya ia tak menjawab pertanyaanku. Entah aku siap atau tidak dengan perubahan badan yang akan aku alami nanti.


"Hem. Asalkan kamu tak memintaku untuk menggendongmu lagi."


Aku sadar diri. Memang dokter mengatakan, aku tak cukup subur. Diingat aku adalah anak tunggal. Ibu juga cukup lama saat menunggu kehamilannya. Alhasil, ia hanya memiliki satu anak saja walau tak pernah memakai alat kontrasepsi.


Aku menggigit roti dengan keraguan. Hal ini tak dapat aku tolak. Di sisi lain, Ibu sungguh menginginkan aku agar cepat hamil. Tapi, menuju kehamilan itu, aku harus merelakan tubuh ini mengembang lagi.


Sejenak aku membayangkan Rey berjalan dengan tampan. Sementara aku dengan badan mengembang berjalan di sebelahnya. Benar-benar tak pantas menurutku.


Setelah beberapa saat, karena pikiran-pikiran yang terus saja menguasai otakku, aku tak mampu menopang kepala ini. Kepala yang memikirkan segala hal tentang Rey, kini tergeletak di sebelah kotak susu yang baru saja aku habiskan isinya. Sementara suamiku, susah berlalu entah kemana. Setelah masalah pakaian dalam mencolok itu, kini otak kecil ini dipenuhi dengan suntik hormon yang akan aku jalani.


Dokter berkata, berat badanku akan naik sekitar 10 sampai 15 kilo. Bisa kubayangkan mengembangnya badan ini. Pasti nantinya, aku dan Rey akan seperti angka 10. Rey adalah angka satu, sementara aku adalah angka nol.


Huaaaaaa!


Aku hanya bisa menjerit dalam hati.


**

__ADS_1


"Bagimana, Bu Alma. Sudah siap?"


"Siap, Bu Dokter," kataku dengan tangan sedikit bergetar.


Akhirnya, hari yang sama sekali tak kunanti datang. Setelah ini, entah apa yang akan terjadi di dalam hidupku.


Hormon sudah masuk dengan indah ke dalam tubuhku. Mudah-mudahan saja, dengan apa yang aku jalani sekarang akan mendapat kebaikan di kamudian hari. Dan Rey lebih bisa menghargaiku. Karena walau bagaimanapun, yang aku jalani sekarang adalah demi bisa mengandung buah hatinya.


"Kamu, pakai supir saja, ya," ucap Rey sambil menyetir.


"Kalau kamu hamil, akan susah dan bahaya kalau kamu memaksa membawa mobil."


Aku menatap Rey. Di sela-sela kesedihanku, Rey memberi perhatian. Aku cukup senang dengan pengalihan perhatiannya. Namun, aku kembali murung karena harus menghadapi kenyataan.


Sebagian wanita di dunia sangat takut apabila badan mereka mengambang tak terkendali, termasuk aku. Bukan diriku sebenarnya yang membuat diri ini tak merasa percaya diri bila berat badanku naik karena suntik hormon. Tetapi, lebih kepada Rey. Ia adalah Bos di perusahaannya. Dikelilingi banyak wanita cantik. Terlebih sosok wanita cantik, tapi menyebalkan yang masih betah merongrong hubungan kami. Vina.


Aku masih terdiam sejak kami pulang kediaman dokter kandungan. Rey menghampiriku di kamar. Aku tengah duduk diam di ujung ranjang. Aku melihat Rey yang masuk dengan mata yang berkaca-kaca. Rey melihatku dengan pandangan iba. Hal itu tampak jelas di matanya.


Dia duduk berjongkok dan memegang tanganku. Menatap dalam mata ini.


"Kamu tak mau melanjutkan program ini?" tanya Rey. Ia menyingkirkan rambut yang menjuntai menutupi pipi.


"Mau, Rey. Aku hanya tak mau menjadi gemuk dan jelek." Aku terisak.


Rey memelukku. Aku menangis dengan dagu yang menempel tepat di bahunya.


"Kamu jalani saja dengan baik. Ingatlah ini adalah perjuanganmu untuk mendapatkan buah hati. Aku tak terlalu memikirkan akan seperti apa kamu nanti. Cantik atau jelek kamu tetaplah Alma. Yang konyol dan selalu bahagia."


Aku mengangguk pelan. Entah apa maksud perkataan Rey. Dia hanya ingin menghiburku atau ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Di luar dari itu, aku merasa senang. Aku juga menghargai usahanya untuk menghiburku.


"Makasih, Rey," sahutku lirih.


"Sekarang tidur. Besok kita akan bekerja. Oh, ya. Aku sudah merekrut asisten rumah tangga. Besok ia akan ke sini untuk membantu kamu. Mobil dan sopirnya juga akan ke sini."


"Aku mau yang abu tua, Rey."


"Iya, aku tau. Sudah aku pilihkan yang abu tua."


Bukan apa-apa. Warna merah akan sama dengan mobil milik Vina. Padahal warna merah terlihat lebih seksi. Tapi, tak apa. Aku tak ingin ia menyebutku sengaja menyamainya.


Bersambung....

__ADS_1


Bantu vote ya readers dan author..


__ADS_2