
Nit... nit...
Nit... nit...
Nit... nit...
Ponsel yang sengaja kupasang alarm jam lima subuh sudah berbunyi. Karena aku masih mengantuk akibat semalam tidur cukup larut, aku mengambil ponsel dan mematikannya lagi dan meletakkannya kembali di atas laci kecil sebelah ranjang.
Tadi malam, Rey, kan tidur di sini.
Seketika aku bangun dan melihat keadaan sekitar.
Mana Rey? apa kemarin aku bermimpi?
Aku melihat bajuku.
Masih rapi seperti kemarin. Beranikah kau melihat seprei? Jeng.. jeng.. jeng.. Bersih. Apa ini, tidak seperti harapanku.
Setelah merasa tak mengantuk aku turun menuju toilet untuk berwhudu dan salat.
Setelah selesai, aku keluar menuju dapur dan berhenti di depan kamar Rey.
Apa Rey belum bangun? Pegang gagang pintu dan mencoba membukanya.
Dikunci. Huh, resek.
Sedikit rasa sebal membuka hariku, tapi aku harus terima keadaan ini dengan iklas. Walau bagaimanapun, aku sudah menikah dengannya. Sudah sepantasnya aku melayaninya.
Aku pun membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa sayur dan telur di sana. Lalu memulai masak.
Aku yang tengah sibuk dengan penggorengan di dapur, Rey datang sambil mengucek matanya lantas mengambil air minum. Aku memandanginya sejenak yang sedang meneguk air putih.
"Sudah bangun, suamiku," sapaku sambil melihatnya.
Dia hanya menautkan alisnya sedikit tanpa berkata apa-apa, lalu pergi begitu saja.
Bagaimana cara agar aku bisa membuatnya tersenyum? Auk ah. Lanjut masak.
Setelah sarapan siap, nampak Rey datang dengan pakaian rapi dan wangi. Aku sejenak mencium aroma parfum yang ia kenakan. Sangat wangi khas dengan Rey yang tinggi, tampan, dan juga pintar.
Hem, wanginya.
"Rey, nanti kamu akan kemana?" tanyaku sambil menyiduk nasi goreng dan menyerahkannya.
"Aku akan pergi ke toko buku. Papa belum mengijinkanku bekerja hari ini."
"Aku ikut," pintaku.
Rey diam sambil mengunyah nasi goreng pagi ini. Setelah dirasa lama tak ada jawaban, aku coba membujuknya kembali.
"Ayolah, Rey." Sambil mengedipkan mata.
"Oke," jawabnya singkat.
Setelah sarapan usai, aku dan Rey berangkat menuju toko buku yang dia maksud. Tak ada obrolan di dalam mobil, hanya bunyi jangkrik yang tiba-tiba terdengar di telingaku. Aku memandang Rey yang hanya sibuk menyetir.
__ADS_1
Harus ngomong apa di saat-saat begini?
"Rey, kamu inget nggak waktu dulu pas aku baru masuk SMA. Yang kulihat pertama kali itu kamu Rey."
Namun Rey masih diam. Aku lantas menunduk saja dan melihat cincin yang tersemat indah di jari manis.
Apa pernikahan ini sebuah kesalahan?
Mobil berhenti di sebuah toko buku terbesar di kota Jakarta. Banyak orang berlalu-lalang di sana. Aku turun dan mengikuti Rey. Kaki jenjangnya, mambuat ia berjalan cukup cepat dibandingkan aku. Aku cukup kewalahan mengiringinya.
Saat berjalan masuk, aku terperangah dengan deretan buku yang tertata rapi di rak. Setelah sadar Rey semakin jauh, aku lantas mengejarnya dan menggandeng tangannya. Seperti biasa, Rey diam dan menatapku sejenak.
Ia sibuk memilih-milih buku. Mataku dikejutkan oleh sosok gadis cantik yang tiba-tiba memanggil Rey.
"Rey," sapa gadis itu. Aku dan Rey menoleh ke belakang bersamaan dan melihat dia.
"Vina?"
Gadis itu berlari kecil dan menghampiri kami.
"Hai." Vina tiba-tiba saja memajukan kepalanya berharap mendapat ciuman dari Rey. Reflek tanganku memegang lengan Rey, agar mereka tak berciuman.
Enak aja main cium-cium. Ini, kan udah jadi suami aku.
Rey dan Vina menatapku. Tatapan datar Rey, dan tatapan aneh Vina. Rey langsung melepas tanganku dari lengannya.
Vina melihat kami dan jemarinya menutupi mulut karena menahan tawa.
"Rey, kamu sedang mencari apa?" tanya gadis itu.
Nyari bukulah, masa iya nyari semen ke sini.
"Jalan-jalan aja. Bosan di rumah," kata Rey sedikit tersenyum.
Vina menatap Rey penuh senyuman.
Aku yakin, pasti mereka ada apa-apa. Nggak mungkin kalau cuma sahabat, karena tatapan Vina nggak beralih sedikitpun dari Rey.
Aku melipat tanganku di depan dada dan mendengarkan mereka bercakap-cakap.
"Oh, ya, Rey. Aku pulang dulu, ya. Udah dapet, nih, bukunya." Ia menunjukkan sebuah buku yang dipegangnya.
Siapa juga yang nanya. Aku memanyunkan bibir dan membuang muka.
Rey langsung berlalu ketika gadis itu tak terlihat lagi oleh kami. Ia kembali melihat-lihat buku dan mengambil tiga buah buku.
Rey berjalan ke kasir untuk membayar bukunya.
"Iya, bisa dibantu Kak," sapa gadis penghuni kasir.
Rey hanya diam dan menyerahkan buku, lalu mengambil kartu ATM dari dompet coklatnya. Ia pun menyerahkan kartu ATM kepada gadis itu.
Si gadis tak beralih pandangannya sedikitpun dari Rey sambil tersenyum lebar.
"Em, Kakak sudah punya pacar? tanya gadis itu.
__ADS_1
"Minta nomor WA-nya dong," tambahnya.
Semua pertanyaan bahkan tak digubris sedikitpun oleh Rey. Aku yang mulai merasa panas pun maju dan menghampiri Rey.
"Suamiku, kenapa lama? Apa sedang mengantri? Oh ternyata enggak," kataku berbasa-basi sambil melirik kasir itu.
Kelopak mata gadis kasir itu sontak melebar saat aku menghampiri Rey. Terlihat dia sedikit terkejut terlebih saat aku mengucap kata suamiku.
Raut wajah gadis itu berubah 180 derajat dan bersikap cuek kepada Rey. Sementara aku merasa puas telah mematahkan hatinya.
Aku tersenyum jahat memandangi gadis itu. Bahkan ia tak mau memberikan buku dan kartu ATM Rey kembali. Ia hanya meletakkannya di atas meja dan menyeretnya di depan Rey.
Rey tetap tak tersenyum dan bersuara.
"Ayo suamiku." Aku kembali tersenyum jahat dan menggandeng Rey sampai di dekat mobil.
"Rey." Aku melihatnya.
"Coba jujur, Rey. Vina itu siapa?"
"Apa urusannya Vina denganmu?" Rey balik bertanya kepadaku sambil sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Apa tidak bisa kau berkata jujur, Rey?"
Raut wajah Rey nampak gusar. Ia sedikit menahan emosinya kepadaku.
"Vina adalah teman dekatku dulu, di Amsterdam. Lebih tepatnya mantan teman dekat kini."
Sudah kuduga, Vina bukan hanya teman biasa Rey. Dia punya tempat sendiri di hati suamiku.
Aku menghela nafas panjang dan memandang cincin ini.
Jadi, akulah batu penyandung di antara hubungan Rey dan Vina.
Aku memandang keluar jendela. Karena rasa bersalahku membuat bibir ini diam dan tak bisa berkata apa-apa.
Mungkin saja, bila aku tak menerima lamaran Rey, mereka akan menikah.
"Papa tak menyukai Vina," jelas Rey.
Sontak aku memandang lekat suamiku dan bertanya, "Kenapa?"
"Vina seorang kristiani. Papa tak ingin kalau aku berpindah keyakinan. Ia takut aku akan melupakannya."
Haaa, lega. Berarti bukan sepenuhnya kesalahanku.
"Rey, tolong antar aku ke toko elektronik."
"Mau cari apa?"
"Speaker bluetooth, Rey."
Ia mengerutkan alisnya.
"Bosan Rey di rumah."
__ADS_1
Rey hanya mengangguk kecil.
Bersambung...