
Aku berjalan santai menyusuri lobi kantor suamiku. Tersenyum lega sembari membenahi penampilan. Aku juga menyempatkan membuka cermin yang ada di dalam kotak bedak saat berada di dalam lift. Sekedar melihat apakah mata ini sedikit membengkak atau tidak.
Begitu lift terbuka, aku cukup terkejut dengan pemandangan seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Vina. Wanita yang telah sengaja memporak-porandakan rumah tangga aku dan Rey.
Ia tampak berjalan santai dengan likukan badan proporsionalnya. Rambutnya yang ikal di bawah, ikut bergoyang mengiringi tubuhnya.
"Selamat siang," sapanya. Entah kenapa dia ikut berjalan beriringan bersamaku.
"Siang juga." Aku menghadapnya sebentar sambil meringis kuda. Meringis terpaksa lebih tepatnya.
"Rey." Aku berhasil masuk terlebih dulu ke ruangannya. Vina tampak sedikit kesal karena aku langsung melingkarkan lengan di leher suamiku.
Matanya melirik ke sana kemari dengan bibir yang sedikit maju. Tak lupa alis hitam kelam yang juga nyaris menyatu menandakan bahwa ia semakin kesal.
"Bisa kita makan siang, sekarang?" tanyaku kepada Rey. Aku juga tidak berhenti melirik wanita yang masih berdiri dengan sebuah map di tangannya.
"Bisa." Rey membelai pipiku. Dia seakan sengaja melakukan ini dihadapan Vina. Tanpa janjian terlebih dulu, aku seakan mengerti maksudnya.
"Oh, ya. Vina. Letakkan saja berkas itu di meja. Nanti saya akan memeriksanya. Saya mau makan siang dulu."
"Em, Vina. Apa kamu mau makan siang bersama dengan kami?" tanyaku basa-basi.
Tak ada niat sedikit pun untuk mengajak dia sebenarnya. Tapi, dilihat dari raut wajah yang mulai gusar itu, aku berani bertaruh kalau dia tidak akan mau.
"Tidak, terima kasih. Saya sudah ada janji dengan teman."
"Oh, siapa? Pacar? Atau calon suami yang tempo hari kamu ceritakan itu?"
Vina mulai kesulitan mencari jawaban. Ia agak gelisah saat ini.
"Bu-bukan."
"Sayang. Dia sudah punya pacar, lho. Calon suami lebih tepatnya," kataku kepada Rey.
"Oh, ya. Baguslah. Kapan kamu akan menikah?"
Vina semakin gelisah. Dalan hati ini tentu saja aku merasa puas. Apa calon suami yang ia maksud adalah Rey? Sayang, kamu hanya bermimpi.
"Ti-tidak lama lagi. Baik, saya permisi, Pak, Bu." Ia lantas berjalan cepat meninggalkan kami di dalam.
Tentu saja aku menahan tawa setelah melihat tingkahnya. Sedikit kasihan, pasti ada. Tapi, diingat begitu tajam lidah itu mengataiku selama ini, apa yang kami lakukan ini tidak ada apa-apanya.
Rey mendepanku dengan satu lengannya. Ia berbisik, "Ayo, panggil aku sayang lagi."
"Gak mau." Aku melepaskan diri darinya. Tapi, Rey menarikku kembali hingga kami saling berpelukan.
"Sayang. Aku lapar." Kegiatan ini terpaksa kami sudahi. Rasanya tak etis apabila kegiatan ini dilakukan di kantor.
Setelah membenahi pakaian, kami keluar kantor dan berjalan menuju sebuah rumah makan.
"Kenapa mau makan di sini?" tanya Rey.
"Apa kamu gak mau makan di sini?"
__ADS_1
"Mau aja. Aku cuma tanya."
"Sebenarnya aku pernah lihat kamu masuk ke sini sama Vina. Jadi, entah kenapa, hari ini aku mau makan di sini. Gak papa, ya."
Rey tersenyum. "Iya. Tapi, apa kamu kenyang makan makanan Perancis?"
"Nanti aku di rumah makan lagi."
Setelah memesan beberapa makanan, kami pun makan bersama. Aku menghabiskan makanan dihadapanku terlebih dahulu.
**
"Aku ada meeting sebentar. Kamu mau kan, tunggu sebentar di sini," jelas Rey sembari mengambil berkas.
Sementara aku duduk di kursi hitam milik Rey. Memain-mainkannya sebentar.
"Iya. Nanti kalau aku bosan, aku pulang, ya."
"Hem."
Rey keluar dari ruangannya. Sementara aku masih sibuk memainkan kursi hitam, empuk,dan tinggi ini.
Kreeekk.
Suara pintu dibuka.
"Kamu kembali lagi, Rey?" tanyaku. Namun, aku terkejut saat mendapati bukan Rey yang membuka pintu. Melainkan Vina.
Kenapa dia sopan? Sekarang kan, gak ada Rey.
"Mau apa kamu ke sini? Rey sedang rapat."
"Saya tahu."
Aku menatapnya dan berhenti memainkan kursi.
"Lantas kenapa kamu ke sini? Oh, berkas yang kamu bawa tadi, ini. Sudah Rey lihat. Dia juga sudah tanda tangan." Aku meleparkan berkas agar lebih dekat dari jangkauannya.
"Sudah bertambah berapa x?"
Aku menciutkan kening.
Maksud dia apa?
"Maksud kamu?"
Vina tersenyum. Senyumnya itu tiba-tiba membuatku tak enak. Biasanya, setelah ia tersenyum seperti itu, dia akan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar.
"Ukuran baju kamu sudah bertambah berapa x?"
Napasku mulai keluar masuk cukup kencang. Aku akhirnya mengerti apa yang ia katakan.
"Hanya satu x?" Aku menyadari jawabanku yang sontak membuat ia menahan tawa. Meski hanya satu x, itu sudah menandakan bahwa berat badanku jauh dari dia.
__ADS_1
"Dan hasilnya?"
Mata ini berkaca-kaca. Maksud dia aku semakin gendut tapi belum menunjukkan tanda-tanda hamil. Apa dia akan bilang kalau usahaku ini sia-sia?
"Kita lihat saja, akan bertambah berapa ukuran lagi demi menjalani hal yang percuma ini."
Sukses. Vina berhasil membuat tetesan air mata ini meluncur deras. Kini aku terisak dihadapannya.
"Aku sangat menghargai usaha Alma." Terdengar suara setelah suara pintu dibuka.
Rey muncul tepat dibelakang Vina.
"Demi bisa mengandung anakku, dia merelakan berat badannya naik dengan cepat. Kalau bukan Alma, aku tidak yakin ada wanita yang mau melihat tubuhnya membengkak dan tak indah lagi hanya demi mengandung."
Vina tak bisa berkata-kata. Sementara Rey mendatangiku dan merangkulku. Ia benar-benar datang di saat yang tepat.
Dengan wajah yang amat kesal, Vina melenggang keluar dari ruangan Rey. Tidak berhenti sampai di situ, Rey memegang tanganku untuk ikut mengejar Vina.
"Nona Vina. Saya rasa cukup sampai di sini kerja sama kita."
Vina membalikkan badan dengan wajah yang bercampur heran.
"Kenapa? Apa kamu mau membayar denda sesuai perjanjian yang kita buat?"
"Uang tidak masalah untukku. Tapi, bicaramu yang sudah keterlaluan menyakiti Alma, tak bisa aku toleransi."
Vina semakin kesal. Ia menghentakkan satu kakinya dan meninggalkan kantor.
Perkataan Rey sungguh bisa membuatku tenang. Aku tak menyangka ia bisa berkata demikian terhadap Vina.
"Apa kamu tak terlalu berlebihan, Rey?"
Dia tersenyum. "Apa perkataanku menyakitkan?"
"Enggak. Cuma kurang gereget aja. Kalo di film, pasti udah di cut."
"Tapi, akting-ku lumayan, kan?"
"Jadi, kamu akting?" Aku melipat lengan di depan.
"Hei, kamu bilang aku kurang gereget."
Aku tersenyum dan mencium pipinya lalu berlari masuk kembali ke ruangan suamiku. Sedikit bersenda gurau menunggu senja tiba. Karena perut sudah keroncongan, aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
Mungkin karena hatiku hari ini bercampur aduk rasanya, namun, masih banyak rasa bahagia. Aku memutuskan untuk membantu Bik Ningsih menyiapkan makan malam.
"Bu, bukannya Ibu lebih suka sambal terasi dibanding sambal matah? Tapi, saya lihat beberapa hari Ibu makan sambal matah terus? Apa jangan-jangan Ibu hamil?"
Benar juga. Tapi, apa iya kalau aku hamil?
Bersambung...
Yuk like dan vote. 😊😊
__ADS_1