My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Mencari Seseorang


__ADS_3

Nyatanya, kejutan kecil di kantor malam ini membuatku sejenak melupakan masalah yang melanda beberapa hari ini. Aku berdiri di hadapan teman-teman dan mengucapkan beberapa kata untuk berterima kasih.


"Ehem. Saya Almaira Syafitri mengucapkan terima kasih untuk teman-teman semua karena sudah mau berpartisipasi membuat kejutan ini untuk saya. Saya merasa sangat beruntung karena memiliki teman-teman yang begitu baik seperti kalian semua. Di umur saya ke-26 ini, mudah-mudahan saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan ... ." Perkataanku terputus sejenak.


"Bisa segera mendapatkan momongan," sambungku.


Raut wajah rekan kerjaku sedikit tertekuk. Terkhusus teman wanita seperti merasakan apa yang aku rasakan.


"Sabar, ya, Alma," sahut Suci.


Aku mengangguk pelan. Mata ini sudah berkaca-kaca. Kini, perasaan sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Hem, udah deh. Lanjut makan aja. Sayang, nih. Kue kalo dianggurin."


Dengan wajah masih tercoreng beberapa krim, aku lanjut memakan sisa kue yang masih utuh. Air mata ini tak dapat aku tahan. Dona menghampiriku dengan membawa kursi miliknya.


"Kenapa nangis?"


"Aku seneng, Don. Aku nggak nyangka kalian bisa ingat hari ulang tahunku." Sambil terisak.


"Sebenarnya, kami gak tau hari ulang tahunmu, Al."


Aku melihat Dona yang tengah menyuapkan kue ke mulutnya.


"Maksud kamu?" tanyaku.


"Yang punya ide ini semua adalah Pak Rian."


Kleting...


Garpu kecil itu jatuh dari tanganku. Aku menahan napas sejenak dan tak berkedip beberapa detik ini.


Tanpa berkata apa-apa, aku bangkit dan berlari membuka pintu ruangan Rian. Tapi, aku tak mendapati dia di sana.


"Kamu cari Pak Rian, Al?" tanya Dona.


Aku mengangguk. "Iya."


"Aku tadi lihat dia duduk di taman."


Setelah mendengar Rian ada di taman, aku langsung berlari keluar. Menaiki lift agar lebih cepat sampai. Aku kembali berlari cepat dan melihat seseorang tengah duduk sendirian di taman.


Aku berjalan perlahan sambil mengatur napas ini. Di kegelapan malam, hanya tampak kepalanya saja dari belakang.

__ADS_1


"Pak," sapaku sedikit ragu-ragu.


Ia menoleh cepat ke arahku yang berada di sampingnya.


"Duduk," tawarnya.


"Tidak, Pak. Terima kasih. Saya berdiri saja," balasku.


Bukan apa-apa. Tempat duduk itu cukup sempit untuk di duduki berdua. Tentu saja aku merasa tak nyaman bila memaksakan diri duduk di sana.


"Kalau begitu saya berdiri juga."


Pak Rian bangkit sambil membenahi jasnya. Mendadak aku tak berani menatap mata lelaki ini. Rasa tak enak hati masih terbesit dipikiranku.


"Selamat ulang tahun, Alma," ucapnya.


"Terima kasih, Pak." Aku menunduk kembali.


"Ini." Rian memberiku sebuah kotak.


Dengan ragu, aku menerima kotak itu.


"Jangan dibuka di sini, ya. Dan kalau bisa, buka itu waktu kamu sendirian aja."


"Hem. Baiklah."


Aku berjalan cepat meninggalkan Rian sendiri di halaman kantor. Saat memasuki lift, aku menatap lama kotak berwarna merah muda dengan pita berwarna perak ini.


**


Aku duduk di tempatku bekerja. Aku tak menyadari Dona masih berada di sana karena begitu fokus terhadap kotak ini.


"Waw, apa itu?" tanya Dona.


Ia langsung mengambil kotak dari atas meja setelah aku meletakkannya. Dona juga mengkocok-kocok isinya. Ia pun sama penasarannya sepertiku.


"Aku buka, ya." Sejenak Dona menarik pita dan hendak membuka kotak itu, tapi, aku segera merebut kotak itu dari tangannya dengan cepat.


"Jangan! Rian, menyuruhku membukanya di rumah saja." Dona mengangguk mengerti.


"Baiklah. Kira-kira, apa, ya, isinya?"


"Hem. Tak tau."

__ADS_1


**


Kini aku di sini, di dalam mobil. Tepat jam sebelas malam, semua pekerjaan telah selesai. Aku masih memegangi kotak ini. Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai di rumah dan membukanya.


Rian itu memang romantis, perhatian. Ia memberiku kado dan menyuruh rekan kerjaku membuat kejutan. Ketika Rey sama sekali tak mengucapkan apa-apa. Pagi ini, ia bahkan berangkat pagi-pagi sekali karena tak ingin bertemu denganku. Sepertinya, sangat tak mungkin bila aku berharap ucapan darinya. Apalagi kado seperti ini.


"Pak. Kita jangan berhenti di depan gerbang. Nanti Bapak dengar mobil ini. Saya tidak mau dia terbangun."


"Baik, Buk."


**


Mobil berhasil masuk ke garasi dengan bantuan aku dan Pak Joni. Meski sedikit lelah karena mendorong mobil, setidaknya aku tak mengganggu tidur Rey.


Perlahan, aku membuka pintu dengan kunci yang ditinggalkan Bik Ning di bawah pintu. Masuk dengan mengendap-endap seperti maling. Salah siapa Rey berangkat pagi sekali, aku jadi tak meminta izin kepada Rey untuk lembur malam ini.


Aku terkejut saat melihat Rey sudah tertidur di depan tivi yang menyala. Aku tatap wajah lelah itu. Wajah lelaki yang amat aku sukai saat SMA dulu. Wajah yang jarang tersenyum.


Aku melanjutkan langkah menuju kamar. Menutup pintu dengan perlahan. Meletakkan tas di atas meja riasku, lalu menjatuhkan diri di atas ranjang. Sungguh hari yang lelah.


Tiba-tiba aku teringat dengan kado Rian. Segera kau bangkit dan mengambil tas. Sebelum aku kembali ke ranjang, tak lupa aku mengunci pintu terlebih dulu. Berjaga-jaga apabila Rey menerobos masuk.


Dengan antusias aku menarik pita cantik berwarna perak, lalu membuka kotaknya perlahan. Ternyata, ada kotak perhiasan berwarna perak juga di dalamnya. Ukurannya agak kecil dibanding kotak luar. Aku lantas membuka kotak perak yang cukup berkilau ini.


Aku terkejut dan meletakkan jariku di depan bibir yang kini tengah menganga. Aku mengambil cincin berlian yang pernah aku coba. Memakainya di jariku. Tampak sangat cantik sekali. Tapi, aku melepaskannya kembali. Ini kado yang amat mahal untukku. Jelas saja, tak mungkin Rian memberiku ini begitu saja tanpa bermaksud apa-apa.


Setelah aku melihat kembali ke kotak pertama, aku mendapati secarik kertas kecil di bawah kotak perak ini.


Aku mengambilnya dan langsung membaca isi kertas itu.


Almaira Syafitri.


Wanita yang manis saat pertama kali aku melihatmu. Wajahmu, sangat mirip dengan mendiang istriku. Ia juga pandai bernyanyi, sama sepertimu. Saat aku mendengar suaramu di pesta itu, aku langsung jatuh cinta denganmu. Namun, sayang. Hati ini merasa hancur saat aku mendapati kau sudah bersuami.


Aku tak bermaksud jahat karena merusak rumah tangga teman satu kampusku di Amsterdam. Hanya saja, aku tak bisa menahan perasaan ini lebih lama. Aku tau, apa yang aku lakukan ini adalah salah. Tapi, aku akan merasa lega bila kamu tau isi hatiku yang sebenarnya.


Aku sangat berharap kamu bisa memakai cincin ini dan melepaskan cincin kamu yang lainnya. Tapi, bila kamu menolak, aku tidak akan membencimu. Mungkin aku harus sadar diri kamu sudah bersuami.


Aku meremas-remas kertas itu. Mengambil korek api dan membakarnya di lantai kamarku. Rian menyukaiku sudah cukup lama. Tapi, jelas aku paham, apa yang ia lakukan ini adalah sebuah kesalahan.


Bersambung....


Yuk bantu vote dan like. 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2